GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK PEDULI PADA AYAH DAN KAKEK



Sesuai dugaan Adit,  Fari dan Iban langsung berteriak melihat ada Adit di rumah.


“Wah anak Ayah udah pulang ya,” sapa Adit saat si kembar masuk rumah.


“Kok enggak ada yang jawab salamnya Ayah ya?” tegur Adit.


Fari dan Iban tak peduli, mereka langsung lari ke atas menuju kamarnya Dinda. Mereka tahu selama di rumah sakit Adit akan pulang kalau tidak bersama Dinda. Karena Adit sudah di rumah artinya Dinda sudah di rumah juga.


Eddy dan Adit hanya menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan dua balita itu. Mereka tak peduli pada kakek dan ayahnya yang menyambut kedatangan mereka di ruang tamu. Kedua bocah itu malaah langsung mencari Dinda.


Ghaidan langsung berlari memeluk Adit, tentu saja Adit langsung mengangkat dan menggendongnya. “Kita lihat dedek bayi yuk. Tapi kita ganti baju dulu,” Kata Adit.


Adit langsung membasuh tubuh Aidan, juga menggaknti baju dan membuang diapersnya. Kalau sekolah memang dia di pakaikan diapers, tapi di rumah tidak pakai lagi.


“Bundaaaaa,” teriak Fari dan Iban di depan pintu kamar Dinda. Mereka masuk tanpa mengetuk tapi kecewa. ternyata tak ada Dinda di sana.


“Di kamar dedek bayi,”kata Iban pada Fari.


“Ah iya benar, di kamar dedek bayi,” jawab Fari. Mereka langsung berlari ke kamar tersebut.


“Bunda,” teriak Iban saat belum masuk kamar adik mereka.


“Jangan teriak sayang, kasih salam dulu ya,” nasihat Dinda pada kedua anak kembarnya.


Fari dan Iban langsung memeluk bunda mereka. “Assalamu’alaykum,” sapa Dinda.


“Wa’alaykum salam,” jawab kedua putranya. Mereka melihat Dinda sedang merendam kakinya seperti ketika di Solo dulu.


“Kenapa kakinya direndam seperti itu lagi? tanya Fari.


“Nanti kaki Bunda juga akan dilumuri pakai parem begitu pun badan Bunda. Pasti akan sering diberi parem supaya cepat sehat seperti sebelum melahirkan.”


“Memang melahirkan itu sakit?” tanya Iban karena tadi Dinda bilang supaya cepat sehat seperti sebelum melahirkan. Kedua kakak kembar ini  malah lupa pada ketiga adiknya.


“Melahirkan itu sakit tapi membawa kebahagiaan. Tak usah kalian pikirkan itu membuat Bunda menderita. Bunda bahagia bisa melahirkan kalian,” jelas Dinda.


“Mamas mau lihat adik boleh?” kata Fari.


“Tidak ada larangan kalian melihat adik, tapi lihat kalian aja belum ganti baju. Jadi kalian ganti baju dulu baru ke sini lagi,” kata Adit di depan pintu. Dia menggendong Ghaidan yang sudah berganti baju.


“Ya benar yang Ayah bilang. Bunda tunggu kalian di sini. Nanti kita lihat adik bayi di kasur bersama-sama. Kalian ganti baju dulu,” Dinda setuju dengan pendapat suaminya.


“Iya,” jawab keduanya. Tanpa membantah mereka langsung berlari ke kamar masing-masing untuk ganti baju.


Tentu saja di kamar ada mbok, masing-masing di kamar berbeda karena untuk membersihkan badan tentu masih harus dipantau tidak bisa dibiarkan anak seumur itu sendirian.


Mbok Asih menemani Fari dan Bu Siti menemani Iban.


“Kalian makan dulu ya, habis makan baru lihat dedek,” Kata Bu Siti.


“Ya kami mau makan dulu. Jadi nanti pas saat lihat dede tidak disuruh keluar lagi sama ayah karena belum makan,” Fari sadar bahwa tadi mereka salah. Langsung masuk ke kamar bayi sebelum ganti baju.


“Tapi enggak harus bikin PR dulu kan?” kata Iban. Dia tentu tak sabar kalau harus belajar dulu baru boleh lihat adik-adiknya.


“Enggak lah yang penting kita sudah basuh badan, ganti baju dan makan.” Mereka pun turun mengikuti simbok untuk makan siang.