
“Tidak terasa ya Bun anak-anak sudah ABG. Beda sama zaman kita dulu. 10 tahun boro-boro mengerti tentang perasaan suka dengan lawan jenis. anak sekarang 10 tahun sudah tahu seperti itu,” kata Adit pada Dinda. mereka sedang membahas masalah yang terjadi di sekolah anak-anak. Ada para orang tua yang bilang anaknya pacaran itu ada di forum orang tua.
Orang tua memang benar-benar berperan aktif dalam pendidikan anak-anak di yayasan tersebut, mereka saling sharing apa yang terjadi.
Tapi banyak yang hanya masuk grup tanpa pernah memperhatikan kegiatannya karena buat mereka semua itu tidak penting. Beda dengan Adit dan Dinda yang sangat memperhatikan semua kegiatan anak-anak. Buat mereka focus hidup adalah anak-anaknya, napas adalah anak-anaknya. Semua hanya tentang anak semata.
“Iya Yah, justru kita harus makin rajin berkomunikasi dengan anak-anak. Biar mereka bercerita apa pun, jangan sampai mereka mencari tempat untuk mencurahkan isi hati ke orang lain atau ke anak sebaya karena itu bisa bahaya.”
“Lebih baik kita yang selalu merangkul mereka,” kata Dinda.
“Ayah setuju banget Bun. Memang anak-anak harus selalu kita peluk dan rengkuh agar tidak salah jalan,” ujar Adit. Dia ingat dirinya pernah ‘sendirian’ sehingga tersesat dalam pelukan Shalimah, Angelica dan Syahnaz. Saat itu Eddy sedang bergulat dengan maut yang mengintai Ina. Andai Eddy merengkuh Adit dan mengajaknya ikut mendampingi Ina, tentu akan lain jalan hidup Adit.
“Sudah yuk tidur,” ajak sambil Dinda menarik selimut
“Kok tidur?” tanya Adit sebagai kode keras.
“Ya iyalah. Besok kita kerja pagi banget kan?”
Besok mereka mau acara family gathering dengan orang satu kantor cabang. Besok mereka akan family gathering dengan kantor cabang yang miliknya Fari. Walau anak itu belum tahu bahwa dia sudah memiliki perusahaan kecil.
Perusahaan milik Fari di pegang oleh Ilham dan didampingi Puspa. Walaupun Puspa tidak aktif di kantor, Puspa tetap aktif dengan jualan onlinenya. Sekarang anak mereka sudah 4. dua anak perempuan dari Rizaldy dan dua balita kecil laki-laki dari Ilham.
Family gathering juga akan diikuti oleh Eddy sebagai sesepuh pendiri perusahaan.
Tadi Adit dan Dinda sudah mendapatkan surat panggilan untuk orang tua dari Iban yang diminta datang hari Senin. Tentu saja Adit pasti akan datang.
Anak-anak juga sangat segan terhadap Adit. Kalau Adit sudah memerintah atau melarang walaupun dengan lembut mereka pasti akan menurut. Kalau pada Dinda mereka masih berani negosiasi walau akhirnya mereka pasti kalah. Kalau dengan Dinda mereka senang melakukan tawar-menawar.
“Memang kita mau ke mana sih Kek?” Kata Fari.
Kita mau acara family gathering dengan semua karyawan dan keluarganya,” jawab Eddy.
“Jadi nanti kita akan menginap di Villa, tapi akan banyak tenda. Yang mau tidur di tenda ada, tapi tidur di kamar pun semua sudah tersedia.”
“Aku mau di tenda Kek,” sela Iban.
“Ya nanti kita ambil satu tenda buat keluarga kita,” janji Eddy.
“Nanti malam juga akan ada api unggun dan acara kegiatan lainnya,” jelas Eddy selaanjutnya.
“Wah kalau kegiatan luar seperti itu aku suka,” kata Iban.
“Iya kalau kamu suka kamu harus ikut berperan serta. Jadi kalau ada lomba kamu harus ikut agar semua orang tahu bahwa kamu anaknya Pak Radit mau berbaur dengan anaknya karyawan,” Eddy mengajarkan cucunya berbaur dengan masyarakat bawah.
Radit dan Dinda juga membawa ketiga mbok untuk menjaga keenam anak mereka. Bukan karena Adit dan Dinda tak mau repot melainkan Adit dan Dinda tetap harus berinteraksi full dengan para karyawan.
Nanti anak-anak bisa tidak terkontrol karena kegiatan Adit dan Dinda itu. Karena itu dibutuhkan 3 mbok untuk membantu.