
“Bisa ya? Karena kalian akan berdua bekerja sama. Fahrul, Ilham dan Ajeng mereka beda fokus. Kemarin saya sudah ke cabangnya Ilham. Sengaja karena di sana pusat kegiatan 3 cabang itu. Jadi cabangnya Ilham yang saya tuju. Kalau kalian berdua itu sama, makanya kita ngumpul di sini,” kata Dinda. Mereka memang sengaja makan di lesehan makanan sunda dekat kantor Dinda. Jadi semua sama-sama keluar kantor.
“Kamu bagaimana dengan baby mu? Sehat kan?” tanya Dinda. Wika baru melahirkan anak pertama 4 bulan lalu. memang dia sangat terlambat dari 3 temannya tapi ya lumayanlah dia langsung punya anak. Beda dengan Santi yang sudah 7 bulan menikah belum punya anak. Padahal dia menikah dengan seorang duda yang mempunyai dua anak yang berusia 10 tahun dan yang kecil 6 tahun.
Anak pertama sang duda lah yang membuat Santi mau menerima lamaran duda tersebut karena si sulung tak bisa dia tinggal.
Santi dan Mischa tak sengaja bertemu di supermarket. Saat itu Mischa sedang menangis karena ditabrak oleh anak lain, bajunya belepotan es krim. Santi membantunya membujuknya sampai diam lalu membelikan es krim baru. Padahal saat itu petugas supermarket sudah membujuk Mischa dengan diberikan es krim baru tanpa bayar. Tapi tetap saja Mischa menangis.
Mischa datang ke situ bersama sopirnya yang menunggu di mobil jadi sang sopir tak tahu apa pun bahwa nona kecilnya menangis di dalam supermarket.
Malam itu Mischa tak mau pulang kalau tidak diantar Santi. Akhirnya Santi terpaksa mengantar ke rumahnya Mischa. Di sana Santi berkenalan dengan Farouq yaitu adiknya Mischa yang hanya menatap Santi dengan pandangan seperti butuh kasih sayang seorang ibu. Saat itu Santi membawa dua coklat satu diberikan pada Mischa dan satu diberikan pada Farouq.
Sejak hari itu Mischa ke selalu mendatangi Santi, entah di rumah maupun di kantor, kadang juga bersama Farouq.
Sang papi tak bisa melarang kedua putra dan putrinya untuk selalu mengganggu Santi di kantor. Sang papi melihat Santi tak sekali pun ingin mendekat pada dirinya. Bahkan diajak ke rumah pun tak mau bila ada dirinya. Santi mau ke rumah sepulang kerja, lalu langsung pulang agar tak bertemu dengannya. Itu sebabnya Sudrajat menyelidiki Santi yang telah membuat kedua anaknya ceria.
Tapi pernikahan kedua hal yang sama terjadi lagi. Bunda nya Farouq meninggalkan Sudrajat papinya Mischa ketika Farouq berumur 10 bulan! Sejak itu Sudrajat atau yang biasa dipanggil Ajat tak mau lagi punya istri.
Saat orang tuanya memaksa menikah lagi dengan Santi pun Ajat tetap tidak mau karena dia sudah trauma dengan mamanya Mischa dan bundanya Farouq.
Sekarang dengan Santi, Ajat merasakan beda. Santi sangat menyayangi anak-anaknya melebihi sayang pada Ajat karena memang tujuan Santi tadinya menikah hanya mengasihi dua anak tersebut. Bahkan kalau pun tak disentuh Santi tidak problem. Orientasinya memang bukan untuk bersanding dengan Ajat.
Sampai dua minggu pernikahan Ajat benar-benar belum menyentuh Santi dan Santi tak peduli. Santi masuk ke kamar Ajat bila ingin mengambil pakaian. Selebihnya dia lebih senang menemani anak-anak sampai kedua anak itu tidur.
Bahkan Mischa sering tidur di kamar Farouq karena Santi akan mengeloni Farouq hingga bocah itu benar-benar tidur. Ajat melihat mereka tidur bertiga di kamarnya Farouq karena Mischa tak ingin ditinggal sang mami. Dia ingin seperti Farouq tidur dalam dekapan Santi.
Ajat baru sadar Santi memang lebih mencintai anak-anaknya dan tak peduli padanya. Tak ada komplain sama sekali dia tak disentuh bahkan diajak bicara pun hanya sesekali Santi tak peduli.
Sejak 2 minggu itulah Ajat sadar bahwa Santi berbeda dengan mamanya Mischa dan bundanya Farouq.