GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BUKAN SATU-SATUNYA LELAKI DALAM HATI DINDA



“Kamarnya girly banget ya Mas,” kata Dinda mengamati kamar yang mereka tempati sementara sejak malam ini.


“Mungkin dulu kamar anak-anak mereka,” jawab Adit. Mereka sedang membahas suasana di kamar yang mereka tinggali ini yang sangat beda dengan nuansa kamar tidur mereka di rumah.


“Kalau tebakan Mas, anak kita ini ada yang perempuan enggak?” tanya Dinda ingin mendengar pendapat ayah jabang bayi dalam perutnya.


“Kalau feeling Mas ada, tapi kok suka ragu itu feeling atau harapan. Makanya suka bias dan Mas redam sendiri agar tak kecewa bila semuanya lelaki,” jawab Adit. Dia tak ingin berbohong tapi juga tak ingin Dinda berharap terlalu jauh. Adit tak ingin melihat jenis kelamin melalui USG takut Dinda kecewa dan tak baik bagi batin ibu hamil.


“Mas bagaimana sih?” protes Dinda.


“Ya kan Mas enggak lihat. Kalau Mas bisa lihat waktu nengok mereka, pasti Mas bisa kasih tahu kamu soal jenis kelamin mereka,” goda Adit.


“Ih Mas malah bahas gituan,” jawab Dinda jengah. Biar sudah lama menikah, tetap saja kalau membicarakan proses pembuatan baby, Dinda akan malu.


“Ya bener kan? Mereka kalau minta tengok enggak bilang : Ayah aku perempuan, Ayah aku laki-laki. Kan enggak ngomong gitu. Jadi Mas enggak tahu mereka itu laki atau perempuan,” Adit terus menggoda Dinda. Dia suka bila melihat Dinda yang tetap tersipu bila pokok bahasannya hal intim seperti itu. Adit tak tahu apakah semua perempuan akan seperti ini atau hanya Dinda saja. Adit hanya tahu Dinda karena istrinya hanya Dinda seorang.


“Mas ih suka gitu ah ngomongnya, sebel,” kata Dinda benar-benar malu.


Adit memeluk istrinya dengan gemas.


“Ya sudah bobok yuk. Nanti kamu terlalu capek,” Dinda langsung masuk ke pelukannya Adit dan segera memejamkan mata berupaya tidur.


Adit mengusap-nguasa perut istrinya juga punggungnya. Dinda senang kalau di usap punggungnya. Dia bilang terasa panas di bagian tulang punggung. Tak berapa lama Dinda sudah terlihat pulas.


Adit juga ingat Dinda kritis dan tak ada harapan sembuh, dia usap lembut pipi istrinya.


Adit juga tak pernah melupakan masa-masa pahit ketika Dinda menjauh dan mereka bercerai. Masa-masa di mana dia sendirian dan dunianya menjadi gelap. Papanya menjadi sangat kurus dan ringkih.


“Mas cinta kamu Din. Enggak akan pernah ada perempuan lain yang aku cintai selain kamu. Kamu cinta pertama dan terakhir aku. Kamu tahu itu kan? Aku enggak pernah mencintai perempuan lain walau pernah ada sosok yang lain tapi dia tak pernah aku cintai.”


“Mas sangat menyesalkan masa-masa itu. Semoga kamu tahu enggak akan pernah lagi Mas menyakiti kamu dengan kasus seperti itu. Jadi kamu enggak perlu ragu sampai kabur seperti kasusnya Merrydian atau ada kasus lainnya. Enggak akan ada yang bisa mengusir kamu dari hatiku,” kata Adit pelan, bukan dalam hati.


Adit tak sadar Dinda mendengar itu walau hanya lamat-lamat. Dikecupnya kening istrinya lalu dia peluk lembut tapi erat seakan takut Dinda kembali meninggalkannya. Adit pun ikut tertidur bersama istrinya tercinta.


‘Aku juga cinta kamu Mas. Kamu satu-satunya lelaki dalam hidup aku.’


‘Eh salah, kamu bukan satu-satunya ya?’ kata Dinda dalam hati.


Ada Fari, Iban dan Aidan dan mungkin tambahan lelaki dari kehamilannya sekarang. Tapi yang pasti dengan tiga lelaki kecil itu aja Adit bukan lelaki satu-satunya dalam hati Dinda.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~