
Hari ini perjuangan panjang Dinda dan Adit dimulai. Mereka mengambil raport semua anak satu persatu. Semua anak raportnya diambil oleh mereka berdua. Adit dan Dinda juga diskusi dengan guru tiap anak mengenai perkembangan anak mereka. Dan di tiap kelas Adit membuat video selintas saat mereka masuk kelas anak tersebut dan menemui gurunya. Sehingga Adit punya bukti bahawa mereka semua mendapat perlakuan yang sama. Hanya video singkat saat Dinda bersalaman dengan guru untuk mulai konsultasi dengan narasi dari Adit dan juga ada Adit di sana.
Khusus untuk Iban dan Fari raportnya akan diambil siang nanti karena mereka sekalian pengumuman kelulusan.
Tak ada keluh capek, tak ada keluh bosan apalagi marah. Mereka benar-benar menikmati peran dan tanggung jawab sebagai orang tua. Semuanya itu adalah rizky yang mereka terima, memiliki 6 anak tanpa terduga.
“Alhamdulillah semua anak berprestasi ya Yah,” kata Dinda saat mereka keluar dari sekolah dan hendak menuju super market.
“Ayah nggak pentingin prestasi mereka Bun. Ayah hanya ingin mereka mendapat hasil optimal saja. Takutnya kalau ditekan harus berprestasi mereka akan stres karena mereka pasti ada yang punya gen Ayah, gen yang tidak terlalu pintar,” ucap Adit yang sering merasa minder bila sudah bicara tentang kemampuan akademik.
“Ayah bukan nggak pintar, cuma waktu itu Ayah kurang support aja. Sehingga Ayah tuh tumbuh apa adanya.”
“Sebongkah berlian itu nggak akan berkilau kalau tidak digosok, walau dia tetap berharga. Itulah kamu!”
“Saat itu mama dan papa nggak sempat gosok kamu, sehingga kamu tumbuh apa adanya. Sebenarnya kamu berpotensi karena memang kamu adalah berlian. Itu yang aku nilai dari kamu Yah,” Dinda berupaya membuka siapa Adit sesungguhnya.
“Buktinya kamu bisa langsung kejar ketinggalan kamu di kampus begitu aku bisa gosok kamu. Dari mahasiswa calon DO, ngebut dengan ancamanku, bisa langsung dapat nilai B! Itu suatu prestasi yang membanggakan. Kalau hanya dapat C, itu masih standar lah. Tapi kamu bisa langsung dapetin B, itu kan sangat luar biasa jadi aku tahu kamu itu bisa.”
“Begitu pun kerjaan di kantor, apa sih yang kamu nggak bisa? Harusnya Ayah cuma di marketing, tapi lihat, semua hal kamu bisa! Itu hanya karena siapa di samping kamu. IT ALL DEPENDS ON WHO IS THE PERSON BESIDE YOU.”
“Tapi kalau sudah cemerlang seperti sekarang lalu ada yang mau ambil itu kelewatan. Mereka tinggal mau enaknya aja. Mungkin ini out of topic ya Mas, kita lihat aja deh beberapa pasangan di luar sana.”
“Merangkak dari nol bersama, lalu mereka tiba-tiba berhasil. Suaminya jadi hebat dan kaya, suami lupa diri kepincut pelakor yang dia lihat lebih cantik dari istri lusuhnya yang lelah di rumah. Dia tidak sadar dia bisa seperti itu karena orang di sebelahnya adalah orang yang tepat.”
“Begitu hidup sama pelakor, pelakor itu nggak bisa menghandle laki-laki tadi ya udah bisnisnya langsung habis. Bukan hanya karena si pelakor itu cuma ngandelin duit tapi karena si pelakor tidak bisa membuat wawasan laki-laki tadi menjadi secemerlang saat seperti biasa didampingi oleh istrinya itu yang aku lihat.”
“Banyak orang bilang lain istri lain rezeki. Aku nggak merasa istilah itu tepat tapi yang tepat adalah lain istri lain manajemen, jadi kalau nggak bisa memanage suaminya ya udah, hancur lebur.”
“Bener Bun, Ayah percaya itu. Kalau aku dengan Shalimah aku pasti nggak sepotensial ini. Aku ya Adit apa adanya. Tapi dengan kamu, dengan manajemen kamu, dengan tangan kamu aku bisa seperti sekarang.”
“Mungkin kalau aku dengan Shalimah dulu, Bram sebagai anak kami ya cuma segitu aja. Enggak bakal mungkin aku bisa mendidik anak aku dengan Shalimah seperti aku mendidik anak-anak dengan kamu itu sangat beda.”
“Kamu yang wanita karier sudah di kantor aja pulang langsung konsentrasi penuh buat anak. Shalimah full day di rumah, gantiin diapers anak aja enggak mau. Banyak ibu di luar sana yang tidak bekerja tapi full penuh konsentrasi buat anak tapi belum tentu hasilnya sebaik kamu juga. Jadi Mas yakin semuanya itu memang tergantung orang di sebelahnya.”
“Dan aku bersyukur kita bisa jadi tim yang terbaik,” kata Dinda dengn penuh cinta.