
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Assalamu’alaykum,” sapa Dinda.
“Wa’alaykum salam. Kamu di mana Din? Saya ke tokomu katanya kamu sudah tidak tinggal di sini lagi,” tanya suara di ujung sana.
“Oh aku di Jakarta Selatan Mas. Ada apa ya? tanya Dinda dengan sopan.
Adit mendengar percakapan yang Dinda lakukan, saat itu dia sedang akan bertanya pada Dinda akan berangkat kerja bareng atau mau berangkar sendiri-sendiri. anak-anak sedang bermain di halaman belakang.
“Jakarta Selatannya di mana? Saya ingin bertemu.”
“Apa Mas enggak kerja? Apa enggak praktik? Ngapain ingin bertemu saya?” bukannya menjawab Dinda malah melontar banyak pertanyaan.
“Ya buat ketemu aja. Memang enggak boleh? Saya kebetulan sedang libur. Kemarin habis simposium 3 hari di Semarang, sehingga hari ini saya masih libur,” suara di ujung sana menjawab ringan, dia ingin bertemu Dinda. Tadi lelaki itu sengaja datang pagi karena ingin ikut mengantar si kembar ke sekolah.
“Saya di rumah suami saya,” jawab Dinda.
”Suami atau mantan suami? Kamu kan sudah cerai,” suara lelaki itu terdengar agak meninggi. Dia sungguh kecewa Dinda bersama mantan suaminya lagi.
“Eh iya maksud saya, saya berada di rumah mertua saya,” kata Dinda meralat kata-kata sebelumnya.
“Itu juga sudah bukan mertuamu, tapi mantan mertua. Kamu sudah bukan muhrimnya. Kenapa tinggal di sana?” Kata lelaki itu dengan sewot.
“Anak-anak butuh sosok ayahnya, saya dan mantan komitmen kami akan tinggal bersama demi anak-anak. Tapi tentu kami punya batasan tidak akan melanggar aturan agama. Lagi pula itu urusan saya kan? Bukan urusan Mas Dirga,” kata Dinda dengan sopan.
Adit tentu saja panas mendengar bahwa lelaki tersebut menasihati Dinda. Dari jawaban yang Dinda berikan pasti lelaki tersebut marah karena Dinda tinggal di rumah mantan suaminya.
Adit juga bisa menyimpulkan bahwa yang di yang menghubungi Dinda adalah seorang lelaki karena Dinda memanggil nama mas Dirga.
Adit meninggalkan kamar Dinda tanpa jadi masuk. Dia segera pamit pada anak-anak dan berangkat kerja lebih dulu. Adit sangat cemburu.
\*‘Kok aku ditinggal?’ \*tulis Dinda dan dia kirim ke nomor Adit.
‘*Kenapa cuma di-read tapi enggak jawab? Apa belum sampai kantor*?’
\*‘Ada apa sih?’ \*tanya Dinda lagi tapi adit tetap tidak merespon.
Dinda makin kesal. Akhirnya dia pun mengemudikan mobilnya sendiri untuk berangkat ke kantor. Eddy sudah berangkat sejak tadi pagi sebelum Adit. Andai belum di jadwalkan akan meeting dengan para manager, Dinda tak mau berangkat bekerja.
Hari ini jam 09.00 Eddy sudah mengumumkan semua manajer untuk berkumpul di ruang meeting.
“Selamat pagi semuanya,” kata Eddy mengawali rapat paagi ini.
“Hari ini saya akan beritahu bahwa kalian kembali akan diawasi oleh ibu Dinda yang sebentar lagi akan hadir,” jelas Eddy.
“Kalian ingat kasus tahun lalu, saat dia mau baru mulai masuk dan dia kecewa. Kalian ingat bagaimana akhirnya marketing yang menjual diri juga hancur, bukan nama perusahaan tapi dirinya yang hancur. Begitu pun marketing yang mencoba mendekati Manager marketing di sini.”
“Jadi saya minta kalian bekerja dengan baik, saya tidak bisa menolong bila faktanya kalian memang bersalah. Semua kembali berpulang kepada kalian. Apakah kalian selama ini telah bekerja dengan baik dan benar. Karena hanya butuh 2 jam Bu Dinda bisa melihat semua laporan hasil kerja kalian selama 2 tahun ke belakang.”
