
BUGH.
Brayen melayangkan satu pukulan tepat di pelipis Raymond. Devita dan Laretta menjerit ketika pukulan demi pukulan Brayen berikan pada Raymond. Tidak hanya diam, Raymond membalas pukulan Brayen. Pukulan pertama berhasil di layangkan di wajah Brayen, namun pukulan kedua berhasil di tepis oleh Brayen. Angkasa berusaha untuk memisahkan, namun Brayen meminta Angkasa untuk tidak ikut campur.
"Brayen berhenti!" Teriak Devita dengan kencang.
"Kakak berhenti!" Laretta berteriak, dia berharap Brayen menghentikkan perkelahian itu.
Tidak lama kemudian, beberapa wartawan yang melihat Brayen dan Raymond berkelahi langsung mengambil gambar Brayen yang terus menghujam pukulan di wajah Raymond.
Olivia dan juga Felix yang melihat keributan, mereka terkejut melihat Brayen yang menghajar seorang pria.
"Astaga, pria itu." gumam Olivia saat mengenali pria yang di hajar oleh Brayen.
"Brayen berhenti!" Seru Felix. Dia hendak ingin memisahkan Brayen dan pria yang di hajar oleh Brayen. Namun, Olivia menahan lengan Felix.
"Ada apa Olivia? Aku harus memisahkan Brayen. Jika tidak, pria yang di hajar Brayen akan mati!" Tukas Felix.
"Biarkan saja, pria itu harus mendapatkan pelajaran. Pria itu adalah pria yang selalu menganggu Devita." ucap Olivia sambil menatap Brayen yang terus memberikan hujaman dan pukulan pada pria itu. Olivia melipat tangannya di depan dada, dia senang karena Brayen memberikan pelajaran kepada pria itu. Terlebih terlihat jelas, pria yang menggangu Devita itu tidak mampu berkutik saat Brayen terus melayangkan pukulan.
"Brayen, lebih keras lagi! Dia pantas mendapatkannya!" Seru Olivia memberikan semangat untuk Brayen.
Laretta dan juga Devita sama - sama mendelik menatap Olivia yang bersorak meminta Brayen tidak menghentikkan perkelahian.
Felix membuang napas kasar. "Aku tidak ingin sepupuku bermasalah dengan polisi."
Angkasa dan juga Felix melangkah maju, mereka memisahkan perkelahian Brayen dan juga Raymond. Karena kilatan kamera terus mengarah ke Brayen dan juga Raymond.
"Raymond!" Davin yang baru saja tiba, dia tersentak melihat Brayen dan Raymond berkelahi.
"Ada apa ini Raymond? Masalah apalagi yang sudah kau lakukan?" seru Davin dengan penuh kemarahan pada Raymond.
"Bukan aku yang memulai! Tapi pria yang terhormat itu yang memulai!" Tukas Raymond menunjuk ke arah Brayen. Dia menyentuh sudut bibirnya yang terus mengeluarkan darah.
"Sialan! Karena kau yang berani menganggu istriku!" Seru Brayen meninggikan suaranya.
"Brayen..." Devita melangkah mendekat, dia langsung memeluk suaminya. "Sudah Brayen, jangan berkelahi lagi."
"Aku ingatkan sekali lagi padamu, jika kau berani mengganggu istriku maka dalam hitungan detik, bersiaplah aku akan menghancurkanmu!" Peringat Brayen tajam. Tatapannya terus menatap dingin Raymond.
Kemudian Brayen langsung menarik tangan Devita, berjalan meninggalkan kerumunan. Hal yang tersulit adalah menghindari para wartawan yang meminta keterangan pada Brayen. Felix dan Olivia, Angkasa dan juga Laretta juga berjalan mengikuti Brayen dan Devita. Mereka di kerumuni oleh para wartawan, hingga akhirnya pengawal dari Brayen dan pengawal dari Angkasa, menahan para wartawan yang menganggu mereka.
