
“Ayah liburan yuk?” ajak Dinda.
“Mau liburan ke mana?” tanya Adit.
“Kan waktu itu kita gagal mau ke Thailand bawa anak-anak karena aku hamil. Habis itu cuma kita berdua yang bolak-balik Thailand, Singapore maupun Australia buat belanja saja. Belum bawa anak-anak lagi.” kata Dinda.
“Lupa ya minggu lalu baru bayar tanah?” tanya Adit.
“Bukan soal uangnya enggak cukup buat kita liburan, tapi kan kamu janji minggu ini sudah mulai pembangunan proyek-mu itu. Masa lupa sih?” Adit mengingatkan istrinya.
“Ya ampun lupa Yah. Beneran lupa,” kata Dinda. Tadi tercetus liburan saat melihat iklan Pororo Park Thailand di ponselnya.
Kemarin dia sudah menggelontorkan dana belanja semua bahan yang diperlukan sesuai list yang Bagas buat. Dia dan Bagas sudah diskusi tentang semua material dan design. Baik design dapur terbuka mau pun design rumah kaca atau green house untuk keperluan anak-anak belajar.
Selain itu juga di siapkan arena untuk persilangan hewan, yang terpisah dengan green house tanaman.
“Kita mendingan hunting alat-alat untuk itu saja kalau bahannya, yaitu tanaman dan hewan biar anak-anak yang pilih. Mereka maunya apa nanti kita tinggal temani mereka beli,” ujar Adit sambil mempererat pelukan pada istrinya. Istri super istimewa yang telah memberinya enam kurcaci yang menggemaskan.
“Kalau green house nya kan sudah aku buat Yah, alat sudah di belikan Bagas karena aku masukkan di list dia sampai aneka pinset, alat berkebun mini karena untuk ukuran pot beda dengan berkebun di lahan luas. Alat apa saja yang harus di beli?”
“Ya alat dapur itu kan juga perlu kita beli yang baru jangan pakai yang di rumah. Juga kursi-kursi artistik yang dari kayu saja buat dibawa pohon jadi sesuai dengan konsep alam yang kita buat,” jawab Adit sambil mempermainkan rambut di kening istrinya.
“Jangan lupa beli dispenser baru, juga semua panci dan wajan kecil buat di dapur sana jadi kalau kita mau bikin mie atau mau bikin apa semuanya sudah ada di sana. Kita taruh gula, kopi, sirop untuk menyiapkan para tamu yang akan ke sana.”
“Oh kalau itu pasti beli baru tapi kalau untuk piring dan segala macamnya nggak perlu lah. Yang di rumah sudah sangat banyak. Sayang kalau kita beli baru tapi kalau kompor dan alat masak ya kita beli baru,” kata Dinda.
“Gula, kopi? Kesannya itu akan jadi ruang tamu kita ya? Bukan green housenya anak-anak,” kata Dinda terkekeh. Karena sudah ngebayangin mereka akan selalu santai di sana.
“Mendingan kita jalanin proyek itu saja. Bawa anak-anak hunting belanja hewannya. Kalau persiapan bahannya bagaimana?”
“Hewannya belakangan saja Yah. Nanti kalau tempatnya sudah selesai. Selama tempatnya belum selesai kita jangan bilang kita hanya perhatikan pembangunan dari jauh. Tukang-tukang juga kita bilang jangan minta petunjuk ke kita saat ada anak-anak. Jadi benar-benar itu proyek rahasia walaupun di depan mata,” ucap Dinda dengan mata berbinar punya kejutan buat semua anaknya.
“Oh siap Bu Bos. Saya mengerti,” kata Adit.
“Berarti mulai sekarang kita tanya saja kira-kira mereka mau hewan seperti apa yang kecil-kecil saja bukan hewan besar untuk ditaruh di sana,” ucap Dinda.
“Boleh, boleh. Kita tanyain mereka dan kita persiapkan rumah hewannya kalau misalnya ada yang mau kucing berarti kan kita harus siapkan lahan yang tertutup untuk kucingnya agar tak kena hujan dan angin.” Adit tak ingat kalau atas bagian dapur dan toilet itu dari fiber transparan yang tak akan kehujanan tapi tetap dapat cahaya matahari.
“Kita harus siapin satu tenaga untuk bersihin kotorannya deh. Kucing kan bau banget kotorannya di mana-mana. Kita nggak mungkin ajarin dia untuk buang air di pasir seperti kucing peliharaan dalam rumah. Begitu pun kelinci. Jadi harus ada satu tenaga buat bersih-bersih kotoran setiap hari,” ucap Dinda. Tak sadar malam semakin larut, karena mereka sangat antusias membicarakan proyek rahasia mereka.
“Jangan tugasin para mbok ke green house. Mereka sudah terlalu banyak kerjaan dengan enam anak kita dan kakek,” kata Dinda lagi.
“Kan ada suaminya bu Ponirah? Biar dia bersih-bersih kandang setiap pagi sebelum dia keliling. Nanti kan dia tinggal tidak jauh dari sini kalau Ajat sudah pindah.” usul Adit.
“Biar sebelum dia keliling dia pagi-pagi ke rumah kita. Jadi dia tiap hari di sini buat bersih-bersih dulu baru dia keliling entah ke tempatnya ibunya Santi atau mamanya Ajat atau ke tempat Santi baru ke tempat kita. Tapi setiap pagi dia ada di sini,” kata Adit.
“Kalau memang seperti itu Bunda plong. Jadi kotorannya nggak bau banget karena tiap pagi di bersihkan,” kata Dinda tenang.
“Sip kalau begitu semuanya sudah tak ada kendala. Nggak perlu kita liburan dulu. Saat ini kita urus proyek rahasia saja,” kata Adit.
“Oke aku akan tanya mereka mulai nanti malam mau pelihara apa saja,” ucap Dinda sambil membetulkan selimut menutup tubuhnya tang tanpa busana. Percuma dia pakai kalau tengah malam akan terjadi peperangan susulan.
Tentu saja Dinda sangat senang karena kandangnya itu tinggi 3 meter ke atas jadi pohon-pohon itu tidak ditebang habis mereka memang hanya ditebang separuh agar melebar ke samping. Dinda dan Adit tak sabar ingin segera proyeknya selesai.