
“Kakak, Adik, Mama minta sekarang Kakak sama Adik berbesar hati. Sejak kemarin Mama tak minta kalian bicara pada Papa. Tapi kali ini Mama mohon, bisikanlah kalian memaafkan Papa agar kalau dia mau pergi dia enak jalannya. Tapi kalau dia mau bertahan dia akan berupaya untuk bertahan. Sekarang kondisi Papa semakin lemah. Mungkin Papa menunggu keikhlasan kalian saja,” kata Sondang dengan terbata-bata. opung sudah menangis mendengar perkataan Sondang itu. Adit dan Dinda sejak tadi memang duduk di sebelah kedua putri Sondang. Mereka masing-masing memeluk bahu kedua gadis kecil itu.
Tanpa menunggu perkataan Sondang selanjutnya, Icha langsung berlari masuk. Tentu tidak bisa langsung menemui papanya, dia harus menggunakan pakaian khusus untuk masuk ruang ICU.
“Pa, Papa harus kuat bertahan. Kan Icha sejak kemarin sudah maafin Papa. Icha ingin punya Papa seperti teman-teman Icha yang lain. Icha sudah maafin asal Papa nggak ngulang lagi. Asal Papa nggak pernah temuin dua tante itu lagi, kalau sekali saja Papa temuin mereka dengan sengaja walau dengan alasan buat temuin anak Papa Icha nggak akan maafin lagi Pa. Nggak akan. Tapi sekarang Icha sudah maafin Papa. Papa bertahan ya. Papa kuat ya,” kata Icha di telinga Gultom. Tanpa Icha tahu saat itu telunjuk kanan Gultom sedikit bergerak.
Tarida melihat Icha sudah tidak bicara pada Gultom. Dia mendengar apa yang Icha ucapkan, Icha masih memegang tangan kiri Gultom yang diinfus, karena memang posisi Icha tadi berbisik di sebelah kiri Gultom. Tarida mendekat dia sudah memakai pakaian untuk ICU juga. Di ruang ICU maksimal pengunjung hanya dua orang, tidak boleh lebih kalau mau lebih memang harus gantian.
Mengetahui Tarida datang, Icha pun pamit pada papanya karena dia tak ingin rahasia antara Tarida dan papanya diketahui oleh dirinya. Pasti Tarida juga akan sulit bicara bila ada dirinya. “Aku keluar dulu ya Pa, Papa bicara sama Eda.”
Memang Gultom yang mengharuskan Icha memanggil EDA bukan kakak pada Tarida. Kalau Sondang memang membolehkan Icha memanggil kakak, karena Sondang sendiri sering menyebut Tarida dengan panggilan kakak.
“Pa, ini aku Eda. aku mau meralat perkataanku sebelumnya. Aku maafin Papa tapi sama seperti Icha, aku punya syarat buat Papa. Kami hanya memberi satu kesempatan. Papa aku maafin dengan syarat Papa tidak boleh bertemu dengan dua tante itu. Kalau Papa masih ketemu dia dengan alasan apa pun walau dengan alasan anak Papa sedang sakit atau apa pun aku tak akan pernah memaafkan Papa lagi.”
“Sekarang Papa bertahan ya, kami butuh Papa,” kata Tarida di sebelah kanan Gultom. Dia memegang jemari Gultom. Memang sebenarnya Tarida lebih dekat dengan Gultom daripada Icha. Tarida anak papa! Itu sebabnya saat Tarida memutus hubungan dengannya Gultom patah semangat hidupnya.
Tarida merasakan gerak dijemari Gultom, Tarida menggenggam jemari itu lebih erat.
Tarida melihat ada setetes air di ujung mata Gultom, diambil tissue dan dia usap air itu.
“Aku sayang Papa dan aku memang pernah benci Papa. Sangat benci, tetapi aku sadar kami butuh Papa. Karena itu kami memberi kesempatan buat Papa. Bertahan Pa, bertahan,” kata Tarida. Saat itu Tarida melihat mata Gultom terbuka.
Tarida berlari ke tempat suster dia berteriak bahwa papanya membuka mata.
Tarida kembali ke sisi Gultom, dia kembali memegang jemari Gultom.
“Adik bisa mundur sedikit dulu? Biar kami periksa papanya ya,” kata seorang suster dari tiga suster yang datang.
Tanpa menjawab Tarida pun mundur, dia memperhatikan papanya diperiksa oleh suster. Cukup lama Tarida terpaku melihat papanya diperiksa.
“Silakan Adik, waktunya jangan terlalu lama ya. Papanya baru sadar. Nanti kalau sudah stabil akan dipindahkan ke ruang rawat lagi. Adik bisa bicara puas di sana.”