
“Yang ini namanya siapa Bun?” kata Fari dengan pelan-pelan dia berbisik, seakan takut adiknya keberisikan. Dia usap lembut pipi adiknya.
“Itu adik kedua, adik kedua namanya Ghazanfar. Dan ini yang bungsu namanya Ghaylan.”
“Adik Ghaylan kecil banget,” kata Iban.
“Kamu juga dulu kecil kok. Memangnya kamu langsung gede,” ucap Adit.
Mereka sekarang bertujuh ada di ranjang king size, karena Ghaidan tidak ada bersama mereka.
“Yah, ambil tripod,” pinta Dinda.
“Iya Yah foto kita berlima,” pinta Iban.
“Tapi kan enggak ada Ghaidan. Harusnya ada Ghaidan kalau mau bikin foto,” kata Adit.
“Sudah neggak apa-apa tanpa Ghaidan, sekarang kita dulu.” kata Dinda.
Adit pun memasang ponsel di tripodnya, berbagai gaya mereka lakukan.
“Sudah yuk, sudah cukup malam. Sekarang waktunya kalian bobo. Ayah temani yuk,” ajak Adit.
Ayo Bunda antar yuk Mamas sama Abang,” kata Dinda. Dia pun mengajak kedua putranya pergi ke kamar masing-masing. Di hari pertama kepulangan triplet Dinda tidak mau anak-anak merasa dia mendahulukan triplet.
Dinda menemani di Fari dan Iban secara bergantian dengan Adit sampai keduanya tidur.
“Ghaidan sudah bobok ya Yah?” tanya Dinda saat mereka sudah di kamar utama.
“Sudah, tadi ditemani kakek,” jawab Adit.
Memang Ghaidan yang paling dekat dengan kakeknya. Walaupun sudah ditemani Adit dan Dinda tidur tapi kalau sang kakek belum menina bobokannya dia tidak akan cepat terpejam matanya
“Maksudmu pintar bagaimana Bun?” tanya Adit.
“Dia mencari celah aman. lebih baik dia sendirian memiliki kakek daripada rebutan memiliki kita berdua,” Dinda mengungkapkan analisinya.
“Ha ha ha benar dia pintar cari peluang yang terbesar,” jawab Adit.
“Dia tahu walaupun dia bungsu dia tidak akan menjadi yang utama buat kita. Sehingga dia lebih nyaman dengan kakek,” begitu kata Dinda selanjutnya.
“Semoga dengan tambah tiga ini kita juga pintar membagi waktu untuk yang lain ya Yah.”
“Itu yang harus kita pikirkan baik-baik dan ingat kita juga tidak boleh menomor satukan Gathbiyya,” Dinda tegas tak mau memanjakan melebihi yang lainnya.
“Ya, Gathbiyya tidak boleh menjadi yang utama dari yang lainnya,” Adit juga setuju.
“Sudah sekarang Bunda istirahat dulu. Nanti keburu anak-anak bangun.”
“Iya Yah. Bunda tidur ya,” kata Dinda. Dia pun segera terlelap. Tadi sepanjang hari Dinda sudah menampung ASIP, karena takutnya tak bisa memegang tiga sekaligus.
Dulu waktu zaman Ghifari dan Ghibran, dia masih bisa menyusui dengan dua sekaligus. Istilahnya TANDEM. Kalau sekarang bagaimana bisa tandem wong jumlahnya 3. karena itu Dinda banyak memerah ASInya.
“Bun, inget ya. Tidak boleh terima tamu dulu. Sampai 1 minggu ini Bunda harus istirahat total. Sesudah itu baru boleh menerima tamu entah dari keluarga maupun dari anak-anak kantor.” Itu pesan Adit tadi sebelum Dinda tidur.
Setelah Dinda tidur Adit turun dari ranjang dan menghampiri kamar Ghaidan. Dia lihat jagoan kecilnya sudah terlelap. Adit membetulkan selimutnya.
“Ayah enggak nyangka akan punya kamu Dek. Bahkan Ayah enggak pernah nyangka punya mamas dan abang.”
“Kamu adalah pemersatu ayah dan bunda,” bisik Adit. Karena memang Ghaidan terlahir setelah dia dan Dinda rujuk. Adit mencium keningnya Ghaidan lalu keluar kamar tersebut. Sekarang dia menuju kamar baby triplet.