
“Kok Mas enggak kasih tahu dari tadi?” tanya Dinda.
“Aku tak mau merusak kebahagiaan anak-anak sedang bereksperimen menu denganmu. Biar bagaimana pun kepentingan anak-anak itu yang utama buatku. Kita datang cepat ke sana pun kita tidak bisa menentukan bertahan tidaknya Gultom.”
“Iya sih,” jawab Dinda. Dinda mengerti mengapa Adit memutuskan seperti itu.
“Dan aku juga sudah pesan pada Ajat untuk memberitahu semua perkembangan yang terjadi,” jelas Adit.
“Ya sudah kalau seperti itu. Yang penting kita bersiap-siap saja kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.” jawab Dinda.
“Tidak terjadi sesuatu apa pun kita tetap harus ke sana. Setidaknya kita memberi penghiburan kepada Sondang dan anak-anak,” ucap Adit.
“Yang penting anak-anak kita sudah selesai eksperimen bikin kuenya barusan. Jadi mereka tak akan kecewa.”
“Mereka sudah selesai dan sudah menikmatinya kok,” jawab Dinda.
“Baik kalau begitu Ayah akan pamit kepada mereka, memberi pengertian bahwa kamu harus melihat pegawaimu,” ucap Adit.
“Oke. Aku mandi dulu,” jawab Dinda yang badannya sudah lengket karena keringat sehabis membuat kue bersama anak-anak.
“Abang untuk sementara pak Gultom dipindah ke ICU. Kalau kondisinya sudah stabil nanti dikembalikan ke ruang rawat,” begitu yang Ajat katakan saat Dinda sudah hampir tiba di rumah sakit.
“Baik ini kami sudah tiba di rumah sakit,” jawab Dinda karena Adit sedang mengemudi sehingga yang menjawab adalah Dinda.
“Eh Ibu, maaf. Kirain tadi Abang Adit yang angkat,” ucap Ajat.
“Nggak apa-apa. Dia lagi nyetir dan kami sudah tiba di parkiran,” kata Dinda.
“Kalau begitu tidak usah ke ruang rawat kemarin Bu. Langsung ke ICU dulu saja. ICU yang di lantai 5.”
Suasana di depan ruang ICU sangat berbeda dengan suasana di depan ruang rawat biasa. Di ruang ICU tak ada wajah ceria, semua penunggu pasti wajahnya penuh rona ketakutan, penuh rona kesedihan. Itu yang tergambar dari semua penunggu di ICU.
Sondang sudah lebih kuat sekarang dia yang memeluk kedua putrinya. Opung sudah datang karena Sondang langsung menghubungi opung ketika kondisi Gultom kritis tadi. Tentu dia tak mau disalahkan oleh mertuanya bila Gultom kenapa-kenapa.
“Yang sabar ya kalian. Yang sabar. Pasti Allah akan memberi jalan yang terbaik. Apa pun itu, pasti itu adalah ketentuan Allah yang terbaik,” kata Adinda.
“Terima kasih Bu,” jawab opung mewakili Sondang yang masih tetap diam.
Dinda menggeret opung agak ke samping agar tak terdengar oleh Sondang dan anak-anaknya.
“Opung saat seperti ini apa ada keinginanOpung untuk memanggil dua mantan istri Gultom yang lain?” tanya Dinda.
“Buat saya istrinya Gultom hanya Sondang. Jadi saya tidak akui mereka apa pun kondisinya. Dan yang kedua anak-anak sudah bilang apabila kedua orang itu ada di sini mereka akan pergi. Selamanya nggak akan mau datang untuk melihat Gultom. Saya tentu lebih mementingkan cucu-cucu saya daripada kedua perempuan tersebut. Bagaimana mungkin saya membiarkan dua cucu saya tidak mau melihat papanya lagi?” jawab opung.
“Kapan anak-anak bilang seperti itu?” tanya Dinda.
“Tadi sebelum masuk ke rumah sakit, kata Sondang. Atau sebelum masuk ke ruangan ini. Pokoknya sebelum mereka melihat kondisi Gultom. Mereka bilang apabila ada kedua tante itu pernah datang mereka langsung akan tidak pernah mau kembali dan tidak pernah mau bertemu dengan Gultom.”
“Oke kalau keputusannya seperti itu kami akan mendukung. Karena kami juga tak mau salah langkah. Apabila kedua orang itu mendengar dari siapa pun kami akan mencegah dan kami akan melarang mereka untuk sampai ke sini.”
“Terima kasih Bu. Terima kasih. Sekali lagi terima kasih,” jawab opung.
“Sama-sama Opung. Yang penting Opung juga harus kuat dan bersabar.”
“Saya akan berupaya untuk itu. Kalau misalnya Ucok harus pergi lebih dulu dari saya, saya akan rela. Saya akan menjaga anak-anaknya,” kata opung pasrah.