GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
REAL KOMPETITOR = ANAK-ANAK



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Mau kemana sih Mas pagi-pagi gini?” tanya Dinda yang sedikit lelah. Adit benar-benar buka puasa setelah satu setengah tahun mereka tak bersama. Bukan hanya dua kali pertempuran mereka malam tadi. Walau diseling makan tengah malam yang mereka pesan dari resto hotel. Tetap saja Dinda kelelahan.



“Kita ke Restoran The Grounds. Restoran itu adalah yang tertua di The Grounds of Alexandria, disana terkenal kopi dan pastrinya sangat terkenal.”



“The Grounds  memanggang biji kopi mereka sendiri, dan menerapkan kebijakan cinta lingkungan. Semua sayuran hasil  kebun yang mereka petik sendiri setiap pagi.”



“Selain tempat makan disana ada juga kebun binatang mini, toko bunga, dan bahkan toko elektronik,” jadi anak-anak bebas bermain di alam nan asri,” ucap Adit.



\*‘Lagi-dan lagi semua tentang anak-anak. Ternyata yang harus aku cemburui adalah anak-anakku sendiri,’ \*Dinda memikirkan hal itu sambil tersenyum sendiri karena selama ini cemburu pada sosok perempuan yang tak ada dalam pikiran Adit.



Mereka bertemu dengan Eddy di lobby, anak-anak sudah tak sabar turun, jadi Adit tak menunggu Eddy di kamar mereka.



Ghifari dan Ghibran sangat senang di resto itu. Dinda tak lupa merekam dalam bentuk video mau pun foto.



Pagi ini Dinda, Eddy dan Adit menikmati menu kopi yang sangat nikmat. Mereka sengaja pesan tiga jenis yang berbeda untuk bisa salin mencicipi. Kopi disini mereka giling sendiri sehingga aromanya sangat kuat.



Untuk makanannya, Adit memesan breakfast burger adalah burger yang berisi keju, telur, dan bacon. Pastrinya, coffee tartlet rasanya sangat manis dengan rasa kopi yang tidak terlalu dominan. Juga raspberry tartlet berupa cake raspberry dengan hiasan cream dan buah ara.



The Grounds di The Grounds of Alexandria sukses menghadirkan makanan yang lezat dan mengenyangkan dan membuat Dinda malas beranjak.



Akhirnya sampai makan siang mereka masih di lokasi itu. Sehabis makan siang baru Adit membawa kedua putranya pulang setelah mereka tepar kelelahan.



“Mau berangkat sekarang, atau gimana?” tanya Adit.



“Boleh deh, kita ke Sydney Tower Eye aja Mas. Belanja dulu, habis itu baru ke atas, lihat pemandangan Sidney dari atas di waktu senja. Pasti keren,” ucap Dinda.




“Berangkat ya Pa.” pamit Dinda. Dia telah menyiapkan baju ganti putra-putranya agar Eddy tak kebingungan mencari di lemari.



“Have fun. Enggak usah pikir anak-anak. Nikmati bulan madu kalian. Siapa tahu si kembar cepet dapat adik,” ujar Eddy.



“Aaamiiin. Semoga langsung dapat ya Pa,” Dinda juga tak ingin menunda. Dulu dia ingin si kembar punya adik setelah berusia 5 tahun. Sekarang tidak. Dia ingin segera punya bayi lagi.



Mendengar Dinda berharap punya bayi lagi tentu Adit bahagia.



Adit dan Dinda banyak membeli barang dagangan Dinda dengan minta agar si toko langsung mengirim ke alamat Dinda di Bekasi.



Shopping Mall ini bagus dan elegan. Dinda bisa menemukan hampir semua brand terkenal di sini. Mulai dari barang mewah sampai yang lebih terjangkau



”Beneran sudah?” tanya Adit pada Dinda karena istrinya sudah mengajak ke Unlimited Skyfeast at Sydney Tower untuk menikmati suasana Sydney dari atas. Dinda mengambil aneka cemilan sore yang mengenyangkan. Sistem makanan semua self service.



Dari satu sudut ada sepasang mata elang yang tak percaya melihat keberadaan Adit dan Dinda di sebuah negara yang jauh dari negara asal yang dia sudah tinggalkan.



‘*Rupanya mereka bisa rujuk setelah aku tinggalkan! Aku tak boleh terlihat oelh mereka. Bahaya kalau dia masih mengenaliku*.’



Readers setia eyang bisa tebak kan siapa yang sudah kabur dari Indonesia dan hijrah ke Australia dengan identitas baru?



Bakal ketemu enggak ya mereka?



Kalau ketemu ribut enggak?


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.