
Dinda dan Eddy mengamati kehebohan Adit bersama dua putra kembarnya. Dua jagoan itu heboh bersama sang ayah yang sibuk membakar sate. Dinda menyuapi Ghaidan. Eddy hanya tertawa-tawa melihat polah kedua cucunya. Tak lupa dia rekam baik dalam bentuk foto mau pun video.
Bebakaran yang lain dikerjakan oleh Bu Siti. Adit dan si kembar tentu hanya membakar untuk keseruan mereka saja.
“Bu Asih, jangan lupa sopirnya suruh makan duluan aja enggak usah nungguin kami. Bu Asih dan yang lainnya juga makan duluan,” kata Eddy.
“Iya Pak, nanti kami makannya bareng kok. Belakangan enggak apa apa,” jawab Bu Asih.
“Benar mbok Asih. Sopirnya suruh makan lebih dulu enggak apa-apa kok mbok,” kata Dinda menguatkan kata-kata mertuanya.
“Iya Mbak, akan saya tawarin. Semoga aja dia mau. Kemarin-kemarin sih dia maunya makan bareng kami,” kata Bu Asih.
Dinda memposting foto-foto juga video-video keseruan kedua anak kembarnya bebakaran bersama Adit. Ghaidan sudah selesai makan, sekarang dia dijaga oleh Bu Asih.
Eddy sedang makan malam bersama sopir masih banyak menu kambing yang tadi Dinda beli. Ditambah juga sosis bakar. Sedang Dinda hanya makan sate kambing dan udang bakar tanpa nasi.
Meliana melihat postingan Dinda dia melihat kebahagiaan keluarga tersebut.
Meliana semakin sedih, sekarang kenaikannya berat bayinya sangat kecil sekali. Mungkin karena dia stress memikirkan hidupnya yang sudah terkucil. Walau tidak kekurangan uang tapi tak bisa bebas bergerak.
Ada kerabatnya yang masih mau bertegur sapa menyarankan Meliana pergi saja ke luar negeri agar tak ada yang mengenal dirinya lagi di sana. Kalau masih di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya pasti masih ketemu dengan orang-orang yang mengenal siapa dirinya.
“Apa aku ngikutin sarannya Rusty aja ya? Aku pindah ke Hongkong. Di sana jadi warga negara gampang ngegak ya? Atau aku tetap jadi WNI hanya menetap di sana?” gumam Meliana.
Sebenarnya tadi dia pegang ponsel ingin searching bagaimana kalau dia menetap di Hongkong, Singapura atau Malaysia. Meliana hanya berani di Asia Tenggara karena tidak ingin terlalu jauh dari Indonesia. Dia pikir kalau masih dekat-dekat kebudayaannya mungkin lebih mudah dia adaptasi. Padahal kalau ke Amerika pun, dia sendirian tak jadi masalah. Anaknya kan tak perlu adaptasi karena dari lahir sudah di sana.
‘Wah senengnya Mamas sama Abang jalan-jalan,’ tulis akun dari Velove istrinya Bagaskara.
‘Iya nih Tante Puspa enggak,’ tulis akun Puspita wangi, mantan istri Rizaldy.
Banyak lagi komentar, termasuk dari rekan Adit yang ikut memberi komentar atas kebahagiaan mereka.
“Ayo tidur kalau sudah selesai cuci mulutnya,” Adit mengajak kedua putranya istirahat, rencananya besok mereka mau kembali jalan-jalan di Solo.
“Ayah bobo sama kita?” kata Fari.
“Ayah bobo sama bunda dan dedek dalam perut. Kalian bobok sini nanti Ayah temani dulu,” balas Adit. Dia tak mau berbohong, takutnya malam-malam kedua putranya ada yang bangun lalu mencari dirinya.
Fari dan Iban pun bersiap tidur, mereka ngobrol sejenak bersama Adit. Ghaidan juga tidur di sana, ditepuk-tepuk oleh Dinda. Sehingga mereka saat ini berlima di dalam kamar anak-anak.
“Jangan lupa gelar kasurnya ya Yah, yang buat dibawah,” ucap Dinda mengingatkan suaminya.
“Iya pasti Ayah gelar,” jawab Adit. Kasur digelar di lantai agar bila anak-anak terguling mereka tidak sakit, karena tempat tidurnya terbuka tak seperti di rumah. Takutnya ada jatuh terguling.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~