GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SENJA ATAU BIRU?



“Mamiiiiiiiiii,” pekik Mischa dari pintu saat suster sudah membolehkan keluarga masuk. Mischa tak sabar melihat Mami dan adiknya yang terbaring di sebelah sang Mami.


“Salim dan cium Mami dulu ya,” bisik nenek kepada Mischa.


Mischa menghampiri maminya, dia perharikan adik mungilnya.


“Mami aku senang banget sudah punya adik lagi. Selamat ya Mi,” kata Mischa menciumi Santi. Wanita berhati emas yang dia temukan di supermarket.


“Terima kasih Kakak cantik, adiknya laki-laki Kak,” ujar Santi.


“Ganteng ya Mi,” kata Mischa. Dia mengusapkan punggung jari telunjuknya di pipi sang adik yang dia rasa sangat lembut.


“Kenapa dipanggilnya Biru Mi? Kenapa nggak Senja aja? Kerenan Senja kok. Aku lebih suka panggil dia Senja,” ucap Mischa kenes.


“Papi juga bilang begitu. Papi bilang kalau Senja kan lebih dekat dengan panggilan Papi Ajat, ya kan? Tapi mamimu senengnya panggil Biru,” adu Ajat pada Mischa seakan cari sekutu.


“Ya sudah. Kalian saja berdua yang panggil Senja,” jawab Santi santai.


“Nanti teman-temannya juga mayoritas akan panggil dia Senja, karena nama awalnya Senja. Tapi untuk Mami dia tetap Biru,” jawab Santi dengan tenangnya.


“Karena pilihan Mami, Biru. Aku pun akan memanggil Biru, karena itu pilihan mamiku tercinta,” jawab Mischa.


“Kakak kok gitu? Tadi Kakak yang bilang Senja lebih keren. Sekarang kok Kakak lebih cenderung ke Mami?” protes Ajat.


“Aku CS-nya Mami, Pi. Kalau CS Papi itu pasti kalah. Pasti enin dan nenek juga ikut sama aku, sama Mami. Ngapain aku kongsian sama pihak yang akan kalah? Kalau cari kongsi itu Pi, harus pihak yang kuat Pi. Jadi kita menang,” kata Mischa menjabarkan mengapa di berbalik arah.


Santi dan ibunya tertawa mendengar pemikiran Mischa seperti itu.


“Dedek semakin besar itu pasti dia kongsian sama Kakak. Karena Kakak akan ajarin terus bahwa dia itu lebih baik kongsian sama Mami sama Kakak dari pada kongsian sama Papi yang bakalan jadi pecundang!”


“Aduh bahasamu Kak! Pakai pecundang segala. Emang apa artinya?” kata Ajat.


“Papi itu yang nggak ngerti apa-apa. Sekarang itu sudah bahasa umum Pi,” kilah Mischa.


“Wah Papi benar-benar harus belajar banyak nih setelah Kakak sekolah di tempat sekolahnya anak-anak bunda sama ayah Kakak kemajuannya terlalu besar,” ucap Ajat jujur. Dia memang melihat Mischa kauh berbeda.


“Untung Kakak bisa ngikutin pelajaran di sana. Kalau nggak Mami yang bingung,” kata nenek.


“Mami yakin Kakak bisa ngikutin karena Kakak anak pintar kok. Kalau Kakak nggak pinter nggak mungkin Mami berani masukin Kakak ke sekolah tersebut. Karena sekolah tersebut hanya buat orang-orang yang pintar dan rajin. Kalau hanya pintar tanpa rajin pasti ketinggalan karena di sana butuh ketekunan. Di sana tuh tidak ada PR Bu. Jadi harus benar-benar konsen saat di sekolah,” ucap Santi sambil memandang bangga pada Mischa.


“Benar beda sekali sama sekolah Kakak yang lama Nek,”  Mischa menyetujui pendapat maminya.


“Bedanya di mana Kak?” tanya Ajat.


“Di sekolah Kakak yang lama Pi, itu mayoritas PR-nya nilai 100 semua. Betul semua. Tapi begitu ngerjain soal di kelas apalagi di papan, mereka nggak bisa apa-apa,” kata Mischa.


Santi tersenyum mendengar laporan putrinya tersebut.


“Ya pastilah kalau PR mereka bisa dapat 100 karena yang ngerjain bukan si anak, tapi orang tuanya. Kadang pembantunya. Pokoknya siapa pun. Yang penting semuanya betul. Giliran di kelas dia tak mengerti apa-apa. Padahal seharusnya PR itu bukan dikerjain oleh pengasuh atau orang tuanya, tapi di bantu untuk mengerti,” kata nenek/


“ Itulah Nek. Kalau PR pokoknya semua 100. Hafalan juga mereka 100 tapi kalau dikasih soal mereka nggak bisa. Itu di sekolahku yang lama. Kalau sekarang semua harus bisa, apa pun yang diterangkan oleh bu guru. Dan kami akan mengulanginya lagi sebelum kami pulang. Jadi tidak ada yang belum mengerti. Kalau belum mengerti dia ditunda pulang sampai dia mengerti. Aku dulu awal-awal selalu pulang belakangan, karena aku lambat. Tapi lama-lama aku bisa mengikutinya dengan cepat setelah basicnya aku mengerti,” kata Mischa.


‘Dari bahasamu saja sudah beda jauh Kak,’ kata Ajat dalam hatinya. Anaknya sekarang memang terlihat lebih cerdas sesuai dengan kemampuannya. Dia dulu salah mendaftarkan sekolah sehingga memang hanya seperti itu yang dipelajari Mischa. Kalau sekarang sudah sangat jauh. Ajat menyesal tak pernah memperhatikan anaknya sejak awal.