GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MAKAN SORE



Sesuai dengan keinginan Adit, Dinda tak jadi mengajak suaminya turun dari tower itu. Dinda memilih untuk ngopi di situ,  tapi rupanya Adit tidak mau ngopi. Dia sedang emosi tinggi sehingga memilih makan saja. Makanan berat, bukan cemilan dan kopi.  Karena itu mereka menuju bagian tempat menu buffet yang tersedia. Mereka mulai memilih makanan apa yang akan mereka santap sore itu.



“Minumannya apa Yah?” tanya Dinda. Makin bertambahnya usia, dia makin sabar dan mengerti tentang kejiwaan Adit yang sesekali masih sering temperamen seperti tadi.


“Jangan soft drink loh, nanti kamu kembung, lagi emosi tinggi gini. Teh hangat saja mau?” tanya Dinda hati-hati.


“Teh su5u deh,” jawab Adit.


“Eh nggak jadi, itu ada ginger tea, pakai ginger tea saja,” kata Radite meralat pesanan sebelumnya. Akhirnya Dinda mengambil hot ginger tea dua gelas.


Mereka lalu mengambil tempat duduk. Dan bersiap menyantap makan yang mereka ambil tadi


“Bisa saya bicara dengan Anda Pak?” tanya seorang anak yang berdiri di sisi meja mereka. Tentu saja Adit dan Dinda kaget melihat anak itu.


“Bagaimana mungkin kamu bisa ke sini sendirian? Di mana kedua orang tuamu dan adik-adikmu?” tanya Dinda pada Bramantyo Setyo yang sekarang bernama David William McKenzie.


“Mereka sedang di bawah. Saya bilang saya ke toilet dan adik saya sudah tahu jadi dia akan memberitahu saya bilang ayah atau ibu saya menyusul ke sini,” kata anak lelaki tersebut dengan penuh percaya diri.


“Oke, saya rasa waktumu tidak terlalu banyak. Kamu mau tanya apa?” tanya Adit.


“Apa yang Anda tadi katakan semuanya benar?” tanya Bramantyo Setyo.


“Siapa Anda?” lelaki kecil itu bertanya lugas.


“Sebenarnya ibu kamu itu yatim piatu. dia anak sopir saya. Dia diangkat anak oleh ibu saya sejak berumur satu tahun karena ayahnya meninggal dan ibunya menaruh di panti asuhan.”


“Tetapi entah bagaimana, didikan ibu saya tidak berhasil. Dia menjadi perempuan nakal seperti ibunya. Suatu hari saya di jebak olehnya. Sehingga kami rutin melakukan hubungan yang tidak sebaiknya dilakukan sebelum menikah. Lalu dia mulai mengarahkan saya untuk melakukan kecurangan, mengambil uang ayah saya. Ayah saya pemilik sebuah perusahaan,” jelas Adit.


“Suatu hari dia bilang ada kamu di perutnya dan itu adalah anak saya. Karena merasa bertanggung jawab, saya pun memberikan dia tempat tinggal untuknya tapi kami tidak menikah. Ingat kami tidak pernah menikah. Saya menikah dengan istri saya ini, ibumu pun datang karena dia adik angkat saya.”


“Suatu hari istri saya ini tahu kalau ibu kamu itu saya pelihara sebagai istri simpanan. Saya membelikan dia mobil dan rumah. Padahal saya tidak membelikan itu semua pada istri saya. Karena ibu kamu menuntut harus dibelikan.”


“Dia minta rumah katanya untuk membuat kamu nyaman. Begitu pun  mobil juga agar kamu tidak kepanasan bila cari taksi. Karena saya cinta anak, saya berikan apa yang dia minta dengan alasan namamu sebagaai anak saya.”


“Ternyata ayah saya tidak buta. Dia mengadakan tes DNA antara kamu dan saya dan ternyata hasilnya kamu bukan anak saya. Itu pertama kali saya kecewa sama ibu kamu yang sudah menipu saya.”


“Sejak dia mengaku hamil ternyata dia melakukan itu karena pacarnya yaitu ayahmu tidak berani mengakui kamu itu anaknya, sebab saat itu ibumu banyak lelaki lain dan juga ayah kandungmu itu punya istri sah.”


“Itu kenyataannya. Karena uang yang saya belikan rumah dan mobil adalah hasil dari korupsi di perusahaan, maka semua disita dan sebagai penyebab korupsi itu ibu kamu ditahan polisi.”


“Saat itulah ayah kandungmu datang sebagai pahlawan. Dia membebaskan ibumu diam-diam dan melarikan diri ke sini. Itu kenyataannya. Kalau kamu tak percaya ini alamat email saya. Akan saya berikan semua bukti apa yang ibu dan ayah kamu lakukan di Indonesia dulu,” kata Adit.


“Jadi saya dulu pernah jadi anak Anda?” tanya anak lelaki tersebut menatap lekat mata Adit.