
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
```````````````````````````
Hari ini hari Kamis, Dinda langsung memanggil Five Little Stars di ruangannya setelah selesai makan siang.
“Seperti janji saya kemarin. SK-nya sudah jadi ya. Ini sudah ditandatangani oleh Pak Eddy. Kalian akan menduduki pos kalian sejak hari Senin. jadi besok kalian mulai bersiap untuk masuk ke ruang baru,” jelas Dinda.
Dinda minta mereka dijadwalkan bertemu dengannya sesudah makan siang karena tadi dia pagi-pagi ke Bekasi dulu untuk mengecek stock dan pembukuan. Padahal bisa lewat email, tapi dia ingin lihat langsung ke lapangan atau On The Spot. Selain pagi-pagi SK masih digodog redaksionalnya oleh Shindu dan Eddy sebelum Eddy menandatangani SK tersebut.
Dinda memberikan SK tersebut dengan menjelaskan apa yang tertulis di sana
“Kalian jangan berkecil hati kalau yang menjabat sebagai wakil karena itu tidak jaminan kalian akan terus di situ. Dan yang menjadi Kepala Divisi juga jangan belagu karena belum tentu kalian akan terus di situ.”
“SK kalian ini adalah bersifat sementara hanya berlaku 3 bulan, kita akan lihat dalam masa percobaan kalian 3 bulan itu bagus atau tidak. Kalau tidak bagus kalian akan di rolling ke posisi lain, tapi kalau bagus kalian akan bertahan di situ hingga 9 bulan ke depan. 9 bulan dari selesainya masa percobaan. Jadi satu tahun kan?”
“Kenapa saya hanya memberi kalian masa jabatan 1 tahun? Itu akan berlaku untuk semua jabatan di kantor ini. Mulai hari Senin semua jabatan struktural hanya akan satu tahun. Manajer dan Kepala Divisi hanya akan berlangsung 1 tahun, tiap tahun akan di rolling. Saya tidak mau kejadian seperti Ronald, Rizal, dan utoro terjadi lagi karena mereka terlalu karatan di posisinya. Sehingga sudah terlalu enak duduk di singgasana emasnya.”
“Yang sekarang wakil mungkin di rollingnya bukan ke posisi Kepala Divisi HRD atau keuangan mungkin Kepala Divisi lain. Jadi enggak perlu kecil hati.”
“Baik Bu. Kami mengerti.”
“Ingat, begitu kalian main kotor, kalian akan langsung berhadapan dengan saya. Kalau kalian saling sikut untuk menduduki jabatan tertentu, saya akan ikut anda dua kali lipat sehingga anda langsung terjengkang.”
“Saya tidak ingin saling sikut terjadi pada orang yang saya bina. Kalau kalian mau maju, majulah dengan prestasi bukan dengan menendang orang lain. Kalau kalian ditendang kalian akan merasakan sakitnya seperti apa, terapkan itu dipikiran kalian,” kata Dinda.
“Saya harap kalian bekerja dengan baik mulai hari Senin. Ingat masa percobaan itu dan sekali lagi saya ingatkan kalau terjadi suatu masalah kalian tidak boleh diskusi antar kalian, karena akan terdengar walau ngobrol di rumah makan sekali pun. Pasti ada orang tahu. Jadi kalian kalau mau diskusi ke ruangan saya atau ruangan Pak Shindu.”
“Iya Bu. Kami akan selalu ingat itu.”
“Ingat di sini banyak tikus berdasi, jaga makanan dan minuman kalian agar tidak mereka rebut dan jaga mulut kalian karena itu nanti akan mereka jadikan senjata. Enggak usah cerita apa pun tentang kita di mana pun.”
“Baik Bu. Kami mengerti.”
“Jadi pulang bareng Yank?” tanya Radit melalui telepon meja kerjanya ke meja kerja Dinda.
“Jadi Mas. Mobilku dari tadi sudah diantar sama sopir kantor,” jawab Dinda.
“Ya sudah ayo. Sekarang aja,” ajak Radit.
“Sebentar 20 menit lagi. Aku masih ngerjain tugas buat para pejabat baru besok Senin. Aku juga sudah selesai ngerjain daftar mutasi rolling yang akan aku umumkan sejak hari Senin. Biar semua kalang kabut.”
“Jadi kamu akan umumkan ke semua orang hari Senin nanti?”
“Ya, Senin sepulang aku dari sekolah anak-anak. Aku sudah minta Shindu pertemuannya dilakukan habis makan siang.”
“Oh gitu, enggak pagi-pagi?”
“Ya wis. Aku tungguin. Sebentar lagi aku ke ruanganmu aja nunggu di sana,” kata Radit.
“Ya masuk ke sini aja, sebentar lagi aku selesai,” jawab Dinda yang sedang membuat kisi-kisi tugas buat para pegawai baru agar mereka tidak salah langkah.
“Enggak salah itu, banyak banget,” Adit melihat belanjaan Dinda yang tak seperti biasa.
“Enggak lah Mas, aku kepengen,” jawab Dinda santai.
“Tapi dimakan kan?”
“Dimakan lah,” jawab Dinda. Yang ditanya Adit adalah buah-buahan yang tak pernah atau jarang sekali Dinda inginkan seperti buah plum, ciplukan, kiwi, plum mango, cherry, peach yellow, juga peach white. Dinda juga membeli alang-alang untuk minumannya.
Selain itu tentu saja Dinda membeli belanjaan rutin seperti sayuran, fillet ikan, ayam cincang, daging cincang, semua harus tersedia selain buah-buah yang umum agar para mbok bia menyediakan makanan anak-anak dengan baik.
“Sudah yuk,” ajak Dinda ketika selesai mengambil semua yang ada dalam list belanja yang telah dia buat.
“Mas ada kekasih gelapmu tuh,” tunjuk Dinda dengan dagunya.
“Maksudmu?”
“Itu di ujung sana,” Adit pun menengok arah yang Dinda tunjuk.
“Ngapain dia di sini? Bukannya dia di Bekasi?”
Adit dan Dinda memang belanja di Hypermart dekat rumahnya jadi aneh aja ada Meliana di daerah sini.
“Mungkin dia sedang ke rumah orang tuanya. Kan dekat-dekat sini,” kata Dinda mengingat Adit dan Meliana satu sekolah berarti kan memang lokasi orang rumah orang tuanya dekat sini.
“Bisa jadi kalau dia ke rumah orang tuanya, karena kami kan memang dulu tinggal daerah sini. Sudah enggak usah dipikirin. Lagian masih berani enggak dia ketemu kita.”
“Kalau ketemu kamu pasti dia berani. Yang dia enggak berani kan ketemu aku,” jawab Dinda sambil melenggang melewati kasir karena memang yang akan bayar adalah Adit. Tak pernah Dinda boleh membayar bila jalan sama suaminya.
“Enggak minta bayarin sama suami saya?” Meliana terbelalak saat di depan kasir ada yang menyapanya seperti itu.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.

\```````````````````````````