GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MAU JADI IBU ANAKNYA, TAK MAU JADI ISTRI BAPAKNYA



“Mengingat pengalaman buruk itu, akhirnya Mami mendekati gadis tersebut. Mami bujuk hingga dia mau diam Mami belikan dia es krim pengganti dan Mami juga beli dua coklat untuk Mami pribadi. Mami suka coklat.”


‘Aku bahkan enggak tahu kamu suka coklat, atau apa yang lainnya,’ sesal Ajat dalam hatinya.


“Gadis itu tidak mau pulang kalau tidak diantar Mami. Mami bingung, akhirnya Mami bilang tunggu ya, Tante belanja dulu sebentar. Enggak mungkin Mami batalin nggak beli pembalut. Jadi Mami minta dia tunggu Mami selesai belanja. habis itu dia nunjukin ke arah mobilnya. Sopirnya nunggu di mobil.”


“Pak anak ini nggak mau pulang kalau nggak saya antar. Bapak bisa kasih tahu alamatnya?  Biar saya yang di depan, kalau Bapak takut saya kabur bawa anak ini. Saya di depan Bapak ikuti mobil saya dari belakang, kata Mami.”


“Akhirnya Mami antar anak tersebut sampai di rumahnya. Mami kaget rumah besar tetapi tidak ada jiwanya, ada tiga orang pembantu di sana tak ada nyonya rumah maupun tuan rumah. Rumah yang benar-benar kelam kalau menurut penglihatan Mami. Di situ juga ada anak kecil lain yang matanya sangat berduka. Dia hanya menatap Mami seakan ingin minta di peluk. Mami benar-benar enggak tega melihat matanya Farouq saat itu. Mami ambil coklat punya Mami dari tas lalu berikan pada dia juga pada kakaknya.”


“Tidak ada ucapan terima kasih dari kedua anak itu, mungkin karena tak terbiasa di ajarkan tapi mungkin karena tak bisa berkata-kata. Yang ada hanya air mata keluar dari pelupuk mata Farouq tak bisa berhenti. Dia menangis tanpa suara!”


“Mami langsung mendekati dia, saat itu juga Mami berjanji akan selalu ada untuk menghapus air matanya. Air mata Farouq membuat Mami jatuh cinta pada dia. bukan pada Mischa. Air mata Farouq menuliskan betapa jiwanya sangat terluka!”


“Setelah itu beberapa kali Mischa datang ke kantor, bahkan ke rumah. Dia minta Mami datang menemui Farouq di rumah. Kadang dia datang ke kantor bersama Farouq. Di rumah Mischa Mami ketemu sama para pembantu juga ketemu ibu. Dari mereka Mami tahu sejak umur 1 tahun pun Farouq sama sekali tidak tahu siapa ibunya. 6 tahun dia hidup tanpa belai kasih sayang ibunya. Mami nggak bisa merasakan duka teramat dalam seperti itu. Jadi Mami ingin menjadi ibunya tanpa menjadi istri papanya!”


Ajat tentu saja kaget ternyata ibunya sudah melamar lebih dulu.


“Mama tentu saja kaget melihat bagaimana dua anak itu tanpa ibu. Mama pun menangis melihat Mischa dan Farouq. Aku bilang sama mama aku ingin jadi ibu mereka tapi tak ingin jadi istri papanya. Itu yang aku sampaikan ke mama.”


“Akhirnya Mama pun bilang ke ibumu bahwa Mami mau jadi ibunya anak-anak tapi tidak jadi istri Papi. Tentu saja ibu tidak mau karena takut Papikembali menikah sama orang yang enggak benar lagi. Akhirnya entah bagaimana ibu dan mama diskusi dan mereka sepakat Mami harus nikah sama Papi!”


“Itu kisah dari Mami. Terserah Papimau percaya atau tidak. Papibisa cek ke ibu sama mama bagaimana perjuangan mereka untuk meluluhkan hati Mami menerima lelaki yang menurut mereka saja sampah!”


“Jadi ketika sejak menikah nggak disentuh atau pun enggak diajak bicara Mami nggak peduli, karena memang enggak pernah niat buat menjadi istrimu,” kata Santi.


Sejak awal bicara tadi Santi sama sekali tidak menunduk, dia menatap mata Ajat, tak takut apa pun.