
Keseruan acara family gathering membekas di hati anak-anak. Mereka senang bermain di alam bahkan Fari dan Iban ikut kemping mereka tidak mau tidur di kamar. Yang menemani tidur di tenda tentu saja Adit dan Eddy. Dinda dan para mbok serta 4 anak lainnya tidur di kamar masing-masing. Dinda bersama 4 anak dan 3 mbok bersama di satu kamar lainnya.
Saat acara api unggun pun Iban dan Fari berperan aktif. Tentu saja itu membawa dampak positif bagi perkembangan jiwa mereka.
Para mbok juga senang mereka sekali-sekali makan tidak perlu harus mengolah lebih, dahulu karena sudah ada petugas piket yang bertugas masak. Malam itu mereka bikin ayam bakar. Benar-benar bau bakaran yang khas karena dibakar di atas api bara api yang menyala besar.
Nasinya juga dimasak dengan kukusan Jadi bukan dengan magic jar, tentu rasanya berbeda.
Kembali ke rumah kembali ke rutinitas. Hari ini hari Senin jadwalnya Adit menghadap kepada guru BP tentang masalah perkelahian Iban kemarin.
Bukan kali pertama Adit menghadapi masalah perkelahian Iban. Kalau Fari memang tidak pernah bermasalah di sekolah.
Tiba di sekolah Adit, Biyya dan Iban masuk ruang BP. Di sana sudah ada Charles dan papinya yang langsung memaki-maki Iban tanpa prolog.
Adit bukan orang yang terima anaknya disalahkan dan dimaki-maki oleh orang tuanya Charles. Tapi dia tak langsung terbawa emosi balas memaki ayah Charles. Awalnya dia hanya diam saja.
“Bapak dan Ibu mohon maaf saya tidak mau berkomentar terlebih dahulu sebelum kita dengar apa yang anak-anak kita katakan,” kata Adit setelah papinya Charles selesai memaki-maki Iban dengan kata-kata tak pantas.
“Coba suruh mereka bicara jujur. Kalau saya sudah tanya anak saya di rumah versi jujurnya. Saya ingin tahu versi jujurnya Charles bagaimana.: tantang Adit.
Charles seperti anak-anak lain tentu saja membela diri dengan kebohongan. Dia bilang dia sedang tidak apa-apa, tiba-tiba Iban datang marah langsung memukulnya.
“Lihat kan? Anak saya enggak salah apa-apa. anak Anda yang kurang ajar dan tidak pernah di didik itu langsung memukul putra saya,” teriak papinya Charles dengan emosi tinggi.
“Iban, apa kejadiannya seperti itu?” tanya Adit lembut.
Tentu saja papinya Charles tidak terima. Dia kembali memaki-maki Iban sebagai penipu ulung dan bakat kriminal serta kurang dididik orang tuanya.
“Oke kita sudah lihat kan Ibu?” kata Adit pada ibu guru BP.
“Anak saya bicara jujur dan katanya Charles juga bicara jujur. Sekarang saya minta yayasan perlihatkan rekaman CCTV. Saya tidak mau ribut tanpa bukti. Saya akan viralkan sekolah ini kalau CCTV kelas tidak berfungsi,” kata Adit tegas.
Papinya Charles baru sadar bahwa semua kelas dan semua sudut di halaman yayasan ini menggunakan CCTV sehingga akan aman.
Sejak tadi ibu guru BP memang sudah mempersiapkan rekaman CCTV karena dia sudah hafal kelakuannya Adit. Setiap persoalan harus ada bukti konkret karena ini bukan panggilan pertama untuk Iban dan Adit selalu hadir. Tak seperti orang tua Charles yang baru satu kali ini hadir.
Ibu guru BP lalu menyiarkan rekaman CCTV di layar televisi cukup besar di ruangan itu.
Di layar terlihat bagaimana Charles berupaya mencium Biyya, tapi Biyya menolak meronta.
Saat itulah Iban datang dan semua kata-kata Charles terbantahkan karena Charles yang memulai lebih dulu membully Biyya dengan mengatakan tidak naksir Biyya dan Biyya adalah jelek padahal sejak awal Charles yang berupaya mencium bibir Biyya.
Setelah semua terlihat hingga selesai Adit dan Charles dibawa guru untuk dipisahkan maka rekaman selesai.
“Oke Bapak kita ke kantor polisi. Saya tidak terima anak saya di maki-maki oleh Bapak seperti tadi. Jadi kita bertemu di kantor polisi ya Pak.” kata Adit. Dia menyalami guru BP.
“Lho Pak enggak bisa begitu dong. Masalahnya kita selesaikan di sini saja,” tolak Papinya Charles.
Adit hanya menatap wajah papinya Charles dengan sinis.