GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RUJAK SERUT



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Besok kamu seriusan janjian dengan Velove Yank?” tanya Adit. Adit baru tiba di rumah. Sejak aktif kerja sepulang dari Australia Dinda dan Adit sudah mengambil kesepakatan mereka masing-masing pakai mobil pribadi aja agar tidak ganggu jadwal kerja satu sama lain.



Mobil Dinda yang dari Bekasi sudah di jual, dia ganti dengan mobil besar untuk keluarga. Begitu pun mobil Adit yang lama.



Sekarang Dinda pakai mobil sport untuk mobilitas personal. Adit lebih memilih pakai motor sport.



 Iya aku janjian jam 10.00 Mas tahu dari mana?” tanya Dinda. Dia yakin pasti Bagas yang cerita.



“Bagas tadi bilang,” jawab Adit.



“Iya aku memang enggak menghubungi Velove secara langsung. Sengaja aku lewat Bagas. Biar Bagas tahu perkembangan bisnis istrinya, juga biar mereka tahu kita juga bukan cuma sekedar main-main karena kita serius.



“Aku lihat Velove prospeknya bagus karena pangsa pasar dia high class, jadi aku suruh diambil duluan.”



“Oh baguslah,” kata Adit.



“Aku malah kepikiran mau belanja di Singapura deh Mas. Tapi enggak terlalu lama. Paling kayak pulang pergi gitu. Jadi berangkat malam hari ini, besoknya belanja terus hari berikutnya pulang.”



“Kalau begitu kita berdua aja, biar anak-anak enggak capek.”



“Wah boleh tuh Mas, Jumat sore kita berangkat. Sabtu Minggu kan ada papa  di rumah. Hari Minggu sore kita pulang, gimana?” kata Dinda.



“Boleh ayo.” balas Adit antusias.



“Tunggu ya Mas, Tunggu duit belanjaan Australia masuk dulu. Paling enggak separuhnya duit dari belanjaan Australia masuk baru kita belanja ke Singapura. Karena aku enggak mau tanggung-tanggung belanjanya. Kalau cuma asal belanja cukup.”



“Ya pakai duit Mas dulu.” usul Adit.



“Enggak mau. Aku maunya biar uang itu dari usaha, kalau uang pribadi juga aku masih ada kok Mas. Lebih-lebihkan kemarin habis jual mobil.”



“Kalau pakai uang pribadi nanti hitungan bisnisnya jadi enggak benar Mas, kecuali kita memang kepepet misalnya kebetulan lagi berangkat atau bagaimana .Kalau seperti itu enggak apa apa pakai duit pribadi.”



“Oh gitu, kirain biar cepet pakai aja dana yang ada.



“Alah bilang aja Mas-nya pengen jalan-jalan,” goda Dinda.



“Ya pastilah,” jawab Adit.



“Entar aku lihat dulu hasil pembukuannya di Bekasi besok. Kalau memang kita bisa ya berangkat duluan sebelum uang Australia masuk enggak apa-apa lah,” kata Dinda.



“Ya sip. Besok tapi Mas enggak bisa ikut ke Bekasi,” ucap Adit.



“Emang yang ngajak siapa Mas?” goda Dinda.



“Tuh suka gitu kan. Malah godain Mas,” Adit mencimi wajah istrinya dengan gemas.



“Lagian Mas ke ge er an. Enggak ada yang ngajak bilang nggak bisa ikut. Besok memang ada apa?” tanya Dinda.




“Enggak apa-apa lah Mas Adit aja yang temenin,” kata Dinda santai



“Tapi masalahnya, reputasi si tamu katanya sih enggak bagus.”



“Maksudmu?”



“Dia ini sama dengan si siapa itu yang dulu itu, mas lupa. Jadi selalu bawa anaknya, lalu anaknya dijadiin umpan. Ada kan yang dulu itu Mas lupa namanya,” ucap Adit.



“Waduh kalau gitu aku aja yang berangkat,” kata Dinda dia tidak mau Adit jadi korban ulat bulu.



“Terus untuk ke Bekasinya gimana?” kata Adit.



“Aku telepon Velove aja. Tunda sampai lusa siang atau sore sepulang anak-anak sekolah,” kata Dinda.



“Kebetulan Mbak, aku juga baru mau hubungi Mbak. Aku besok enggak bisa,” kata Velove.



“Aku ada rapat di sekolahan anak-anak dan aku kan ketua POMG. Enggak enak kalau aku enggak hadir. Mas Bagas barusan bilang sih suruh hubungi Mbak langsung.”



“Sama, aku juga besok enggak bisa.” jawab Dinda.



“Kenapa Mbak?” tanya Velove pensaran.



“Di kantor mau ada ulat bulu, jadi aku yang mau datengin sama Bagas.”



“Kok sama Mas Bagas?” Velove percaya pada Dinda tak mungkin menikung suaminya.



“Aku akan ber dua Bagas. Santai aja enggak usah khawatir, dia enggak akan apa-apa.”



“Terserahlah, itu urusan kantormu,” kata Velove.



“Ya besok biar papa sama Mas Adit duduk di meja sebelah, aku sama Bagas yang maju perang.”



“Sip Mbak. Sukses selalu.”



“Oke kita ketemu lusa ya. Nanti aku pas on the way akan kabarin kamu. Jadi kamu juga enggak kelamaan nunggu aku di ruko.”



“Siap mbak,” kata Velove.



“Eh aku minta rujak serut dekat rumahmu itu kayaknya enak deh.”



“Hamil nih,” goda Velove.



“Baru juga pulang bulan madu sudah hamil aja,” kata Dinda.



“Ya kan bibitnya bibit unggul. Liat aja tu langsung jadi dua. Kali aja yang kedua juga dua lagi,” ujar Velove.



“Woooow, mau banget kalau dikasih dua lagi,” jawab Dinda.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.