
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Adit pulang lebih dulu dari jam kantor biasanya karena dia memang harus menerjang kemacetan. Anak pemilik usaha tentu bebas menentukan jam kerja.
Hari ini Dinda enggak pesan bahan makanan karena hari Jumat. Besok Kantor libur jadi Dinda tak butuh bahan masakan buat bawa ke kantor. Hari ini Dinda minta Adit untuk bawakan dia martabak telur spesial yang sangat tebal. Entah kenapa Dinda lagi malas buat sendiri.
“Ada apa?” tanya Adit ketika ponsel untuk kantor berbunyi. Dia lupa mematikan. Biasanya kalau telepon kantor selalu dimatikan setelah jam 17.00. Tapi sekarang sudah setengah enam, dan Adit sudah dekat rumah Adit lupa mematikan.
“Aku mau ketemu,” kata suara di ujung sana.
“Ada perlu apa?” tanya Adit
“Mau bahas soal yang kemarin,” jawab si penelepon.
“Tak ada yang perlu dibahas lagi,” jawab Adit.
“Semua sudah ditangani oleh istriku, kalau pun kemarin dia enggak bisa bawa kopi karena kopi sudah tumpah, dia sudah bilang dia akan mengambil sampel dari air kopi yang tertumpah menggunakan tissue, jadi pasti dia bisa bawa sample kopi. Kamu salah cari lawan,” kata Adit. Rupanya yang telepon adalah Meliana.
“Tapi Dit, aku nggak bermaksud apa pun,” sangkal Meliana.
“Kalau enggak bermaksud apa pun, kamu enggak perlu takut karena pasti kopi itu enggak mengandung apa pun selain kopi dan gula kan?” jawab Adit tenang.
“Kalau kamu ketakutan seperti itu, jelas terbukti sebelum diperiksa bahwa kamu memasukkan sesuatu zat yang akan berpengaruh buruk buat aku,” tembak Adit dengan langsung menuju sasaran.
Meliana sadar dia terjebak oleh kata-katanya sendiri. Adit benar kalau dia tenang berarti tak ada apa pun di dalam kopi selain kopi dan gula.
“Tapi ini menyangkut masalah nama besar yayasanku,” kata Meliana putus asa.
“Benar nama besar yayasan yang dipimpin oleh seorang perempuan yang ingin membuat keributan dengan mencuri lelaki orang,” kata Adit.
“Mungkin enggak sengaja ada orang tahu, mungkin bukan dari istriku tapi aku yakin yayasanmu akan hancur karena tindakanmu.”
“Kamu terlalu ambisi. Sejak awal aku enggak kenal kamu kok, tapi aku tahu cerita dari teman-teman bahwa sejak SMA kamu menyukai ku. Sejak itulah aku menghindar. Aku mundur sebelum kamu tambah mengejarku tapi kamu yang kegilaan,” kata Adit.
“Kalau kamu tahu aku mundur, seharusnya kamu sadar diri. Tapi kamu malah ngejar dengan meminta waktu bertemu dengan aku hanya berdua. Istriku itu bukan orang yang cemburuan tapi feeling sebagai ibu itu tak bisa diganggu gugat.”
“Dia bukan mempertahankan aku sebagai suaminya karena dia tak akan pernah peduli pada laki-laki yang selingkuh. Dia hanya mempertahankan posisi aku sebagai ayah anak-anaknya. Dia hanya memikirkan cinta anak-anakku bukan dirinya sendiri.”
“Kalau untuk dirinya dia tak butuh laki-laki yang tidak setia itu yang aku tahu dari istriku,” kata Adit.
“Pak ini sudah selesai,” kata tukang martabak pada Adit.
“Baik Pak,” Adit pun mengeluarkan uang dan membayar martabak yang dia pesan.
“Terima kasih Pak. ini lebih.”
“Enggak apa apa yang penting itu sesuai pesanan kan? Banyak cabe rawitnya, karena istri saya tadi minta banyak cabe rawit,” kata Adit.
“Iya Pak, banyak cabe rawitnya,” jawab tukang martabak. Meliana mendengarkan itu ternyata Adit sudah dekat rumah.
“Maaf saya mau langsung pulang, kamu berurusan saja dengan istriku kalau memang ada perlu soal personal karena aku enggak ada persoalan sama kamu sama sekali. Tapi kalau soal kerjaan kamu berinteraksilah dengan Bagas karena aku juga sama sekali tak ada kaitan lagi soal kerjaan,” jawab Adit lalu dia mematikan ponselnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok