
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya ibu itu menarik napas panjang.
“Baik Mbak saya kasih tahu.”
Dia kembali terdiam beberapa saat.
“Yang memberitahu saya itu semuanya adalah Lilis adiknya Pak Eddy. Dia bilang putri saya hidup mewah dengan anak pak Eddy dan sudah punya satu anak perempuan juga,” rupanya info dari Lilis pun salah karena Bram adalah laki-laki.
“Adik ipar kali. Itu pun bukan adik kandung mama saya,” Adit tak terima dibilang Lilis adik ipar papanya. Adit tentu kaget juga mendengar tantenya kembali berulah.
“Dia yang bilang semuanya, bahwa putri saya dipelihara oleh Bapak dan ibu di sini lalu menikah dengan anaknya Pak Eddy dan punya satu anak perempuan lucu,” jawab perempuan itu.
“Jadi Ibu mau jadi nenek dari bayi yang super kaya gitu maksudnya?” kata Dinda sambil tersenyum.
“Sayang sekali hasil tes DNA nya membuktikan dia bukan anaknya suami saya Bu,” kata Dinda.
“Sudah Mas berikan uangnya.Terima kasih Bu,” lalu Dinda langsung masuk ke dalam. Dia tak mau berurusan panjang dengan ibunya Shalimah tersebut
“Kenapa kamu kesal?” tanya Eddy melihat Dinda masuk dengan wajah cemberut. Dia malah tak menduga kalau menantunya ikut menemui tamu special sore ini.
“Bgimana eggak kesal Pa? Papa tahu siapa kompornya sampai perempuan itu datang ke sini setelah tak peduli membuang anaknya? Puluhan tahun dia tak ingat akan bayi yang dia buang. Sesudah seperempat abad baru cari kalau tak ada kompor tak mungkin datang Pa.”
“Papa tadi eggak sempat nanya. Papa sudah malas lihat wajahnya jadi ya malas tanya apa pun,” kata Eddy.
“Perempuan itu tahu putrinya di angkat anak oleh Papa lalu perempuan itu juga tahu putrinya pernah hidup sama Mas Adit. Sampai sini aku enggak jadi masalah Pa. Seperti yang aku bilang, masa lalu mas Adit tak bisa aku hapus.”
“Perempuan itu juga tahu perempuan Shalimah punya anak perempuan dengan mas Adit, ini yang jadi masalah buat aku.”
“Perempuan tadi niatnya adalah memeras Papa karena dia tahu cucunya adalah juga cucu Papa. Artinya dia bisa minta uang sama putrinya.”
“Itu Papa sudah tahu. Papa sudah bilang kok Papa punya tes DNA yang mengatakan cucunya dia bukan cucu Papa,” jelas Adit.
“Dan Papa juga sudah bilang putrinya adalah buronan sehingga kalau dia mau, dia yang harus ganti uang ke Papa. Papa enggak bilang kalau Shalimah sudah bayar semuanya. Papa bilang belum dibayar dan dia harus mengganti biar dia kapok dan Papa juga tekankan kalau ketahuan dia yang akan ditangkap untuk menjadi pengganti Shalimah di penjara.”
“Oke fine sampai situ aku mengerti. Karena dia sudah dimentahkan masalah test DNA. Aku juga sudah tahu bahwa dia datang ke sini setelah bertahun-tahun enggak nongol cuma ada satu alasan yaitu butuh uang.”
“Mungkin uang dalam jumlah besar dan rutin kalau memang cucunya adalah cucu Papa. Yang jadi masalah buat aku adalah sumber informan-nya dia. Sekali lagi informan dia. Itu yang aku permasalahkan.”
“Papa mau tahu siapa informan tersebut?”
“Memang kamu sudah tanya siapa informan yang memberi tahu dia soal keberadaan cucunya?”
“Aku tahu Pa. Aku tadi tukar informasi itu dengan uang.”
“Maksudmu ditukar dengan uang bagaimana?”
“Aku minta dia sebutin nama informan itu dengan imbalan uang Rp 500.000 tapi dia belum mau nyebut.”
“Akhirnya setelah menjadi satu juta dia baru mau menyebutkan siapa yang kasih tahu dia.” jelas Dinda.
“Jadi kamu keluarin uang Rp 1.000.000 untuk tahu nama tersebut?”
“Iya Pa. Uang 500 dari tangan aku dan 500 dari dompetnya Mas Adit. Baru nama itu keluar. Padahal aku memang sudah siapkan uang 1 juta tapi yang 500 masih dalam sakuku. Eh di dompet mas Adit ada uang. Ya sudah yang 500 dari dompet mas Adit.
“Siapa?” tanya Eddy penasaran.
“Tante Lilis Pa.”
“Astagaaaa … Lilis?”
“Ya Pa. Dia, dan aku minta kita sidang dia Pa. Aku tidak mau terjadi hal-hal lain. Kalau perlu aku kirim dia ke penjara seperti tante Tasih,” Dinda ingat pernah melihat Lilis hampir dua tahun lalu, sebelum dia bertekad berangkat ke Australia.
‘*Apa dulu dia cari celah buat kembali dekati papa*?’
“Aku tidak mau rumah tanggaku berantakan lagi dengan rayap rayap seperti ini. Mereka ingin harta dan menggerogoti tiang agar bangunan rubuh.”
“Papa setuju panggil dia besok, kan besok hari Minggu. Kita masih di rumah semua,” kata Eddy.
“Panggil siapa ini?” tanya Adit yang baru masuk.
“Enggak,” jawab Dinda. Lalu dia tinggalkan Eddy dan Adit untuk ke kamarnya. Dinda ingin melihat anak-anak apakah sudah bangun.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.