
Pagi ini tamu pertama Santi adalah Dinda karena memang dijadwal Dinda berkunjung pertama yaitu pagi jam 10.00. Nanti jam 01.00 ada Ajeng bersama Shindu tentunya dan jam 05.00 ada Wika.
Begitu jadwal yang Ajeng atur sehingga semuanya berkunjung sampai hari ketiga Santi pulang dari rumah sakit. Untuk selanjutnya di rumah semua bebas datang.
“Saya nggak bisa belikan apa-apa ya, hanya ini,” kata Adit menyerahkan stroller biru donker.
Santi dan Ajat memang belum membelikan peralatan seperti itu karena mereka tahu pasti nanti akan dapat banyak dan akhirnya terbuang sia-sia bila mereka menyediakan lebih dulu.
Kemarin kado untuk bayi pun dibuat list bukan soal mahalnya tapi gunanya saja sehingga tidak ada yang boleh dobel kalau untuk barang mahal, karena nanti akan terbuang sia-sia bahkan Sondang karena bingungnya membelikan baby walker yang akan digunakan nanti saat baby sudah berumur 7 atau 8 bulan.
Yang penting tidak sama dengan yang lainnya dan itu malah belum ada yang berpikir membelikan karena baby baby born belum tentu butuh baby walker.
Kalau yang memberi kado baju atau sepatu dan alat makan tak perlu lapor list karena itu pasti akan digunakan tanpa perlu takut double-double karena memang itu digunakan sehari-hari. Yang bagus adalah Velove, dia membelikan celana dan diapers banyak-banyak karena itu pasti digunakan untuk baby born.
Jadi kado memang bukan soal mahal atau murahnya tapi kegunaan buat si baby.
“Selamat ya,” kata Adit pada Ajat.
“Terima kasih doanya Bang, semoga kami bisa mengemban amanah ini. Aku baru sadar ternyata selama ini aku sangat salah. Bahkan sejak hamil saja aku nggak peduli pada Mischa dan Farouq.
“Itu karena faktor istri. Walaupun anak itu terlahir bukan karena keinginan, tapi seharusnya istrimu itu juga melibatkan kamu sehingga terjalin rasa cinta antara anak dan ayah sejak dalam kandungan,” cetus Dinda.
“Bagaimana mereka mau melibatkan Ajat, kalau mereka sendiri tidak cinta pada anaknya? Monica hsmil karena terpaksa sehingga dia tidak cinta pada Mischa sejak di perut sedang Wiwik itu memang memaksakan diri hamil agar bisa mengikat Ajat sehingga bisa mengambil hartanya,” ucap Santi yang disetujui oleh semua termasuk Ajat.
“Betul,” jawab Dinda.
“Benar Bu. Rasanya kalau nggak ingat beban amanat itu berat, saya rasanya mau dikasih 10 anak lagi. Tapi karena saya harus mengemban amanat, maka saya sudah bilang sama Ajat, kami hanya akan nambah satu lagi. Entah lelaki lagi maupun perempuan yang penting cukup buat kami. Karena kami harus mendidik mereka dan memberi pendidikan moral maupun makan dan segala macamnya. Itu yang kami harus pikirkan. Tak hanya punya anak saja.”
“Aku pun sama seperti itu. Kalau nggak mikir amanat rasanya aku mau nambah 10 lagi,” jawab Dinda.
“Tapi kami berpikir enam saja, orang sudah menganggap kami gila padahal hanya tiga kali kehamilan,” kata Dinda.
“Dan kehamilan si bungsu kembar tiga juga di luar prediksi kami. Kami bahkan tidak pernah berpikir akan menambah bayi setelah kami punya tiga. Kami berdua pun tidak pernah menargetkan harus punya bayi perempuan. Ternyata ada Biyya di antara Ghazanfar dan Ghaylan.
“Benar Bu, kemarin Santi juga bilang dia tidak mau menargetkan perempuan untuk bayi berikutnya karena takutnya seperti itu. Kita berharap kecewa, lalu berharap lagi terus-terusan tak selesai-selesai.” kata Ajat. Baik Santi mau pun Ajat menyebut Dinda tetap dengan panggilan Bu. Padahal pada Adit, Ajat menyebut Bang.
“Yang penting kita mengupayakan mereka menjadi sosok yang berguna dan bertanggung jawab saja. Itu yang harus kita emban. Itu yang harus kita laksanakan,” kata Adit.
“Bahkan saya tidak percaya saya akan pernah punya anak. Sejak dulu saya tergila-gila pada adik, sehingga begitu saya ditipu bahwa Shalimah hamil anak saya, tentu saja saya senang. Tapi anehnya sejak dia hamil saya sama sekali tak ingin terlibat dalam kehamilannya, Saya tak pernah mengantar dia periksa atau pun ingin memegang perutnya,” ucap Adit.
“Itu yang aku rasakan saat kehamilan Mischa dan Farouq Bang. Aku sama sekali tidak pernah ingin tahu,” ucap Ajat jujur.
Dinda jadi ingat saat Adit terpukau mendengar detak jantung baby ketika dia hamil pertama dan saat Adit tertegun merasakan gerak babu di perutnya padahal saat itu Adit seorang papa anak berusia satu tahun.
“Tapi saat kehamilan Biru, aku memang sudah wanti-wanti aku ingin memenuhi semua keinginan bila Santi ngidam dan aku tahu aku bahkan baru tahu detak jantung bayi dan aku memegang waktu dia di perut, benar-benar sensasi berbeda padahal aku punya dua anak sebelumnya dari yang lain,” ucap Ajat.
“Itulah, karena kita tidak punya keterikatan batin. Terlebih aku yang bukan anak kandungku sama sekali. Begitu lahir memang aku senang melihat bayi. Siapa sih yang nggak senang melihat bayi? Tapi ya itu cuma sekadar rasa sayang terhadap bayi tersebut. Tidak kepada ibunya,” kata Adit selanjutnya.
Santi dan Dinda hanya mendengarkan, mereka berdua memang sama-sama tak mencintai perempuan yang melahirkan anak yang katanya anak mereka.