GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
GARIS LURUS



“Mama sama Papa, Ibu sama Ayah, bersiap, dokter sudah bilang kami harus mengikhlaskan Farouq. Dia tinggal tunggu kata-kata ikhlas kita. Dia akan berangkat. Rupanya Farouq tahu maminya sudah bilang ikhlas ke dia tapi hanya di mulut. Belum di hati karena itu Farouq belum mau berangkat,” kata Ajat sambil terisak mengatakan itu pada kedua orang tua juga mertuanya yang menunggu dia di luar ketika dia sudah dipanggil dokter.


“Santi minta hanya kami berempat yang di dalam ruangan. Jadi mohon saja kalian bersiap. Habis ini mungkin kami langsung urus Farouq di sini. Abang aku minta Abang bantu mama papa sama ibu ayah siapin penyambutan Farouq di rumah kata Ajat sambil memeluk Adit.


“Kamu harus ikhlaskan juga dalam batinmu, biar Farouq berangkat dengan tenang. Abang akan siapin semuanya. Kamu tenang, Abang siapin,” kata Adit juga ikut mulai menangis. Dinda sudah tak Mischa berkata-kata sudah menangis sejak tadi begitu Ajat keluar ruang ICU dengan wajah pias tanpa Santi.


“Ayo Kak kita bersiap. Kakak ketemu adik untuk terakhir,” kata Ajat. Dia pun langsung menggandeng Mischa ke dalam ruang ICU.


Di dalam ruangan Ajat melihat Santi sedang berbisik di telinga Farouq.


“Kakak bisikin ke adik kalau Kakak sayang adik dan nanti kita bertemu di surganya Allah,” kata Ajat pada Mischa. Dia sudah berupaya menghalau semua air mata. Dia juga bawa satu pak tisu dari Dinda tadi untuk Santi dan Mischa nanti di dalam ruangan.


“Iya Pi. Kakak mengerti,” Kata Mischa.


“Berangkatlah Nak, berangkatlah Papi rela dan ikhlas,” bisik Ajat di telinga kiri Farouq, karena di telinga kanan ada Santi.


“Maafin Papi kalau selama ini Papi kurang baik menjadi ayah buatmu. Yang pasti Papi sayang adik. Papi sayang banget sama adek,” kata Ajat. Lalu dia mundur dan memberikan kesempatan untuk Mischa berbisik.


Santi dan Ajat terpaku mendengar kata-kata Mischa. Rupanya sejak mereka kecil mereka berpelukan erat untuk mengatasi kesulitan tanpa ibu dan ayah. karena saat itu Ajat juga menjauh dari mereka. Mereka mengalami masa kelam itu berduaan. Jadi memang kedekatan batin mereka itu tak tergantikan oleh apa pun.


“Berangkatlah Bang, berangkatlah,” kata Santi lagi.


“Mami kuat. Mami akan dijagain oleh Kakak. Kamu juga jagain Mami dari atas ya? Kamu jagain adek juga,” kata Santi dengan terbata. Dia harus rela mengatakan itu setelah Ajat dan Mischa bilang rela Farouq pergi. Sejak tadi dia hanya mengatakan betapa berartinya Farouq buat dirinya.


“Mami, kuat Mami ikhlas kok Abang berangkat. Papi dan Kakak juga ikhlas,” kata Santi. Tak lama monitor menunjukkan garis lurus.


Santi berteriak walau barusan sudah bilang ikhlas, tapi melihat monitor itu menunjukkan garis lurus dia tetap berteriak. Ajat langsung memeluk Santi berharap istrinya tidak pingsan.


“Kuat Mi, kuat demi Dede di perut. Dokter bilang kan kamu harus kuat. Kasihan dedek, kasihan abang. Kamu sudah bilang kamu ikhlas. Jadi jangan sampai pingsan. Kalau kamu pingsan berarti kamu tidak ikhlas. Mami harus kuat demi dedek. Sekarang kita harus pikirin dedek dan Kakak. Abang tetap ada di hati kita. Enggak akan ada yang bisa gantiin Abang. Siapa pun itu. Tapi kita harus kuat berdiri tegak.” Ajat langsung memencet bel perawat.


“Baik Bapak, Ibu, silakan mundur dulu kami akan mengurus adik Farouq,” kata suster tanpa berupaya membuat pertolongan bagi Farouq karena mereka sudah tahu kondisi fisik Farouq dari dokter.


Ajat membawa Santi yang menggandeng Mischa keluar ruangan.