
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Hari Selasa ini si kembar libur sekolah tapi Adit dan Dinda sangat sibuk mereka mempersiapkan ulang tahun papanya.
Semua keluarga mama Ina maupun keluarga Pak Eddy diundang, begitu pun beberapa karyawan yang dekat dan mempunyai jabatan penting misalnya Shindu dan five little star juga Bagas dan istrinya dan beberapa orang lainnya.
“Kok Dinda sama Adit enggak ke kantor,” tanya Eddy pada Shindu. Eddy bingung hari ini anak dan menantunya tak ada di kantor sana sekali padahal si kembar tak sekolah. Biasanya kalau si kembar tak sekolah, jam 9 Dinda sudah tiba di kantor.
“Katanya mereka berdua ke Bekasi Pak.” Jawab Shindu sesuai skenario yang Dinda buat.
“Tapi kok enggak bilang saya ya?” tanya Eddy selanjutnya. Eddy bingung sendiri karena Dinda tak pernah seperti ini.
“Saya pikir mereka sudah lapor Bapak,” balas Shindu.
“Enggak tuh, mereka enggak bilang bahwa akan ke Bekasi.”
“Ada beberapa barang dari Australia turun Pak. Pesanan yang berikutnya sejak bu Dinda pulang. Jadi Bu Dinda langsung berangkat ke Bekasi.”
“Wah hebat. Wah hebat perkembangan usahanya Dinda sekarang. Dia selain belanja Australia juga sudah belanja Singapura, selain yang online. Semuanya sudah dia cover. Pesanannya terus bertambah tiap hari,” kata Eddy.
“Itulah makanya tadi mereka berangkat Pak. Saya pikir mereka sudah lapor Bapak,” kata Shindu.
“Enggak sih mereka enggak lapor. Ya sudah berarti nanti makan siang kamu temani saya ya,” jawab Eddy.
“Makan siang sudah dipesankan Bu Dinda Pak, nanti orang dari rumah bawain buat Bapak. Bapak enggak boleh pesan di kantin begitu pesan bu Dinda,” Shindu menjelaskan apa yang Dinda sampaikan tadi malam.
“Oh gitu, ya sudah kalau Dinda yang sudah atur. Saya kira Dinda lupa.”
“Tidak Pak. Tadi bu Dinda bilang makan siang Bapak akan diantar oleh sopir.”
“Oke Baik.” jawab Eddy dia tak mengira Dinda tetap memperhatikan dirinya.
“Eh sudah jam 04.00. Ayo siap-siap, jangan sampai kelihatan bahwa akan ada pesta habis magrib nanti,” kata Dinda pada semua pekerja di rumah serta semua pendukungnya di rumah itu.
“Pokoknya jangan bawa papa ke dapur,” pinta Dinda.
Kalau ruangan kan memang tidak mereka hias, namanya pesta orang dewasa.
Hanya makanan di dapur sudah lengkap kalau diantar sore ketahuan jadi mereka tadi minta diantar siang saat pak Eddy sedang di kantor.
Jam empat sore Eddy sudah sampai rumah. Memang kebiasaan kalau tak ada tamu atau keperluan apa pun jam 3 Eddy sudah meninggalkan kantor. Itu sudah rutin sejak 3 tahun lalu, Dinda yang melakukan peraturan itu yaitu Eddy tidak boleh lebih dari jam 03.00 di kantor, agar tak terlalu capai juga tak terjebak macet. Macet akan membuat Eddy stres.
Habis maghrib satu persatu tamu berdatangan. Eddy tentu saja tak percaya ternyata Dinda menyiapkan pesta ulang tahun berkumpul bersama keluarganya dan keluarga Ina, almarhumah istrinya.
Semua bahagia, Puspa kaget ternyata keluarga bosnya sangat sederhana. Pesta ulang tahun saja hanya bersama keluarga. Kali itu memang Puspa diajak datang oleh Velove.
Bagas dan para arsitek serta pasangannya juga hadir. Mereka memang tidak ada jabatan struktural, tapi mereka punya tim khusus untuk membangun semua proyek.
Satu persatu tamu pulang yang tersisa hanya Adit dan Dinda saja.
“Pa, ini kado dari kami,” Dinda menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Kamu sudah bikin kejutan aja Papa bahagia, ngapain kasih kado lagi. Enggak perlu lah, uangmu berapa ini yang buat pesta?” Eddy tak enak Dinda banyak mengeluarkan uang untuknya.
”Enggak, enggak usah pikir uang keluar Pa. Selama ini kami numpang makan dari Papa kok, kenapa jadi Papa mikirin uang buat pesta ulang tahun Papa?” kata Dinda karena memang uang belanja harian Adit yang mengeluarkan.
“Sudah Papa buka aja kadonya, masak di kasih kado sama anak dan menantu gitu sih?” protes Adit.
Eddy pun membuka kado kecil dari Dinda. Tentu saja Eddy bingung mendapat kado kecil berupa sepatu rajut bayi.
“Kamu enggak salah bungkus?” tanya Eddy masih dengan tatapan bingung.
“Enggak. Papa lihat aja apa lagi di kotak itu,” jawab Adit tak sabar. Eddy pun melihat ada kertas berlogo rumah sakit.
“Allahu akbar. Alhamdulillah. Kamu hamil lagi!” kata Eddy dengan penuh syukur.
“Iya Pa. Itu kado dari kami, oleh-oleh Australia,” kata Dinda sambil tersenyum.
“Alhamdulillah,” jawab Eddy. Dia tak percaya ternyata Adit sudah sehat sehingga bisa langsung membuahi Dinda.
Padahal sebenarnya Eddy yang mau kasih kado buat Dinda, yaitu uang dari Shalimah.
Karena waktu itu ancamannya terhadap Shalimah di tanggapi oleh Markus dan dikembalikan full milik perusahaan yang di ambil oleh Adit. karena Adit sudah mengembalikannya secara penuh. maka yang uang yang dikembalikan Markus adalah uang milik Dinda seutuhnya sebagai istri Adit.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.