Sepanjang perjalanan suasana hening di dalam mobil. Devita melirik ke arah Brayen yang lebih memilih untuk melihat keluar jendela. Devita tidak berani mengeluarkan kata - kata. Sejak tadi Brayen menarik Devita keluar dari pesta pertunangan Davin, suaminya itu tidak mengatakan apapun. Bahkan Devita pun tidak berani berbicara pada Brayen yang lebih dulu. Devita sengaja memilih diam, dia ingin Brayen mengendalikan amarahnya terlebih dulu.
Saat masuk kedalam kamar, Brayen tidak memperdulikan Devita yang memanggil dirinya. Devita melepaskan sepatunya dan dengan cepat Devita langsung menahan lengan Brayen.
"Tunggu Brayen, aku bisa menjelaskan." Devita terus menahan lengan Brayen, tidak ada waktu lagi. Devita harus menjelaskannya malam ini juga. Karena Devita tidak ingin suaminya itu semakin salah paham dengannya.
Brayen melayangkan tatapan dingin pada Devita. "Penjelasan apalagi yang ingin kau katakan?Kenapa kau tidak memberitahuku, kalau pria sialan itu selama ini sudah menganggumu! Apakah kau sangat menikmati bisa di ganggu oleh pria sialan itu?"
Suara Brayen terdengar begitu tajam, tersirat penuh amarah. Brayen berusaha mengendalikan emosinya di hadapan istrinya itu.
Devita mendesah pelan, dia melangkah mendekat ke arah Brayen. "Maaf, aku bukannya tidak ingin menceritakannya kepadamu. Aku sudah berkali-kali mengusirnya Brayen. Tapi dia terus mengangguku. Aku tidak ingin kau berkelahi dengannya. Itu kenapa aku tidak bilang padamu."
"Kau lihat tadi? Dan pada akhirnya aku berkelahi dengannya!" Tukas Brayen dingin. "Sekarang katakan padaku, dimana kalian bisa bertemu? Dan kenapa aku tidak tahu?!"
Devita terdiam sebentar, hingga kemudian dia berkata, "Pertama kali aku bertemu lagi dengannya saat aku membeli hadiah jam tangan untukmu. Toko jam yang aku datangi ternyata miliknya. Aku sungguh tidak tahu, lalu saat kau di Madrid, aku datang ke kampus untuk bertemu dengan dosenku. Pria itu juga ternyata lulusan dari universitas yang sama denganku."
"Dan malam ini sebenarnya aku sudah tahu dia pasti ada. Karena sebelumnya aku sudah mendengar, dia adalah Kakak dari Davin. Tapi aku sama sekali tidak menyangka dia berani mendekatiku, Brayen. Aku sungguh minta maaf tidak memberitahumu."
Devita menundukkan kepalanya, setelah mengatakan semuanya pada Brayen, sekarang hatinya jauh lebih tenang. Paling tidak, dia sudah menjelaskan. Devita tidak ingin ada kesalahpahaman.
"Kau sejak dulu tahu, aku itu tidak suka jika kau menutupi sesuatu dariku Devita." Brayen menatap Devita dengan tatapan yang kecewa. Dia tidak suka, jika istrinya itu menutupi sesuatu darinya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuang waktumu untuk mengurus pria itu. Terlebih saat itu kau juga di Madrid, kau sudah di pusingkan dengan pekerjaanmu. Aku tidak ingin membuatmu tidak fokus dengan pekerjaanmu," jelas Devita.
Brayen melangkah mendekat, dia menarik dagu istrinya. "Kau sangat tahu, kau jauh lebih penting dari apapun. Aku tidak suka jika kau menutupi sesuatu apapun dariku Devita. Harusnya kau itu cerita padaku jika ada yang menggangu mu."
"Maaf..." mata Devita berkaca-kaca, air matanya mulai berlinang membasahi pipinya.
"Aku tidak suka jika kau menangis, jangan menangis." Brayen menarik tangan Devita, membawanya kedalam pelukannya. Dan mengusap lembut rambut panjang istrinya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.