GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MULAI MEMBALAS ADIT



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Aku mau bicara,” kata Dinda di ruangannya Eddy.



“Kenapa?” tanya Eddy.



“Bukannya waktu itu Papa bilang Mas Adit itu ada di ruanganku karena dia adalah akan jadi asisten aku?” tanya Dinda.



“Kenapa sekarang dia jadi Marketing Manager lagi?”



“Kamu enggak suka dia pegang jabatan itu lagi?” tanya Eddy.



“Bukan enggak suka. Aku suka banget suka banget Pa kalau Mas Adit kembali jadi Marketing Manager.”



“Tapi aku minta pisah ruangannya dengan ruanganku. Aku nggak mau diganggu privasiku,” kata Dinda.



“Ruanganku cuma buat aku dan asistenku jadi Papa taruh orang di tempatku sebagai asistenku dan pindah Marketing Manager ke ruangannya lagi. Aku enggak mau lihat dia main kotor di ruanganku dengan para marketing genitnya.” kata Dinda tegas.



Eddy diam. Dia tahu Dinda sangat marah karena sikap Adit tadi pagi dan ini salah satu pembalasannya. Salah satu?



Ya salah satu, karena Eddy yakin habis ini akan ada pembalasan lainnya,



“Jadi maumu bagaimana? Dia jadi asistenmu atau jadi Marketing Manager?” tanya Eddy tak mau gegabah bertindak.



“Aku sih maunya Mas Adit jadi Marketing Manager, tapi dia punya ruangan sendiri seperti dulu lagi. Biar bebas bergerak sendiri kalau Marketing Manager kan banyak diskusi dengan timnya, dengan marketing marketingnya. Mereka harus diskusi intensif. Aku pasti akan keganggu kalau ada Mas Adit dengan timnya di ruanganku.”




“Bukan aku tidak suka Mas Adit satu ruangan denganku, tapi aku nggak suka dengan orang diskusi yang bukan urusanku. Nanti pasti aku akan intervensi secara enggak sadar. Aku pasti akan ngomong apa kek.”



“Itu enggak baik buat mereka Pa, jadi Papa ngertiin aku ya,” rengek Dinda.



“Bagaimana bila Adit tetap di ruanganmu dan kalau dia mau briefing dengan marketing atau dengan tim dia pakai ruangannya atau di lobby?” usul Eddy.



“Enggak efektif dong Pa. Masa mau ngobrol sama Mas Adit harus bilang Pak saya mau bicara, ayo kita keluar. Kan enggak etis. Atau mereka kencan di ponsel : Pak ayo Pak kita meeting atau bertemu di lobby,  kan nggak enak kencan seperti itu.”



“Lalu Mas keluar bilang ada urusan, lebih baik beda ruangan kan enak dia atur waktu sendiri enggak perlu izin aku,” tolak Dinda.



Eddy jadi serba salah, benar yang dikatakan Dinda, dia mau ke ganggu dengan tim marketing yang wira-wiri atau terganggu karena Adit pamit mau bicara dengan marketingnya atau terganggu karena ada janjian di ponsel untuk bertemu dengan marketing.



“Lho Yank, Mas cari kamu ke mana-mana, ternyata kamu di sini,” Adit yang baru masuk langsung bicara tak tahu kalau Dinda baru saja mengusirnya daru ruang kerjanya.



Dinda tak menengok apalagi menjawab teguran Adit. Saat itu terdengar pintu di ketuk. Adit menjawab suruh masuk.



“Maaf bu Dinda, tamunya sudah datang,” seorang resepsionis masuk dan langsung bicara pada Dinda.



“Pa, aku makan siang di luar ya. Ada temanku dokter yang ngajak makan siang,” tanpa menunggu jawaban Eddy, Dinda langsung keluar menemui Dirga yang memang dia suruh datang jam makan siang ke kantornya.



Adit tentu panas mendengar Dinda akan makan siang dengan orang yang mengejarnya dan mereka janjian di kantor.



Eddy tahu bagaimana sakit hatinya Adit. Tapi kesalahan bukan di Dinda. Bukankah Dinda bilang bila dia di cubit akan dibalas dengan tempeleng?


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok