GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
AMARAH NONA ALKAV



“Maaf, bukan maksud aku ganggu kerjaan ayah. Aku juga tahu kok ayah kerja buat kita dan bosnya ayah itu adalah Bunda,” kata Ghaylan sambil menatap Dinda.


“Aku tahu kok walau di kantor, Bunda itu lebih tinggi jabatannya dari ayah tapi Bunda nggak pernah sewenang-wenang sama ayah. D  rumah juga semua keputusan itu selalu diputuskan bersama antara Bunda sama ayah.”


“Tapi aku dikatain, katanya ayahku itu cemen. Mau aja diperintahin sama Bunda. Makanya ayahku nggak pernah berani nganterin aku ke sekolah karena dijadiin pesuruh di kantor Bunda!,” jelas Ghaylan lirih.


“Aku nggak terima ayahku dibikin seperti itu!” kata Gathbiyya keras. Rahangnya langsung tertarik. Wajahnya kaku.


“Lalu peran ayah datang ke sekolah hari ini buat apa?” tanya Ghifari bijak. Ghibran mencoba menenangkan Gathbiyya. Dan Dinda hanya diam memperhatikan anak-anaknya diskusi.


“Buat buktiin kalau ayah itu bukan pesuruhnya Bunda,” balas Ghaylan.


“Bagaimana cara buktiin bahwa ayah itu bukan pesuruhnya Bunda? Kamu nyuruh Bunda ngelapin sepatu ayah di depan temanmu atau bagaimana? Biar terbukti bahwa ayah itu bukan pesuruhnya Bunda? Percuma kan ayah nganterin kamu!” kata Ghazanfar.


“Aku cuma mau kasih lihat aja ayah bisa datang ke sekolah,” jawab Ghaylan.


“Itu bukan solusi untuk menjawab tuduhan dia! Seharusnya kamu tanya dulu, diskusiin dulu sama kita kita,” kata Gathbiyya tegas.


“Iya, kamu tuh nggak diskusiin sama kita dulu. Seharusnya kita diskusikan bagaimana menjawab omongan dia. Bukan caranya datengin ayah,” kata Ghaz marah. Kalau soal gini Ghaz tentu akan bicara.


Sebaliknya dua kakak kembar mereka diam saja. Ghaidan yang tidak kembar sendirian juga diam.


“Kalau Abang bilang sih, lebih baik nggak perlu dijawab masalah sepele seperti itu. Kamu nggak usah baperan, bikin kamu nanti dikatain anak mami! Ngapain kamu cengeng seperti itu. Tunjukin kalau kita lebih bagus karena prestasinya. Dulu Abang juga pernah berbuat salah, tapi memang itu spontan waktu Biyya mau dilecehkan orang 2 tahun lalu.”


“Sekarang kamu pikir dulu apa yang akan kamu lakukan untuk menjawab solusi tadi. Kedatangan ayah ke sekolah bukan jawaban dari permasalahanmu, karena selama ini ayah yang selalu ambil raport kita. Ayah yang selalu mengatasi kalau ada persoalan di sekolah. Ayah yang selalu ngurusin kita semua. Kalau urusan mengantar itu memang sudah pembagian tugas antara  ayah dan bunda. Selama ini kamu tahu kan semua pasti ayah yang urus. Kenapa jadi omongan orang seperti itu aja kamu bikin galau? Jadi baper? Nanti jangan salahin Abang kalau ada orang nuduh kamu anak mami, anak manja, anak kolokan, karena kamu nggak buktiin bahwa kamu kuat!” kata Abang Ghibran.


“Iya, maaf aku salah,” jawab Ghaylan.


“Harusnya kamu bilang sama aku aja, aku tampol dia!” ancam Gathbiyya.


“Janganlah Mbak. Nggak perlu kamu turun tangan seperti itu,” kata Dinda yang sejak tadi diam mengamati diskusi anak-anaknya. Karena Biyya sudah akan turun tangan maka dia ikut bicara.


“Biar dia tahu aku juga anak ayah dan aku nggak suka ayahku diomongin kayak gitu,” kata Gathbiyya belum mau turun emosinya.


Seperti kita tahu diantara 6 anak itu Gathbiyya yang paling tinggi tingkat kemahiran karatenya. Bahkan Ghifari dan Ghibran pun kalah karatenya sama Gathbiyya. Mereka kalah dua tingkat. Nggak main-main memang nona Alkav itu.


“Karena ayah sudah ikut ke sekolah, untuk sementara biar saja nanti Ghaylan ayah yang antar ke kelas. Yang lain tetap sama Bunda. Tapi untuk solusi jawaban teman kalian itu, harus kalian pikir dulu.” Dinda menengahi persoalan anak-anak pagi ini.


“Biar aku yang urus,” kata Gathbiyya.


“Aku yakin anak itu sama sekali nggak punya bapak sama ibu. Kalau dia punya bapak pasti dia nggak akan ngomong kayak gitu. Dia ngomong seperti itu karena dia iri sama semua yang kita punya. Kita punya ayah dan Bunda yang solid. Yang sayang sama kita. Yang selalu ada saat kita butuh. Kita punya kakek yang hebat,” kata Gathbiyya lagi.


“Kalau harta banyak yang lebih dari kita kok. Aku tahu itu. Ada yang punya pulau kok di kelas aku. Ada yang punya pesawat pribadi,  tapi mereka nggak punya ayah sama ibu. Jadi itu yang bikin mereka ngiri!” Dinda terperangah mendengar jawaban putri kecilnya yang berusia tujuh tahun dan duduk di kelas 5 SD itu.


Ghaylan masih di kelas 3, sedang Ghazanfar di kelas 4. Sama-sama lahir dalam hari yang sama jam yang sama selisih beberapa menit tapi kelas mereka memang berbeda.