GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
LANGKAH BARU DINDA



Satu bulan berlalu dari family gathering cabang Ajeng. Minggu depan akan diadakan family gathering cabangnya Wika. Semua sedang sibuk dengan hal itu, selain kegiatan utama kantor.


Family gathering memang diadakan tiap bulan, hanya bergilir sehingga jatuhnya setiap cabang tentu akan kena 6 bulan sekali. karena kantor pusat pun mengadakan family gathering sehingga ada 6 kantor tentu jaraknya akhirnya 6 bulan sekali.


Siang ini Dinda memanggil semua tim arsitek baik perempuan maupun lelaki. Dari hasil kerja otak dan tangan merekalah uang masuk perusahaan terjadi atas kerja keras mereka maka perusahaan bisa maju.


Selain itu Dinda juga memanggil semua tim marketing karena dengan kerja keras promosi mereka perusahaan mendapat order.


“Selamat siang menjelang sore. Sengaja saya kumpulkan sesudah makan siang karena saya tidak ingin terpotong dengan makan siang dan salat dzuhur bagi yang melaksanakannya,” kata Dinda memulai rapat di aula besar siang itu.


Hari itu datang Eddy sebagai pendiri perusahaan, juga pastinya ada marketing manager yaitu Radit. Ada sekretaris CEO yaitu Irene dan Shindu. juga ada kepala divisi keuangan, kepala HRD, kepala gudang dan semua kepala cabang.


“Hari ini saya ingin menerapkan peraturan baru bagi ujung tombak perusahaan. Saya tahu, dari hasil kerja kalian perusahaan ini berhasil berdiri kokoh. Yang tidak setuju dengan peraturan baru ini silakan Anda keluar. Anda bisa membuat surat pengunduran diri dan akan saya buatkan surat referensi bekerja dari perusahaan ini.”


“Ada apa Bu?” tanya beberapa orang tak sabar.


“Saya ingin semua pegawai di sini adalah orang yang jujur! Saya ingin semua hasil usaha membawa berkah. Semua rezeki di kantor ini membawa berkah untuk keluarga jadi kalian bisa berpikir masak-masak tentang apa yang saya tetapkan.”


“Saat ini sudah ada kepala HRD dan kepala divisi keuangan pusat. Nanti di kantor cabang juga akan saya terapkan seperti ini, karena itu 5 kepala kantor cabang juga ada di sini. Saya memang mengundang semua kepala Kantor cabang yaitu ibu Wika, ibu Ajeng, ibu Santi, Pak Fahrul dan Pak Ilham,” kata Dinda.


“Peraturan ini akan mengikat semua kkaryawan bagian marketing dan team arsitek di seluruh kantor saya jadi ini memang kebijakan saya. Sekali lagi saya tekankan ini kebijakan saya yang tidak setuju silakan mundur,” semua meraba-raba apa yang akan Dinda tekankan.


“Bila dia laki-laki mulai bulan ini semua gaji dan bonus akan diberikan melalui rekening pasangannya yang terdaftar resmi di kantor dengan bukti diri surat nikah dan juga paangan harus hadir untuk memanda angani ketentuan baru ini.”


“Sebaliknya untuk yang perempuan semua gaji akan diberikan kepada rekeningnya dengan catatan tembusan akan dikirim ke email suami atau pasangannya.”


“Saya tidak ingin ada yang sembunyi-sembunyi di sini. Itu sebabnya tadi saya tekankan apabila anda tidak berkenan dengan kebijakan saya ini silakan mengajukan pengunduran diri. Kami dengan senang hati akan memberi referensi kerja bagi anda semua.”


“Untuk yang setuju silakan Anda hubungi bagian HRD eh sorry memberikan data rekening istri anda berikut data diri istri anda kepada bagian keuangan dan juga nomor telepon istri anda yang bisa dihubungi agar bagian keuangan bisa mengecek apakah itu benar nomor rekening istri anda dan apakah itu benar data diri istri anda. Kalau saat di krosscek kebetulan ditemukan tidak benar maka anda di PHK!”


“Jadi kalau anda berbuat kebohongan dengan memalsukan data diri rekening dan istri Anda. Anda langsung dipecat tidak ada referensi kerja.”


“Yang ingin mengundurkan diri silahkan hubungi HRD, nanti akan diberikan surat referensi kerja untuk anda mencari pekerjaan lain.”


“Saya rasa hanya itu pengumuman dari saya. Silakan Anda pikirkan satu hari ini karena lusa keputusan Anda sudah harus ada di bagian keuangan atau HRD,” ujar Dinda.


“Bagian keuangan akan menghubungi pasangan anda jadi butuh waktu 1 minggu beliau bekerja dengan data yang terbaru agar gajian bisa turun tepat waktu.”


“Demikian pengumuman saya, terima kasih atas waktunya selamat siang!” kata Dinda.


Tak ada yang mengerti jalan pikiran Dinda saat itu. Yang mereka tahu ini memang kebijakan yang baru tapi banyak yang tak peduli karena memang biasanya mereka langsung memberikan semua gajinya pada istrinya.