
Sepanjang jalan Dinda sudah menangis dia tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Santi menghadapi kondisi saat ini. Baru bertemu, sekarang Farouq sudah kritis.
‘”Tenang Bun, tenang,” kata Adit berupaya membujuk istrinya.
“Ajat atau Santi tidak mungkin menghubungi kita kalau kondisi Farouq baik-baik saja. Aku yakin kondisi Farouq sangat drop atau bisa jadi yang terpahit, tak ada harapan,” jelas Dinda.
“Iya Ayah tahu, kondisinya Farouq itu drop. Cuma Bunda jangan seperti itu, terlebih nanti di depan Santi. Kasihan dia terlebih, dia lagi hamil,” ucap Adit.
“Harus ada yang menguatkan dia. Kalau bukan kita siapa lagi? Ayah yakin Ajat juga drop. Biar bagaimana pun itu anaknya. Terlebih sekarang dia sudah cinta anak tersebut. Sebelum Farouq diam tanpa mau bicara, dia pernah bicara sama Ajat, ketika baru ketemu. Ajat bahkan nanya mau ketemu Mami? Farouq masih responsif. Memang sejak ketemu maminya terus Farouq diam seperti yang Ajat ceritakan itu.”
“Kita berdoa saja yang terbaik. Belum tentu, mohon maaf, kalau dia hidup itu yang terbaik buat Farouq dan Santi. Jadi yang terbaik menurut Allah itu yang kita harapkan saja. Semua sudah Allah tentukan, semoga Santi kuat.”
“Iya, sih. Yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Allah. Kalau dia sudah menghirup pemutih pakaian ada di paru-paru dan lambungnya tentu bukan baik-baik saja,” kata Dinda.
“Dibenamkan di air putih biasa saja, pasti bahaya buat paru-parunya. Lebih-lebih itu air sabun dan pemutih. Pasti sangat bahaya. Hanya orang tidak waras yang mencelupkan keponakan kandungnya ke situ.” lanjut Dinda.
“Ajat memang sangat bodoh sampai bisa punya keluarga ipar seperti itu!” ucap Adit geram.
“Itulah karena kecerobohan, memenuhi kepuasan syahwat semata. Tidak berpikir akibatnya seperti itu. Kalau dulu dia nggak hobi jajan pasti tidak akan ketemu sama si Wiwik tersebut,” ucap Dinda.
“Ya kadang kita nggak sadar apa yang kita lakukan akan berakibat fatal di kemudian hari,” balas Adit. dia sangat sadar itu karena dulu saat muda dia juga bertindak tanpa dipikir sama sekali.
Dinda langsung mengirim pesan kepada Velove, Puspa dan five little star minus Santi tentunya. Mohon doa karena kondisi Farouq yang barusan dikabarkan kritis oleh Santi. Shindu juga sudah dikirimkan pesan oleh Dinda secara langsung karena tadi Shindu hanya mengetahui Dinda harus kabur dari rapat tapi belum diberitahu mengapa Dinda harus lari ke rumah sakit.
“Papa langsung on the way,” kata Eddy begitu Dinda menghubunginya.
“Pak Ajat ini Ibu yang bantu Farouq,” kata detektif yang sudah tiba lebih dulu. dia janjian dengan si ibu untuk mempertemukan dengan ibunya Farouq.
“Oh Ibu. iya Bu. Mohon doanya ya Bu. Anak saya kritis,” kata Ajat. Ajat pun memperkenalkan ibu itu ke Santi.
“Ibu, saya Ponirah yang waktu itu ditugaskan Bu Wiwik untuk menggantikan baju adik Farouq,” kata Bu Irah kepada Santi.
“Ibu, saya menyampaikan terima kasih ya. Ibu sudah membantu anak saya,” kata Santi. Matanya sudah bengkak. Hidungnya merah. dia sudah tak tahu kemana Mischa karena Ajat meminta ibunya Santi membawa anak sulungnya agar tak bertangisan terus dengan Santi.
“Mohon doanya, anak saya sekarang kritis. Tadi dia sudah saya relakan untuk berangkat kalau dia tidak kuat,” kata Santi sambil menangis.
“Sehabis dia ketemu dengan kami. dia tidak pernah bicara apa pun Bu. Padahal biasanya kami ngobrol dan bercerita. Baru tadi dia minta saya peluk kata Santi,
“Mami aku pengen dipeluk!” Santi menirukan kalimat Farouq sambil kembali menangis,
“Habis itu dia bilang, Abang sayang Mami. Akhirnya kemudian pingsan dan dibawa ke ICU,” kata Santi lagi.
Dinda yang mendengarkan itu terus terisak, dia memang belum menemui Santi karena Santi sedang bertemu dengan Bu Ponirah biar bagaimana pun Dinda bersabar hati sampai Santi siap menerima dirinya. Tidak main langsung asal peluk saja.
Begitu melihat Dinda Santi langsung berdiri dan memeluk.
“Ibu aku nggak kuat,” kata Santi memeluk Dinda erat dan menangis histeris, sejak tadi dia hanya terisak, rupanya dia tahan semua pedih yang dia rasakan. Semua yang di sana ikut sedih. Ajat dan Adit berpandangan melihat istri mereka.
“Kamu kuat. Kamu kuat. Ibu yakin kamu kuat,” kata Dinda memberi afirmasi bahwa Santi kuat. Tapi sehabis itu Santi langsung lemas dan pingsan. Tentu saja Ajat dan Adit kalang kabut. Mereka langsung menjaga agar Santi tidak jatuh. Ajat langsung memanggil suster di ruangannya minta dibantu agar Santi ditolong karena dia sedang hamil.