GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MITONI



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Memang kenapa punya niat seperti itu?” tanya Adit ketika Dinda mengutarakan ingin membuat pengajian 7 bulanan pada kehamilan kedua kali ini. Biasanya acara MITONI atau nujuh bulanan hanya dilakukan pada kehamilan pertama.


“Kan dulu saat hamil Fari dan Iban acara pengajian pun enggak terlaksana Mas, apalagi sampai bikin acara adat. Karena aku tahu-tahu sudah koma di rumah sakit dan saat sadar sudah melahirkan.” Dinda mengungkapkan alasannya ingin membuat acara adat mitoni di kehamilan kali ini.


“Aku pengen banget ngerasain acara mitoni,” kata Dinda Usia kehamilannya sekarang sudah masuk 5 bulan. Di kehamilan kali ini ngidamnya Adit tak separah saat hamil si kembar. Sedang Dinda sama seperti kehamilan pertama, hobby makan.


Urusan kantor dan segala macam berjalan dengan lancar tanpa kendala begitu pun urusan bisnis pribadi Dinda.


Selama hamil Adit melarang Dinda pergi belanja ke luar negeri langsung, jadi dia hanya belanja online saja itu pun pesanan terus aja banjir. Alhamdulillah usahanya berkembang sangat maju.


Puspa juga punya income yang cukup besar hanya pegang handphone. Orang mengira  kerjaan Puspa hanya main-main handphone aja. Tak tahu kalau itulah pekerjaan ibu dua anak tersebut.


Puspa juga sudah cerai resmi dengan Rizaldy dan orang tua Rizaldy tidak menyalahkan Puspa yang sangat kecewa karena telah diduakan. Orang tua Rizaldy tahu Puspa cerai bukan karena Rizaldy sudah terpuruk melainkan karena sadar selama ini dia hanya buat keset oleh Rizaldy, karena Rizaldy lebih sering foya-foya dengan perempuan lain. Hasil korupsinya bukan fokus untuk Puspa dan anak-anak. Yang untuk Puspa full dari gaji halalnya.


“Iya kita bikin acara itu kalau memang Bunda mau. Memangnya ada larangan buat Bunda bikin acara tersebut?” tanya Adit sambil mengusap perut istrinya. Mereka sudah sepakat kehamilan ini tidak diketahui jenis kelaminnya. Jadi mereka masih meraba-raba janin yang dikandung Dinda kali ini lelaki atau perempua. Tapi sudah dipastikan hanya ada satu bayi. Sekarang setelah besar terlihat bayinya hanya satu, bukan dua seperti saat Ghibran dan Ghifari ada di perut.


Eddy pun tak melarang kalau akan diadakan acara nujuh bulanan yang lengkap dengan dodol dawet dan segala macamnya. Eddy tak melarang karena itu adalah budaya. Selain itu kan juga diadakan pengajian jadi agama dan budaya tetap berjalan selaras.


Tentu saja Dinda senang ketika mertuanya setuju saat dia dan Adit minta izin melakukan acara tersebut.


“Apa kamu berharap anak ini perempuan?” tanya Eddy.


“Aku sih berharap begitu, tapi Mas Adit maunya laki Pa. Biarin aja kita lihat aja nanti pada saat kelahiran. Kami sudah bersyukur kembali diberi kepercayaan tambah momongan,” kata Dinda dengan senyum manisnya.


“Kemarin saat kontrol dokter bilang aku aman ngelahirin normal Pa. Karena usia nak-anak sudah dua tahun. Buat yang mengalami caesar kan dianjurkan tak melahirkan bila bayi belum berusia 2 tahun, karena di khawatirkan saat mengejan untuk melahirkan bisa membahayakan jahitan lama.”


“Aku sudah bisa melahirkan normal dan selama ini tidak ada kendala sehingga aku berharap bisa merasakan melahirkan secara normal bukan caesar.”


“Alhamdulillah,” jawab Eddy.


Dinda memperhatikan kedua anaknya dihalaman belakang, mereka tak boleh ke terasa karena banyak pekerja yang sedang memasang tenda untuk acara nujuh bulanan yang akan dilakukan esok pagi hingga siang.


Mitoni atau nujuh bulan adalah tradisi ini dilakukan demi mendoakan keselamatan ibu hamil dan janin di dalam kandungan. Keberagaman budaya di Indonesia membuat setiap daerah mempunyai tradisi masing-masing dalam merayakan kehadiran bayi di dalam kandungan.