Dinda memang tadi sudah bilang sama Eddy bahwa dia akan masuk 15 menit setelah pukul 09.00. Dinda karena memang membiarkan Eddy membuka prolog lebih dulu pada semua manajer.
“Selamat pagi dan semoga semua kalian selalu sehat.”
“Selamat pagi Bu.” jawab para manajer serentak.
“Kalian tak perlu terlalu sport jantung. Tapi habis ini kalian harus bersiap untuk beli obat anti kejang, karena habis ini semua data kalian akan saya baca. Saya tadi sudah ambil semua data sebelum masuk ke sini. Jadi kalau kalian rubah saat ini, sudah tidak ada gunanya,” kata Dinda memberitahu semua karyawan Eddy.
“Semua data sudah ada di meja kerja saya tinggal saya periksa.”
“Selamat pagi juga buat yang baru kenal. Ingat saya tidak peduli anda siapa. Saya tidak peduli anda single parent ataupun punya suami. Kalau kalian bermasalah saya tidak peduli kalian bilang itu demi anak-anak. Saya juga punya anak dan saya berjuang untuk anak-anak saya tidak dengan menipu atau menjual diri.”
“Yang mau bermain-main dengan saya silakan. Saya tidak akan pernah menghancurkan satu orang. Tapi akan saya hancurkan satu keluarga!
Mungkin ada beberapa diantara kalian yang berbisik-bisik bagaimana saya bisa dengan tega menghancurkan satu buah yayasan. Saya yakin semua tahu kasusnya Pak Adit kemarin.”
“Itu adalah hasil kerja saya, Pak Adit malah tidak tahu kalau dia saya jadikan umpan. Itu sebabnya wajah Pak Adit terpampang.”
“Sekali lagi saya ucapkan selamat bekerja, saya tidak mau menunda waktu kerja kalian. Selama kalian bekerja dengan baik, kalian tidak akan pernah bermasalah dengan saya. Tapi satu kali saja anda mencubit saya akan membalasnya dengan menempeleng. Jadi jelas ya cubitan anda akan saya balas dengan tempeleng. Artinya pembalasan yang saya lakukan lebih besar dari yang Anda lakukan pada saya. Itu prinsip saya jadi jangan pernah pernah sekali-kali mencoba menyakiti saya. Sekian terima kasih, selamat pagi dan selamat bekerja. Tidak ada lagi waktu kalian untuk berleha-leha selama saya ada di sini.”
Dinda langsung keluar tanpa peduli dia masih kesal pada Adit.
Eddy merasa ada yang tidak beres dengan Adinda karena dia lihat Dinda penuh amarah.
“Ada apa Dit?” selidik Eddy.
“Enggak ada apa-apa Pak,” jawab Adit berusaha menghindar.
“Ingat kamu pernah salah langkah karena tidak cerita tentang Merrydian, sekarang kamu akan merahasiakan lagi sesuatu dan membuat kamu tidak tertolong lagi?” tanya Eddy dengan cepat. Dia mengingatkan kesalahan Adit ketika menutup masalah dengan Merrydian.
“Aku kesal Pa sama Dinda,” akhirnya Adit buka suara.
“Kenapa?”
“Tadi pagi dia terima telepon dari orang yang ngejar-ngejar dia dan orang tersebut sepertinya marah pada Dinda karena Dinda tinggal di rumah kita lagi.”
“Yang menghubungi duluan kan orang tersebut bukan Dinda, kenapa kamu marah sama Dinda?” tanya Eddy dengan bijaksana.
“Dinda punya orang yang memang sangat mengharapkan dia. Ada dua Pa. Satu pengusaha pompa bensin dan yang satunya adalah dokter spesialis.
“Yang pengusaha pompa bensin masih bujangan dan yang dokter spesialis duda anak satu,” jelas Adit.
“Ya kan bukan salah Dinda. Dinda juga enggak merespon. Kenapa jadi kamu marahnya sama Dinda? Kamu salah sasaran. Kalau Dinda bales marah sama kamu Papa enggak bisa buat apa-apa karena kamu yang mulai duluan, Dinda enggak salah kamu marah sama dia,” Eddy pada Adit.
“Pantas aja muka Dinda kayak gitu. Ingat yang dia bilang tadi : cubitan anda akan saya balas dengan tempeleng!”
Adit pun sadar dia salah pada Dinda karena dibakar cemburu.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok