Love And Contract

Love And Contract
Keadaan Olivia Dan Perasaan Felix



Devita terus bergerak saat dirinya masih tertidur, keringat membasahi keningnya. Devita berteriak kencang dan langsung membuka matanya. Brayen yang baru saja masuk mendengar teriakan dari istrinya, dan dia pun langsung berlari masuk ke dalam.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Brayen, dan duduk di tepi ranjang, di mengambil tisu di atas meja dan menghapus keringat di kening Devita.


Napas Devita memburu, di menatap sekeliling dirinya masih di rumah sakit. "Brayen, aku mimpi buruk." raut wajah Devita langsung berubah ketakutan. Brayen mendekat dia menarik pelan tangan Devita dan membawanya kedalam pelukannya.


"A...Aku takut Brayen." kata Devita lirih, dia membenamkan wajahnya di dada suaminya.


Brayen mengusap dengan lembut punggung istrinya, berusaha untuk menenangkan istrinya. "Aku di sini Devita.Jangan takut. Maaf, tadi aku keluar sebentar karena ada telepon. Aku tidak ingin kau terganggu. Tadi aku melihatmu tidur pulas."


Devita mengangkat wajahnya dari dalam pelukan Brayen. "Bagaimana dengan keadaan Olivia? Aku selalu cemas pada Olivia. Aku tidak bisa tenang jika belum melihatnya, Brayen."


"Olivia baik - baik saja, sayang. Aku sudah mengatakan padamu, jangan memikirkan yang lain. Aku ingin kau hanya memikirkan kandunganmu." balas Brayen mengingatkan.


"Brayen dengarkan aku. Tadi aku bermimpi. Aku bermimpi di sebuah taman yang sangat indah. Aku melihat Olivia duduk di taman. Wajahnya sangat pucat. Saat aku menghampiri Olivia. Dia mengatakan dia baik - baik saja. Olivia juga bilang dia tidak menyesal melakukan semua ini. Dia juga bilang, tidak masalah jika dirinya harus sakit asal melihatku senang. Dia juga bilang-" Devita tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Air mata berlinang membasahi pipinya. Mimpi yang begitu buruk membuatnya tidak mampu untuk mengatakannya.


"Sssst, aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Aku sudah mengatakan berkali-kali padamu. Jangan memikirkan apapun. Mimpi itu hanya bunga tidur Devita. Tidak akan pernah menjadi kenyataan. Jika itu mimpi buruk kau harus segera melupakannya." kata Brayen, dia terus mengelus lembut punggung istrinya.


"Aku ingin bertemu dengan Olivia! Aku ingin melihatnya! Aku tidak bisa tenang, jika belum melihat Olivia! Jangan menghalangiku Brayen!" Isak tangis Devita di dalam pelukan suaminya.


Brayen terdiam, dia sendiri tidak tahu harus sampai kapan menyembunyikan ini. Tapi Brayen tidak mungkin memberitahu Devita tentang kondisi Olivia yang belum juga sadar. Brayen tidak ingin membuat Devita terus - terusan merasa bersalah.


"Tidak sekarang Devita. Olivia masih dalam. pemulihan. Lebih baik kau beristirahat." ujar Brayen berusaha untuk membujuk istrinya itu.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku mau melihat Olivia sekarang! Aku mau melihatnya! Aku tidak bisa tenang, setiap aku tidur Olivia selalu datang di mimpiku! Pasti terjadi sesuatu pada Olivia! Aku mohon Brayen, aku ingin bertemu dengan Olivia. Aku ingin melihat kondisinya" isak tangis Devita semakin kencang.


Brayen mengurai pelukannya, dia menangkup kedua pipi Devita dan menatap lekat mata istrinya yang memerah itu. "Apa kau percaya padaku Devita? Apa pernah permintaanmu selama ini tidak aku turuti? Aku bahkan selalu menuruti segala keinginanmu, Devita. Kau tahu itu dengan baik, bukan?"


Devita terdiam mendengar ucapan dari Brayen. Kemudian Devita mengangguk pelan. "Aku hanya ingin melihat Olivia. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya. Di mimpi aku melihatnya begitu pucat, Brayen. Aku sangat takut."


"Aku berjanji, tidak akan terjadi apa - apa dengan temanmu," Brayen kembali memeluk erat Devita, mengecup puncak kepala istrinya.


"Lebih baik kau beristirahat," Brayen membawa tangannya mengelus lembut perut Devita. "Tidak baik jika wanita hamil menangis. Aku tidak ingin kau menangis lagi. Pikirkan kandunganmu Devita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita."


Devita mengangguk patuh, dia semakin membenamkan wajahnya di dada. "Maaf Brayen, aku hanya khawatir pada Olivia."


"Aku berjanji, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada temanmu. Sekarang lebih baik kau beristirahat." Brayen membantu Devita membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Brayen? Kau mau kemana?" tanah Devita.


"Ada yang harus aku urus. Laretta sebentar lagi datang, aku sudah memintamu untuk menemanimu." jawab Brayen.


Tidak lama kemudian Laretta datang. Sebelumnya memang Brayen sudah meminta Laretta untuk datang, Brayen pun langsung menitipkan Devita pada adiknya itu. Brayen mengecup kening Devita, kemudian berjalan keluar dari ruang rawat Devita.


...***...


"Albert, apa kau sudah mengurus Dokter yang aku minta?" tanya Brayen saat melihat Albert yang berada di depan ruang Devita.


"Sudah Tuan, siang ini kedua dokter dari Rusia dan Spain sudah tiba di kota B. Mereka akan langsung menangani Nona Olivia." jawab Albert. "Tuan, saya juga ingin memberitahu kondisi saat ini, Jika Gelisa terus berteriak sedangkan Lucia, bukti kejahatannya sudah di serahkan ke kepolisian. Dan kini polisi tengah memprosesnya."


Langkah Brayen terhenti saat melihat Felix bersimpuh di lantai tepat di depan ruangan Olivia dan dengan cepat Brayen melangkah mendekat ke arah sepupunya itu.


"Felix?" Brayen menunduk dan menepuk bahu Felix.


Felix menoleh dan tersenyum lirih pada Brayen. Sejak Olivia masuk ke rumah sakit, Brayen terus melihat Felix meneteskan air matanya.


"Olivia..." Felix menundukkan kepalanya, air matanya terus berlinang.


"Ada apa?" tanya Brayen.


"Keadaan Olivia sangat kritis. Dokter mengatakan kemungkinan Olivia akan selamat sangat kecil. Meski nantinya, mereka akan mengangkat rahim Olivia, belum tentu Olivia akan selamat." air mata Felix tidak mampu lagi tertahan. Bahkan Brayen bisa melihat tangis pilu sepupunya ini. Di depan Brayen ada kedua orang tua Olivia yang baru saja datang dan sudah mendengar perkataan dari Dokter. Ibu dari Olivia langsung pingsan saat mendengar perkataan dari Dokter. Para petugas medis datang dan membawa Ibunya Olivia yang pingsan.


"Wanitamu akan selamat Felix. Aku sudah katakan padamu tidak akan terjadi sesuatu padanya!" Tukas Brayen tegas.


Brayen melangkah mendekat ke arah Dokter yang baru saja selesai berbicara dengan orang tua Olivia. "Bagaimana keadaan Olivia?" tanya Brayen langsung.


"Tuan Brayen, luka Nona Olivia sangat parah. Beliau banyak memiliki luka dalam. Kemungkinan Nona Olivia selamat sangat kecil, Tuan. Kami akan berusaha semampu kami, Tuan. Tapi kami juga sudah mengatakan pada pihak keluarga untuk bisa menerima segala kemungkinan terburuknya." ujar Dokter itu menjelaskan keadaan Olivia.


"Dia harus tetap selamat! Kau tidak perlu melakukan apapun. Aku sudah mengirimkan Dokter dari Rusia dan Spain! Jangan lakukan operasi apapun! Jika sampai kau mengambil keputusan sendiri, aku bersumpah kau akan berhadapan denganku!" Peringat Brayen tajam.


Dokter itu mengangguk patuh. "Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."


Melihat Dokter itu pergi, Brayen kembali melangkah ke arah Felix yang masih bersimpuh di lantai. Brayen duduk tepat di samping Felix. Ini pertama kalinya Brayen melakukan hal ini. Meski Brayen sering bertengkar dengan Felix, tapi Felix tetap menjadi sepupunya.


"Tenangkan dirimu. Aku pastikan wanitamu itu akan baik - baik saja. Kau pegang perkataanku." tukas Brayen, dia menepuk bahu Felix.


"Aku tidak pernah merasa setakut ini dalam hidupku Brayen. Aku tidak perduli jika Olivia tidak memiliki anak sekalipun. Aku mencintainya dengan segala kekurangan yang dia miliki. Bagiku saat ini, keselamatan Olivia adalah yang paling utama. Aku tidak perduli jika aku menikah dengannya dan aku tidak bisa memiliki anak. Melihat Olivia berada di sisiku, sudah lebih dari cukup."


Brayen terdiam mendengar ucapan dari Felix. Dia sangat memahami perasaan Felix, karena memang Brayen juga merasakan itu pada Devita Istrinya.


"Dia akan selamat. Kau tenangkan dirimu." Brayen kembali berusaha menenangkan sepupunya itu.


...****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.