
“Iya Sayang, ini Mami,” kata Santi lembut.
“Kenapa? Abang mau butuh apa? Bilang sama Mami. Nanti Mami cariin apa yang Abang mau,” jawab Santi.
“Abang mau Mami peluk Abang,” kata Farouq terbata dan lirih. Tentu Ajat Santi segera memenuhinya. Dia duduk di atas ranjang rawatnya Farouq. Dibantu Ajat, Santi mengatur posisi Farouq dalam pangkuannya. Farouq sulit bergerak, terlalu lemah.
Santi mengatur duduk di ranjang rawat. Dia selonjorkan kakinya dan Farouq di dudukan di pangkuannya. Santi memeluknya erat. Farouq pun memeluk Santi.
Farouq mengulurkan tangannya pada Mischa dia minta dipegang oleh kakaknya tersebut.
“Aku sayang Mami.”
“Mami juga tahu. Mami juga sayang banget sama Abang. Abang cepat sembuh ya. Biar kita main lagi sama Kakak. Biar Abang nanti bisa sekolah lagi. Biar Abang nanti sehat, nanti kita ke dokter sama-sama ngelihat adik, kan Abang waktu itu pernah lihat adik di perut Mami,” kata Santi saat mengingatkan Farouq saat mereka melihat janin di monitor dokter. Waktu itu memang Santi memperkenalkan Mischa dan Farouq pada calon adik mereka di dokter kandungan.
“Abang sayang Papi,” kata Farouq terbata, Ajat mulai meneteskan air mata dia mengusap-ngusap kaki Farouq lembut. Ajat tak bisa membalas kata-kata putranya.
“Adek sayang Kakak,” ucap Farouq pada Mischa, dia menggenggam erat tangan kakaknya lalu dilepaskan tangan kakaknya dan dia memeluk Santi kembali.
“Abang sayang Mami, Abang sayang Mami,” ucap Farouq berulang.
“Mami, Papi dan Kakak sayang Abang. Kalau Abang mau berangkat, Mami rela Nak. Kalau kamu sudah enggak kuat Mami enggak akan tahan agar kamu enggak menderita. Tapi kalau kamu kuat, kita akan selalu ada buat Abang. Kami akan selalu dampingi Abang,” ucap Santi yang membuat Ajat terbelalak. Dia tak menyangka akan ucapan Santi itu.
Mendengar kata-kata izin dari Santi itu Farouq terkulai. Santi menjerit sejadi-jadinya melihat Farouq seperti itu. Ajat langsung menekan bel emergency memanggil suster.
“Kakak tolong turun Kak biar suster dan dokter memeriksa ade,” kata Ajat dia mengangkat Mischa yang masih terpaku melihat adiknya pingsan.
“Bapak Ibu dan Kakak bisa keluar sebentar? Biar kami menangani pasien,” kata suster.
Ajat memeluk Santi dan membimbingnya keluar dia tahu Santi sangat sedih dan ketakutan melihat bagaimana kondisi Farouq barusan, Mischa menangis tergugu.
“Hubungi papa mama dan ayah ibu, pinta Santi. Dia sudah mempunyai firasat dengan kata-kata Farouq tadi. Setelah 8 hari tak bicara barusan bicara langsung mengatakan sayang. Tentu anak tersebut punya firasat.
“Kalau bisa hubungi pak Halimi, beritahu kondisi Farouq, juga minta detektif bawa ibu yang tolong ade biar dia juga ada di sini,” ucap Santi lagi.
Ayahnya Santi datang lebih dulu karena dia dari kanto,r ibunya datang belakangan. Sesudah mamanya Ajat. Papa Ajat malah belum datang dia terjebak macet di tol tak bisa bergerak katanya.
Kalau macet di tol tentu tak bisa turun langsung lari naik ojek. Mau tak mau ya bertahan sampai kemacetan terurai.
“Maaf Bapak, Ibu kami bawa ke ICU karena tak bisa ditangani di ruangan seperti ini,” kata suster. Ajat dan Santi mengizinkan mereka membawa Farouq ke ICU.
Ajat langsung menghubungi Adit karena semua harus diketahui abangnya tersebut.
“Kamu tenang dan jaga Santi. Ingat jaga Santi. Jangan sampai kenapa-kenapa,” kata Adit yang merasa Ajat memang adiknya. Jadi keduanya memang klik. Ajat menganggap Adit adalah abangnya, Adit menganggap Ajat adiknya.
“Iya Bang aku jaga Santi,” balas Ajat. Ajat menyampaikan permintaan Santi agar ibu pembantu yang memberi Farouq air gula diminta datang. Santi juga Ajat ingin berterima kasih.
“Maaf meeting saya skors. Pak Shindu tolong bantu saya meneruskan ini saya akan ke rumah sakit. Ada hal urgent yang harus saya tangani,” kata Dinda begitu mendapat bisikan dari Adit. Karena Adit datang ke ruang meeting hanya untuk memberitahu kondisi Farouq yang kritis.
Shindu merasa ada sesuatu hal yang sangat penting sehingga Dinda sampai memutus rapat yang sedang dia pimpin dengan konsumen. Saat itu dia melihat Dinda sudah mulai meneteskan air mata dan klien juga melihat perubahan wajah Dinda juga air mata di pipi pemimpin perusahaan tersebut. Klien mengerti bahwa sesuatu hal yang tak diinginkan sedang terjadi. Sehingga mereka juga tidak marah atau tersinggung saat Dinda pamit di tengah-tengah rapat.