
“Saya tidak mau tahu. Saya tugaskan kalian yang jadi panitia untuk acara aqiqahan tiga bayi kami,” kata Adinda sore iini di rumahnya. Sekarang hari ke 6 dia berada di rumah. Dia undang semua yang akan jadi panitia untuk ramah tamah melihat bayi. Padahal semua ‘dijebak’ oleh Dinda.
“Soal nama keluarga yang diundang nanti minta ke Pak Adit. Sekarang kalian bentuk kepanitiaan, susunannya makanannya, dan segala macamnya.
“Pengajiannya dibuat terpisah antara anak-anak panti asuhan sekalian memberikan santunan dan orang tua sekitar sekalian keluarga.”
“Kambingnya yang separuh di bikin sebagai isi box. Yang separuh dibuat makan di sini. Ingat makannya dua kali waktu berbeda, pengajian anak-anak kan makan satu kali, pengajian orang tua kan juga makan. Pokoknya kalian atur jadi ada yang di box ada yang dibuat makan di rumah.”
“Jangan lupa sediakan menu ikan dan ayam untuk acara yang makan di rumah karena banyak yang takut dengan penyakit bila makan kambing saja.”
Dinda dan Adit menyerahkan kepanitiaan pada five little star ditambah Shindu dan Bagas mereka sengaja mengandakan seperti itu.
“Mohon maaf ini di luar konteks pekerjaan kantor. Jadi kalian tidak akan dihitung lembur di sini, tapi dihitung kerja proyek. Nanti tetap saya akan berikan uang kerja proyek,” ucap Dinda.
Tentu saja panitia itu ditambah Velove dan Puspa.
“Undangan pegawai kantor dan rekanaan kantor bagaimana Bu?” tanya Ajeng.
“Buat 2 termin berbeda. Jadi semua bisa datang yang undangan bersamaan dengan pengajian anak-anak berbeda dengan yang dengan pengajian orang tua.”
“Baik Bu,” jawab Ajeng.
“Kalian silakan bikin susunan kepanitiaan. Saya dan pak Adit pokoknya enggak mau ikut campur apa pun. Soal biaya nanti bikin rinciannya dan berikan pada Pak Shindu biar Pak Shindu yang bicara kepada Pak Adit.”
“Ya Pak Shindu biar sekretaris saja. Saya tak mau ada orang yang intens bicara dengan suami saya selain pak Shindu. Urusan uang semuanya juga tidak pakai bendahara, tapi langsung dari Pak Adit.”
“Biasanya Ibu pesan kambing di mana kalau untuk acara Aqiqah. Biar kami tak perlu repot tanya-tanya lagi.
“Tiga anak saya terdahulu semua urusan Pak Adit. Saya tidak tahu. Kalau urusan nafkah anak-anak memang sejak dulu Pak Adit handle sendiri. Saya tak boleh keluarkan uang serupiah pun,” jelas Dinda. Semua kagum pada Adit, walau jabatannya di bawah istrinya, tapi nafkah untuk anak semua dia yang tanggung.
Dinda dan Adit meninggalkan anak buahnya untuk menyusun kepanitiaan dan program kerja mereka. Mereka harus cepat-cepat karena aqiqah akan segera dilakukan 7 hari lagi.
"Kok kalian di sini?” tanya Eddy.
“Anak-anak lagi bikin panitia Pa. Buat acara aqiqahan biar mereka aja yang kerja. Aku sama Dinda enggak ngapa-ngapain. Kami fokus ke 6 anak kami aja. Papa juga enggak boleh ikut memikirkan apa pun. Biar anak-anak yang bekerja. Mereka pun tetap kita bayar sesuai dengan kerja mereka kok, bukan lembur dari kantor,” jelas Adit.
“Iya Pa, benar yang Mas Adit bilang. Itu sudah keputusan kami. Kami tak mau membuang waktu dan pikiran kami untuk hal tersebut. Lebih baik kami fokus pada 6 anak kami,” Dinda melengkapi penjelasan pada Eddy.
“Papa setuju aja apa pun yang kalian tempuh. Yang terpenting adalah memang anak-anak.”
“Iya Pa. Papa bisa bayangin kami sama-sama anak tunggal, sekarang harus mengasuh 6 anak ini. Itu memang rezeki yang tak terhingga buat kami, sehingga kami benar-benar hanya ingin fokus pada anak-anak,” jawab Dinda lagi.