
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Sore itu sehabis mandi Dinda mengajak kedua putranya untuk pergi mengunjungi Eddy
“Nia, nanti dikunci aja seperti biasa. Mungkin saya kalau pulang akan lewat tangga luar. Tapi bisa juga saya tidak pulang karena mengunjungi kakeknya anak-anak,” kata Dinda pada pegawainya.
“Ya Bu. Nanti kami akan kunci seperti biasa,” kata pegawainya.
“Ayah yang nyetir ya, ini jauh.” Dinda menyerahkan kunci pada Adit yang sudah menggendong kedua putra mereka. Dinda membawa dua tas perlengkapan bayi dan 1 koper kecil berisi baju anak-anak. Dia tentu tak perlu bawa baju dirinya karena saat pergi dulu tak membawa baju satu helai pun.
“Aku duduk di belakang bersama anak dua itu karena car seat ada di belakang.”
“Kenapa enggak di pangku salah satu lalu salah satu yang lainnya tidur kan di belakang.”
“Bagaimana mungkin satu ditaruh belakang kalau mereka tidur seperti sekarang?”
“Mereka baru bangun, mana mau tidur. lebih-lebih ya bawa mobil ayahnya. Lebih baik aku menemani mereka di belakang lah. Enggak apa-apa sekali-sekali Ayah jadi sopir,” goda Dinda.
Adit pun membawa mobil kerumah Eddy dengan terus ngobrol bersama kedua putranya.
Mbok Marni dan mbok Asih tentu kaget melihat kedua momongan mereka sudah besar. Saat itu Eddy baru mandi sehingga tidak serta merta tahu kedatangan keduanya cucunya.
“Ini rumah Ayah sama kakek. Ayo kita masuk,” Adit bicara pada kedua putranya yang mereka belum mau digendong oleh Mbok Marni dan Mbok Asih.
“Nanti mbok sabar.” kata Dinda.
“Iya non Dinda, aku kangen banget sama mereka. Pengen gendong tapi belum pada mau,” kata Marni.
“Enggak kangen aku po Mbok?” tanya Dinda.
“Non Dinda mah nggak usah dikangenin sama si mbok. Yang kangen kan Mas Adit,” goda Marni.
“Ah bisa aja sih Mbok,” lalu Dinda dan Adit masuk mencari Eddy.
“Pa lihat Pa,” kata Adit sambil berteriak Eddy kaget kok Adit teriak.
Dinda menghampiri Eddy memberi salim dan menangis.” Maafkan aku Pa,” kata Dinda.
“Enggak kamu enggak salah. Sudah enggak usah merasa bersalah. Semua bersalah dan semua sudah memaafkan. Sekarang semua kita jalani seperti biasa,” kata Eddy.
“Papa sehat? tanya Dinda seperti biasa. Selalu yang ditanya adalah kesehatan Papanya.
“Alhamdulillah sehat. Kalau mau melanggar aturanmu Papa langsung ingat kamu pasti ngamuk kalau aturannya dilanggar, jadi Papa langsung stop tidak mau melanggar aturan yang kamu buat. Selama ini semuanya sesuai dengan schedule-mu, minum obat, makan dan semuanya selalu Papa terapkan seperti itu sehingga Alhamdulillah Papa sehat,” lapor Eddy.
“Tapi porsi makannya kayaknya sedikit ya Pa? Papa terlihat kurus,” jawab Dinda.
“Iya Din sekarang Papa enggak nafsu makan. Setelah kamu pergi Papa mikirin anak-anak tapi begitu sering dapat video dan foto darimu sudah lumayan mau makan,” giliran Adit yang lapor.
“Nah mulai kan buka rahasia Papa,” protes Eddy.
“Biasalah Pa, kan dia cari perhatian,” goda Dinda.
“Ghifari ini kakek sayank,” sapa Eddy.
Eddy mencium Ghifari dan ingin menggendongnya tapi Ghibran mendorong Ghifari dia minta dia yang digendong oleh Eddy.
“Adek kok gitu Mamas kan pengen digendong kakek duluan,” tegur Dinda memperingatkan Ghibran.
“Papa duduk aja yuk,” kata Adit.
“Biar mereka dua-duanya bisa digendong Papa,” Adit mau pun Dinda takut bila papanya menggendong dua sekaligus tidak kuat, terlebih bila keduanya bergerak. Sedang keduanya ingin digendong Eddy.
Maka mereka duduk di ruang tengah dan membiarkan kedua cucunya dalam pangkuan kakek Eddy.
Terlihat sedikit air mata di sudut mata Eddy, dia bahagia masih bisa bertemu dengan kedua cucunya.
\*‘Untung aja pemikirannya Adit tajam sehingga dia mencari dengan cara membuat proposal yang tak ada harganya buat perusahaan. Setidaknya sangat bernilai besar karena bisa menemukan kedua putranya,’ \*batin Eddy.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok