
Sondang kaget saat menerima tagihan kartu kredit yang baru saja dia terima. Biasanya tak pernah ingin melihat. Entah mengapa siang itu dia ingin membuka pa saja kegunaan kartu kredit suaminya.
Sondang melihat ada tagihan kartu kredit Gultom yang banyak belanja di supermarket dan juga banyak butik padahal dia tak pernah membeli barang-barang tersebut.
Sondang diam, tak teriak-teriak. Suaminya pulang kerja sore menjelang malam. Saat Gultom di kamar mandi Sondang mengambil dompet suaminya dan mengambil dua kartu kredit Gultom. Dia gunting keduanya dan dia letakkan di atas meja kerja Gultom bersama tagihan kartu kredit yang sudah terbuka dan sudah di beri banyak tanda tanya oelh Sondang!
Gultom baru tahu ketika melihat tagihan kartu kreditnya dengan 2 kartu kredit yang sudah digunting di atas meja kerjanya. rupanya ketika dia ke kamar mandi sambil mengambil kartu kredit tersebut di dompetnya.
Kemarin Sondang tidak marah melihat pagi yang tersebut dia hanya diam.
Dan Gultom makin bingung kalau uang gaji dan bonus masuk ke rekening Sondang bagaimana dia harus membayar tagihan kartu kredit tersebut sedang uang di ATM-nya tentu tak cukup. Jumlah Tagihan dua kartu kredit itu yang sudah dipakai lebih dari 11 juta sedang tabungan di ATM-nya hanya berisi tak lebih dari 3 juta saja. Kalau pun di bayar jumlah minimal saja, dari mana lagi dia membayar semua itu karena semua gaji dan bonus akan masuk ke rekening Sondang.
Gultom bertekad mencari kerja sampingan untuk membayar tagihan tersebut karena dia yakin Sondang sudah tak akan mau membayar tagihan yang bukan digunakan untuk kehidupan keluarga mereka.
“Wah keren banget. Tendanya juga bagus dan kuat berdiri,” kata Dinda melihat lokasi family gathering kali ini. Lokasi pilihan Wika di pantai dan dengan banyak tenda menunya. Tentu saja ikan bakar dan ada beberapa ayam bakar untuk para peserta yang tidak makan ikan.
Acaranya sangat heboh dan menyenangkan Fakhrul dan Ilham terinspirasi mengadakan hal lain mungkin bukan dengan camping tapi dengan hal lain setidaknya mereka memang harus punya ide brilian. Padahal yang awalnya punya ide campink adalah Santi, tapi Wika sudah duluan mengeksekusi.
“Kamu kenapa San?” tanya Wika.
“Ini family gathering cabang aku, kok kamu seperti itu? Kamu seperti tak suka,” kata Wika penuh perhatian.
“Aku bukan nggak suka. Aku kok pusing ya dengan angin laut ini,” kata Santi lemah.
“Dan aku kok nggak enak ya mual dengan bau bebakarannya,” lanjut Santi lagi.
“Mungkin kamu kurang tidur dan masuk angin,” kata Ajeng.
“Kita ada tim dokter kan?” tanya Ajeng.
“Adalah. Kita selalu bawa untuk setiap family gathering,” kata Wika.
“Entahlah Bu, Santi bilang udaranya nggak enak mungkin dia masuk angin dan dia nggak suka bau asap bebakaran,” jelas Ajeng.
“Kalau begitu panggil suaminya dan suruh antar ke ruang konsultasi dokter,” saran Dinda.
Tentu saja membawa banyak peserta seperti itu tak mungkin tak ada dokter yang ikut dalam setiap family gathering. Ada satu orang dokter dan 3 orang perawat setiap mereka mengadakan family gathering. Itu sudah ketentuan dari Dinda agar bisa mengantisipasi apa pun yang terjadi di lapangan.
“Mami kenapa Mi?” tanya Ajat. Dia sedang menemani Mischa dan Farouq untuk belajar membakar ikan.
“Nggak tahu Pi. Aku pusing mencium bau asap bebakaran dan angin ini nggak enak buat badanku,” jawab Santi.
“Bawa periksa ke dokter aja Pak Ajat,” kata Adit yang juga baru datang bersama Fari.
“Itu ruangannya di ujung sana.” kata Adit selanjutnya.
“Baik Pak Adit,” jawab Ajat. Dia jadi khawatir bila istrinya sakit.
“Ayo Mi, kita periksa dulu biar Mami nggak apa-apa. Kasihan Misha dan Farouq kalau maminya sakit. Mereka kan apa-apa Mami. Mereka apa pun tentu harus sama Mami,” kata Ajat.
Ajat bukan tak mau mengurusi anaknya tapi anak-anak yang memang sangat tergantung pada Santi. Ajat yang sekarang sudah berubah. Terlebih sejak masuk komunitas kekeluargaan karyawan perusahaan Adit.
Santi pun berjalan pelan di papah oleh Ajat menuju ruang dokter.
“Kalau hasil pemeriksaan saya sih nggak ada apa-apa Pak. Mungkin agak pusing nggak apa apa lah, tapi saya anjurkan malam ini ibu istirahat saja ya Bu karena saya mencurigai sesuatu,” kata dokternya.
Dokter memberi nasehat pada Ajat dan Santi apa yang harus mereka lakukan hari ini hingga pulang besok karena persiapan obat serta peralatan di tempat seperti ini tentu tak sama seperti dia di klinik. Ajat maupun Santi mengerti hal itu, mereka pun taat pada apa yang dokter katakan.
Santi pun meminum obat yang dokter berikan untuk antisipasi sampai mereka pulang besok.