Salah satunya seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa. Budaya Jawa memang menanamkan pada masyarakat prinsip golek slamething dhiri (mengejar keselamatan dalam hidup dan keselamatan jiwa di akhirat), sehingga segala bentuk syukuran bertujuan untuk keselamatan diri, keluarga serta  masyarakat.


Acara mitoni diawali dengan ritual kenduri, yakni ritual berkumpul bersama kerabat atau tetangga untuk makan dan berdoa sesuai dengan kepercayaan. Dinda dan Adit tahu akan ada acara makan bersama di ritual kenduri, tapi mereka kan hanya bisa makan secara formalitas. Itu sebabnya mereka tadi mengupayakan sarapan yang benar terlebih dulu.


Eddy mengundang pelaku usaha pelestari lingkungan untuk memandu acara mitoni. Karena tak bisa menggunakan WO atau wedding organisasion kan? Acara dipimpin ibu penyelenggara yang mahir dan mengerti semua makna dalam acara mitoni. Ibu itu duduk bersila di atas alu ( lumpang ) kayu yang biasa digunakan untuk menumbuk padi. Hal ini melambangkan penghapusan kejahatan dan bencana yang akan datang.


Makanan yang disajikan berupa makanan tradisional, bahkan memiliki makna masing-masing. Puding beras merah putih melambangkan kekuatan fisik, lalu dua buah kelapa bergambar tokoh pasangan terkenal yakni Arjuna dan Sumbadra.


Tokoh pasangan ini mencerminkan harapan bagi orangtua akan penampilan serta sifat bayi yang akan lahir di masa mendatang. Jika laki-laki diharapkan dapat tampan dan sopan seperti Arjuna, lalu apabila perempuan maka akan cantik dan setia seperti Sumbadra.


Setelah acara ritual kenduri selesai dilakukan dengan panduan dari ibu pemimpin ritual, maka sekarang akan dilakukan ritual sungkeman.


Dinda menangis tersedu saat acara akan dimulai. Dia tak bisa sungkem pada kedua orang tuanya juga pada mamanya Adit. Pada ritual ini, Dinda sebagai calon ibu harus menyapa orangtua dengan penuh pengabdian dan kesopanan. Dirinya harus memberi sungkeman atau ngabekti di depan orangtuanya yang hanya tinggal Eddy seorang. Karena kakek dan nenek dari dirinya juga dari Adit sudah tak ada semua.


“Pa, aku meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat dan aku meminta restu Papa agar aku bisa melahirkan dengan selamat dan bayinya sehat ya Pa,” ucap Dinda saat sungkem pada Eddy.


Adit pun melakukan sungkem, minta maaf dan minta Eddy memberi restu untuk istrinya.


Setelah sungkeman maka acara dilanjut dengan ritual siraman.  Siraman berasal dari kata siram yang berarti mandi. Ritual mandi suci ini dilakukan untuk menyucikan ibu hamil serta bayi di dalam kandungan.


Seperti biasa dalam hitungan adat Jawa Dinda disirami oleh tujuh orang tua, yang dia ambil dari kerabat mama Ina dan juga kerabat papa Eddy.


Sesudah acara itu Dinda segera menggunakan baju. Dalam acara ini tak dilakukan berganti tujuh kali. Pemandu langsung memakaikan Dinda baju adat kembali. Agar tak terlalu lama dan melelahkan.


Acara yang masih ada yaitu ritual brojolan. Dalam proses ini, dua buah kelapa muda yang dipahat dengan ukiran gambar Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih telah disiapkan. Tanpa melihat kelapa, sang calon Papa akan memilih kelapa dan memotongnya dengan pisau.


Jika kelapa terbelah menjadi dua, para tamu akan mengatakan ini anak perempuan, namun bila dari kelapa muncul pancuran seperti santan, maka para tamu akan berkomentar ini anak laki-laki.


Dan kali ini Adit ternyata mendapat komentar bayi yang Dinda kandung adalah laki-laki. Entah benar entah salah, itu hanya perlambang saja.


Acara dilanjut dengan ritual angrem. Dalam bahasa Jawa, angrem berarti penetasan telur. Calon orangtua duduk di atas tumpukan kain batik seolah-olah duduk di atas telur, ini melambangkan kelahiran bayi yang selamat pada waktu yang tepat.


Akhirnya tiba di penghujung acara yaitu Dinda dan Adit menjual rujak dan dawet atau cendol. Rujak melambangkan semangat hidup dan dawet menggambarkan kelahiran bayi yang lancar dan aman.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.