
“Kamu suka ya nyusun lego seperti itu?” tanya Irwan, psikolog yang menangani Iban pada pertemuan mereka ke tiga sore ini.
“Enggak terlalu suka sih. Cuma kalau lagi bete memang sengaja cari yang agak rumit seperti ini,” kata Iban.
“Bete kenapa? Kamu habis berantem sama temanmu?”
“Enggak lah Om. Ngapain juga berantem cari musuh, cuma lagi bingung aja sama orang yang tiba-tiba marah sama aku.” akhirnya Iban mulai terbuka, pada dua pertemuan sebelumnya tak ada cloe apa pun yang bisa Irwan tarik garis, mengenai apa yang di rasa lelaki kecil keluarga Alkav ini.
“Enggak usah dipikirin kalau orang yang marah sama kamu,” ujar Irwan.
“Kalau dia marahnya sama aku, aku enggak pikirin kok Om buat apa dipikirin wong aku enggak kenal dia. Tapi dia marah bawa-bawa nama ayah sama bunda. Itu yang aku jadi kepikiran. Dia enggak tahu bagaimana ayah sama bunda. Kok tiba-tiba dia bilang kalau ayah sama bunda enggak pernah ngedidik aku. Kan aku jadi bingung apa ayah sama bunda salah ya?” kata Iban sekarang malah tanpa rem bicara soal isi hatinya.
“Yang aku tahu ayah sama bunda selalu ngajarin kita enggak boleh bohong, jadi aku kalau ditanya orang ya sesuai dengan apa yang terjadi. Aku enggak bohong kok waktu aku bilang aku mukul Charles karena dia nakalin adik aku. Charlesnya yang bohong, dia bilang dia lagi enggak ngapa-ngapain aku pukul. Eh papinya ngamuk-ngamuk ke aku bilang aku enggak pernah dididik sama ayah. Kan kasihan ayah yang jadi sasaran salah karena kelakuanku.”
“Kamu bukan marah karena kamu dimarahin om itu?” pancing Irwan.
“Kan tadi aku sudah bilang Om, kalau mereka marahin aku karena kesalahan aku, kenakalan aku, atau apa pun tentang aku. Aku enggak pernah peduli. Karena itu hanya menyangkut diri aku sendiri. Tapi kalau mereka marahin aku karena adik aku, atau kakak aku. ya aku pasti akan marah. Aku nggak suka saudaraku disalahin. Nah sekarang yang dijadiin persoalan orang itu nyalahin ayah dan bunda. Aku kecewa di situ.”
“Aku jadi merasa punya beban, karena kelakuanku maka bunda sama ayah disalahin orang. Padahal bukan salah bunda sama ayah.” kata Iban. Walau bicara Iban masih terus melakukan penyusunan lego sesuai dengan skema yang ada di kertas. Dia membangun panser tank untuk berperang yang sangat sulit.
“Kalau kamu merasa orang tuamu sudah mendidikmu dengan baik, ya enggak usah merasa kamu bersalah sama ayah dan bundamu lah. Berarti orang tersebut yang salah menilai kamu. Sudah enggak usah pikirin,” saran Irwan.
“Ngomong enggak usah dipikirin tu gampang Om. Tetapi untuk melakukannya itu enggak semudah orang bicara.” jawab Iban dengan dewasa.
“Aku jadi merasa bersalah sama ayah dan bunda.” Ucap Iban.
“Bagaimana kalau kamu bicara sama ayah dan bunda kamu, bilang soal semua ini. Soal penyesalan kamu, karena ayah dan bunda yang disalahkan. Ayah bundamu pasti mengerti bahwa kamu enggak salah kok. Yang salah orang itu.”
“Aku kasihan Om sama bunda dan ayah yang sudah mendidik kami dengan baik tapi disalahin orang.”
“Kan Om bilang tadi, pandangan orang tersebut yang salah. bukan pandangan orang tua kamu. Makanya lebih baik kamu bicara sama ayah dan bundamu aja. Ungkapin aja semuanya biar plong. Biar clear. Kalau seperti ini enggak akan clear. Karena kamu memendam sendiri. Kamu selalu diam dan kamu lebih banyak diam kalau berkumpul sama ayah dan bunda, seakan-akan kamu menjauh. Itu membuat mereka berpikir kamu marah sama mereka.”
“Aku enggak bakalan marah sama ayah dan bunda,” jawab Iban.
“Ya kalau begitu seperti saran Om tadi, lebih baik kamu bicara biar clear. Om tahu kok ayah dan bundamu selalu open minded. Enggak seperti yang orang pikir.”
“Iya sih Om. Bunda sama ayah selalu enak diajak bicara. Kalau malam pun ayah sebelum tidur ngajak aku ngobrol dulu. Dia pasti nanyain apa yang terjadi di sekolah, dia langsung kasih saran aku harus bagaimana. Juga dengan mas Fari, pasti diajak ngobrol dulu sebelum kami tidur.”
“Buat aku sama mas Fari ayah dan bunda segalanya. Mungkin kalau Aidan dan adik-adik masih belum merasa. Mereka belum tahu bagaimana perjuangan bunda dan ayah mendidik kami.”
“Saran Om si itu aja. Sebelum semuanya menjadi lebih salah duga karena selama ini sejak kejadian Charles kamu menarik diri dari ayah dan bundamu. Itu yang membuat mereka sedih karena mereka pikir kamu marah sama dia.”
“Enggak Om, aku enggak marah kok sama ayah sama bunda,” jelas Iban.
“Ya sudah Om pamit ya, pesan Om cuma satu. Langsung bicara sama mereka agar semua clear dan kamu kembali menjadi Iban yang biasa.”
“Ya Om, terima kasih.”