
“Suhunya sudah turun ya Pa,” kata Ajeng berbisik pada Shindu yang sedang menggendong Baim. Lelaki kecil itu masih diinfus karena sakit.
“Ya Ma, sudah turun, kamu tidur saja ya,” jawab Shindu pelan, tak ingin jagoan kecil mereka terganggu suara mama dan papanya.
Ajeng tak menyangka akan berumah tangga dengan Shindu, sosok bos di kantornya yang lebih tua 11 tahun dari dirinya. Awal bertemu Shindu tentu dia tak punya rasa apa pun. Dia hanya membatin bahwa sekretaris big bossnya itu ganteng dan berkharisma. Tapi tak pernah terpikir bahwa akan menjadi suaminya kelak. Saat itu Ajeng sedang mengisi formulir ketika dipanggil untuk menjadi binaan ibu Dinda.
Dari situlah Ajeng merasakan Shindu punya atensi lain selain sebagai sekretarisnya big boss yang waktu itu masih Pak Eddy.
Perhatian itu berbeda dengan perhatian yang diberikan untuk Wika dan Santi yang sama-sama satu angkatan dengan Ajeng tentu bersama Ilham dan Fahrul karena mereka direkrut Dinda menjadi five little star.
Saat itu banyak pegawai lain yang juga diterima di bagian administrasi atau bagian lain, tapi tidak dibawah Dinda dan Shindu. Pegawai itu langsung diberikan kepada kepala divisi, beda dengan five little star yang memang langsung di bawah Dinda dan Shindu.
“Kamu nggak bawa kendaraan? tanya Shindu ketika sore itu hujan lebat.
“Enggak Pak, biasanya saya memang bawa motor. Tetapi tadi motor saya kempes saat mau berangkat, jadi saya nggak bawa,” kata Ajeng.
“Ayo sini saya antar, kebetulan saya juga mau pulang,” ajak Shindu yang tumben pulang cepat. Biasanya banyak pekerjaan dari pak Eddy yang membuatnya pulang selalu setelah maghrib.
Saat itu Shindu tidak menanyakan arah rumahnya Ajeng, apakah satu arah dengannya atau tidak. Dia langsung bilang mau mengantarkan.
“Nggak apa-apa. Sampai Bogor juga saya antar kok,” kata Shindu saat itu.
“Rumah saya memang sudah masuk Bogor Pak. Rumah saya di Cimanggis,” kata Ajeng.
“Sudah. Ayo saya antar. Gampang kok itu. Kan bisa langsung masuk tol keluar di auri langsung nyebrang masuk ke Cimanggis,” kata Shindu.
Akhirnya Ajeng pun ikut mobil Shindu karena hujan bertambah lebat dan hari mulai mendekati magrib. Sejak itulah mereka terus akrab sehingga membawa mereka ke pelaminan.
Ajeng melihat dari jauh bagaimana suaminya mengayun pelan Baim dan meletakkan anak kedua mereka perlahan di ranjang rumah sakit. Baim masih diinfus sehingga harus extra hati-hati meletakkan anak itu di pembaringan.
‘Mama berharap infusmu dicopot besok ya Dek,’ kata Ajeng dalam hatinya. Dia tak ingin suaminya menghampiri dirinya yang belum tidur. Nanti suaminya malah tak istirahat. Tak lama dia terlelap karena sudah dua malam ini Ajeng kurang tidur.
Shindu melihat istrinya sudah terlelap, diambilnya bantal dan dibetulkan letak posisi istrinya yang tertidur di sofa rumah sakit. Mau dia suruh pindah ke bed penunggu pasien, takut mengganggu. Jadi dia betulkan saja bantalnya. Juga diambil selimut agar istrinya tak kedinginan.
“Aku tak menyangka bujang tua seperti aku dapat kamu yang menjadi primadona di kampus mu dulu. Aku sudah mencari bio datamu ketika kamu masuk ke kantorku. Sejak dulu aku nggak pernah tertarik pada seorang wanita, tapi bukan berarti aku suka pada lelaki. Aku hanya belum cocok saja. Tapi begitu melihat kamu aku jadi berpikiran untuk langsung mempunyai keluarga. Bukan untuk pacaran. Untungnya kamu menerima aku sehingga aku tidak merasakan patah hati” kata Shindu. Dia pun lalu membaringkan tubuhnya di bed penunggu untuk pasien. Dia berharap malam ini Baim tidak rewel.