
“Opung kami pamit ya, sebelum pulang aku mau kasih tahu Opung satu hal penting. Mama nggak pernah cerita soal semua yang tante depan lakukan. Sama sekali enggak pernah cerita. Tapi kami tahu sendiri. Kalau ada yang tuduh mama ceritain ke kita, akan berhadapan sama aku,” ucap Icha.
“Pokoknya kita tinggal tunggu saja jatuh palu buat papa kalau nanti ada tante yang dua itu entah siapa namanya aku nggak mau ngomong namanya. Mereka akan bilang anaknya sakit atau alasan lain, sah sudah palu kami jatuh. Kami akan langsung ketok,” kata Icha. Gultom yang mendengar Icha sedang bicara langsung terpaku.
Gultom sadar sekarang anak-anaknya ke rumah itu bukan untuk menjenguk dirinya tapi ingin mempertegas ultimatum mereka, bahkan mereka sendiri yang menghampiri Neni. Walau dia bersyukur karena akibat kecomelan kedua putrinya aibnya Neni terbongkar. Tapi setidaknya itu membuktikan bahwa ancaman kedua putrinya bukan main-main.
Gultom langsung berpikir sebaiknya dia ganti nomor saja karena kalau hanya memblokir nomor Pricilla dan Niken mereka bisa menghubungi dari nomor lain. Jadi dia lebih baik ganti nomor seperti yang dilakukan Tarida.
Gultom sangat takut kalau kehilangan dua putrinya tersebut karena sekarang hidupnya hanya untuk keduanya.
Opung tak percaya kedua cucunya mau langsung pulang saat itu juga
“Bukannya mama kalian bilang kalian akan menginap di sini sampai hari Minggu siang? Kenapa Sabtu siang begini kalian sudah minta pulang?” tanya Marion si opung
“Kami ke sini bukan mau nengokin papa kami hanya ingin tahu tante yang baru jadi siap-siap saja Papa akan kami tinggal.”
“Oke kalau nggak mau berhubungan dengan dia. Aku mungkin masih bisa terima, tapi nggak mungkin kan Papa buang dua tante yang lama itu?” kata Tarida.
“Tidak, Papa sudah janji sama kalian. Papa tak akan mungkin lagi menghubungi mereka,” balas Gultom lagi.
“Papa nggak akan hubungi mereka, tapi mereka akan hubungi Papa. Sama juga bohong kan?”
“Atau nanti suatu saat tiba-tiba ketemu di mall, ketemu di cafe, ketemu di mana pun, lalu ngobrol bagaimana kabarmu? Sekarang Marry udah bisa apa? Bagaimana kesehatannya? Akhirnya Papa ngobrol lagi, lalu tante bilang, dia butuh ini dia butuh itu. Silakan saja Pa. Kami tidak punya batas kesabaran seperti mama,” kata Tarida.
Opung hanya mendengar tapi memang benar apa yang dikatakan Tarida dari bahasa basa-basi dengan mantan istri lalu nanti sang mantan akan bilang si ini kurang su5u atau si itu kurang popok dan sebagainya. Akhirnya rasa simpati itu akan terjalin kembali dan mereka akan berhubungan seperti dulu lagi. Jadi apa pun yang terjadi memang Gultom harus memilih mau bebas lepas dengan banyak perempuan tapi meninggalkan dua anaknya atau dia mau bertahan dengan dua anaknya tapi tertutup dari semua akses perempuan lain.
Dalam hidup memang selalu ada dua sisi pilihan. Hitam atau putih? Siang atau malam? Tinggi atau rendah? Panjang atau pendek? Semuanya itu tergantung pilihan kita.
Sepeninggal anak-anak Gultom dan inang diskusi. Mereka membicarakan apa yang tadi Tarida ucapkan. Kalau suatu saat Gultom bertemu dengan para mantan, apa yang harus dilakukan. Karena semua perkataan anak 12 tahun itu benar adanya. Gultom akan mudah kembali terjerat bila mau kembali berkomunikasi. Walau telah ganti nomor ponsel, tetap saja kan bisa bertemu secara langsung?