GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TRAUMA ITU MASIH ADA



“Ayah kok jahat gitu sih? Nggak kasihan sama si Bram itu?” tegur Dinda.


“Kasihan kamu bilang? Aku harus kasihan sama anak itu? Aku tahu anak itu nggak berdosa sama sekali. Nggak berdosa walau dia pernah jadi anak aku. Tapi bukan kemauan aku. Tetapi ibunya itu sudah bikin aku hampir kehilangan permata-permataku. Kalau tak ada tes DNA yang papa buat, aku terus saja merasa bahwa dia adalah anak aku dan kamu mandul. Bisa bayangkan aku akan selalu tenggelam di kakinya. Dijadikan keset oleh dia, sedang dia tetap jual diri. Bisa-bisa aku kena penyakit kotor yang diakibatkan oleh dirinya. Karena dirinya adalah penjual.” Adit benar-benar emosi saat itu.


“Aku nggak boleh sakit hati, aku nggak boleh marah. Banyak yang bilang : elo dulu kan sudah pernah ngerasain nikmatnya tubuh dia! Aku membayar pelayanannya kok. Aku kasih dia rumah, kasih dia mobil, kasih dia perhiasan dan kasih dia makan! Segala macam aku bayar. Aku nggak free dan aku mereguk kenikmatan itu hasil jebakannya. Tiap bulan dia hanya kasih satu atau dua kali yang penting aku tetap absen. Karena kalau dia hamil aku tetap bertanggung jawab. Kalau aku nggak pernah dikasih jatah sama dia secara rutin walaupun hanya sebulan sekali kalau dia hamil nanti aku bisa klaim bahwa itu bukan anak aku. Jadi aku sama sekali enggak pernah punya keuntungan dari Shalimah. Enggak sama sekali!”


“Orang bilang aku pernah menikmati dia. Aku dapat sampah kok. Untuk dia, aku sudah jadi yang ke berapa saat tidur dengan aku. Enak saja aku dibilang menikmati dia. Tidak dia menjebak aku. Jadi yang pernah ngebelain dia seharusnya tahu diri siapa aku. Sama seperti aku main dengan Syahnaz dan Angelica, kami sama-sama butuh pelepasan. Sudah! Tak ada keterikatan apa pun.  Dengan Shalimah juga seperti itu. Tak ada keterikatan.”


“Kami ada ikatan batin ketika sudah ada bayi di perut dia, yang dia bilang punya aku. Itu saja ke ikatan batin yang ada, karena ada bayi. Tapi kalau untuk cinta tak ada sama sekali,” kata Adit.


Suami Adinda itu terus saja bicara panjang lebar dia sudah paling sebel kalau ingat dia pernah dikatain pernah merasakan kenikmatan dari Shalimah lalu sekarang main buang begitu saja.


“Iya maaf Bun. Maaf banget. Kalau sudah lihat dia tuh rasanya darah sudah sampai kebun-ubun. Untung saja inget Ayah punya anak perempuan. Kalau nggak ingin nempeleng dia, rasanya pengen hajar dia habis-habisan,” kata Adit.


“Sudah yuk kita jalan lagi daripada di sini kamu kesel,” ajak Dinda.


“Takutnya jalan lagi ketemu keluarga tadi, tambah kesel kan? Jadi lebih baik kita di sini saja lah. Biarin mereka saja dulu yang pergi. Aku yakin anak-anaknya ngerti kok. Lebih-lebih di sini internet bebas tidak seperti anak-anak kita yang kita batasi hanya YouTube kids yang boleh mereka tonton,” ucap Adit.


Dinda mengerti apa yang suaminya kesalkan. Dinda mengerti bagaimana sakit hatinya Adit. Bagaimana dia sangat ketakutan. Bila tak ada hasil tes DNA Adit selalu membayangkan berada di bawah tipuannya Shalimah. Menjadi suaminya tapi ternyata hanya sebagai status dan hanya sosok untuk memberi supply kehidupan. Tapi untuk kepuasan dan hal lainnya dia dapat dari lelaki lain.


Dinda tahu trauma Adit belum bisa hilang 100%. Ketakutan Adit soal percobaan pembunuhan Dinda itu tak bisa segera dihilangkan sampai saat ini karena trauma Adit belum hilang. Adit masih sering membayangkan bagaimana kalau saat itu Dinda meninggalkan dua anak kembar mereka. Dia juga sering membayangkan begitu Dinda meninggal kedua anaknya yaitu Ghifari dan Ghibran ikut meninggal karena waktu itu kondisi mereka bayi prematur yang sangat riskan untuk bertahan hidup. Ketakutan ketakutan itu masih seringkali muncul di mimpi-mimpi Adit, walaupun sudah puluhan tahun. Trauma tersebut masih ada.