
"Sudahlah, jangan membahas masalah itu. Aku ingin bertanya apa rencanamu yang selanjutnya? Aku harap kau berhati - hati dengan proyek barumu nanti. Aku juga selalu mendoakanmu agar segera bersatu dengan Laretta," kata Devita.
" Terima kasih Devita, kedepannya aku berjanji akan lebih berhati-hati Devita. Aku juga tidak ingin menikah dengan Laretta saat perutnya sudah membesar. Aku ingin menemani Laretta di masa kehamilannya." ujar Angkasa, ia memang ingin segera menikahi Laretta. Ia tidak ingin saat menikah nanti perut Laretta yang sudah membesar.
Devita tersenyum, aku senang mendengarnya aku sudah tidak sabar mendapatkan keponakan dari kalian.
"Terima kasih, Devita." ucap Angkasa.
"Devita, kau sebentar lagi lulus bukan?" tanya Angkasa.
"Ya, sebentar lagi aku lulus. Beruntung, aku bisa menyelesaikan semua mata kuliahku. Jadi tidak harus menunggu satu tahun lagi." kata Devita.
"Sejak dulu kau memang cerdas, apa kau akan langsung mengambil master?"
"Sepertinya untuk sekarang aku belum berniat untuk melanjutkan master. Mungkin dua atau tiga tahun lagi aku akan melanjutkannya."
"Jadi, kau akan memimpin perusahaan keluargamu?"
Devita mengangguk. " Aku tidak memiliki pilihan lain,"
"Harusnya kau merasa sangat beruntung, Devita. Aku juga yakin perusahaan keluargamu akan menjadi lebih hebat di bawah kepemimpinanmu."
"Terimakasih kasih, aku berharap aku juga tidak mengecewakan kedua orang tuaku."
"Hem Angkasa, aku harus pergi. Aku ingin menemui Brayen." pamit Devita.
"Hati - hati Devita, terima kasih untuk waktumu." balas Angkasa.
Devita tersenyum, lalu beranjak untuk meninggalkan Angkasa dan langsung menuju ke perusahaan Brayen.
...***...
Devita melangkah masuk kedalam perusahaan milik Brayen, ia langsung menuju ke lift pribadi yang sering di pakai oleh Brayen. Devita berharap Brayen tidak memiliki jadwal meeting hari ini. Devita sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Brayen. Ia ingin segera meminta maaf. Sebenarnya Devita sangat senang karena Brayen mau membantu Angkasa, kini Devita bisa bernafas lega, karena Laretta, adik iparnya tidak perlu lagi merasa khawatir karena masalah Angkasa.
Ting.
Pintu lift terbuka, Devita melangkah keluar dari dalam lift. Ia langsung berjalan menuju ruang kerja Brayen. Raisa, sektretaris Brayen langsung berdiri dan menundukkan kepalanya saat melihat Devita datang. Raisa tidak mungkin menghalangi Devita, karena sekarang Raisa sudah mengetahui Devita adalah istri dari atasannya.
"Brayen," suara Devita memanggil Brayen dengan lembut, saat masuk kedalam ruang kerja Brayen.
Brayen yang sedang membaca berkas yang di berikan oleh Albert, ia menoleh dan melihat ke arah pintu. Senyum di bibirnya saat melihat ternyata istrinya datang ke perusahaannya.
Devita berjalan mendekat ke arah Brayen, dia langsung duduk di pangkuan Brayen. Melihat Devita langsung duduk di pangkuannya, Brayen langsung membenarkan posisi duduk Devita agar lebih nyaman.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Devita pelan.
Brayen menggeleng, ia mengelus pipi istrinya. " Tidak sayang, kau tidak mengangguku." jawab Brayen.
"Hem Brayen, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Devita.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Brayen ia menatap lekat wajah istrinya.
"A...Aku ingin minta maaf padamu." ucap Devita ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Brayen.
Brayen menarik dagu Devita, dan kini mata mereka saling beradu pandang. "Kenapa kau yang meminta maaf?"
"Aku sudah marah padamu saat kau tidak mau membantu Angkasa. Tapi aku sudah tahu semuanya dari Laretta. Kau menginvestasikan uangmu ke perusahaan milik Angkasa. Maaf, karena sudah tidak mempercayaimu, harusnya sudah sejak awal aku mempercayaimu dan tidak pernah meragukanmu." ucap Devita merasa bersalah.
"Jadi kau datang kesini karena ingin meminta maaf?" tanya Brayen, ia menatap lekat wajah istrinya itu yang terlihat begitu merasa bersalah.
Devita mengangguk, " Ya Brayen. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah meragukanmu lagi.
"Eh? Tidak menyukainya? lalu aku harus bagaimana?" tanya Devita dengan suara polosnya
"Seperti ini," Brayen menarik dagu Devita mencium dan ******* dengan lembut bibir Devita. Tangan kanannya meremas dada hingga membuat Devita melenguh.
"Kau harus menciumku, jika ingin meminta maaf," bisik Brayen tepat di bibir Devita.
Devita mendengus kesal, " Kau ini, selalu mencari kesempatan Brayen!"
"Kau selalu menggemaskan, padahal kita sudah sering melakukannya." bisik Brayen, ia terus mengucupi leher Devita.
"Brayen geli! Hentikan, ini di kantormu," gerutu Devita.
"Berarti jika bukan di kantor kau mau, Hem?" goda Brayen.
Devita mencebik, " Jangan macam - macam Brayen! Aku menyesal sudah minta maaf padamu! Menyebalkan, harusnya aku marah padamu saja! Kau ini berangkat di pagi hari lebih dulu dan pulang saat aku sudah tertidur lelap. Aku ingin bertanya padamu, apa kau ini petugas kebersihan datang ke kantormu pagi - pagi?" seru Devita kesal.
Brayen mengulum senyumannya, berusaha menahan tawanya. Bagaimana bisa istrinya berpikir dia petugas kebersihan. Brayen menggeleng pelan, tidak menyangka istrinya akan mengeluh seperti ini.
"Jadi ternyata kau merindukanku?" tanya Brayen yang sengaja menggoda Istrinya.
"Siapa yang merindukanmu? Tidak, aku tidak merindukanmu! Aku hanya ingin bertanya apa kau ini petugas kebersihan. Datang di pagi hari " bantah Devita.
Brayen terkekeh geli, dia sudah tidak bisa untuk menahan tawanya. Ia langsung menempelkan hidungnya ke hidung istrinya. "Jika aku petugas kebersihan, aku tidak akan mampu membayar tagihan kartu kredit mu yang banyak itu,"
"Kau berlebihan! Banyak darimana! Aku tidak pernah boros!" Seru Devita yang tidak terima apa yang di katakan oleh suaminya.
Brayen memeluk pinggang Devita, mengecup leher Istrinya itu, "Maaf, belakangan ini aku sibuk. Weekend ini kita akan menghabiskan waktu bersama," bisik Brayen.
Devita tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia. "Benarkah? Weekend ini kau tidak akan bekerja?"
"Tidak, kita akan menghabiskan waktu bersama," balas Brayen. Ia mengelus dengan lembut pipi Istrinya
"Ya sudah, sekarang temani aku makan, aku lapar," ucap Devita.
"Kau belum makan?" tanya Brayen.
"Sudah, tapi aku lapar lagi." jawab Devita.
Brayen menggeleng pelan dan tersenyum. " Kau ingin makan di luar atau aku meminta Albert membawakan makanan untuk kita?"
"Aku ingin makan di luar Brayen, aku bosan makan di sini." keluh Devita.
"Baiklah, kita makan di luar. " Brayen membantu Devita berdiri, lalu kini berjalan meninggalkan ruang kerja Brayen.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author. Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.