GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MAAFKAN AYAH NAK



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Akhirnya pelajaran selesai, kedua jagoan bersama tiga orang temannya keluar dari ruangan tentu bersama para orang tua mereka atau baby sitternya kalau yang tidak ditunggu oleh orang tua.



“Sayanknya Ayah ikut Bunda ya, Ayah mau lihat om Bagas dulu,” perintah Adit pada kedua putranya. Dia menyerahkan Ghifari dan Ghibran pada Dinda juga Bu Tari.



Sayangnya kedua jagoan Adit tak mau turun dari gendongan Adit.  Memang sehabis selesai pelajaran tadi mereka langsung minta gendong oleh Adit dan menghindari bu Tari serta Dinda.



“Bun gimana ini?” tanya Adit karena dia juga tidak tega kalau sampai anaknya menjadi rewel karena penolakannya.



Terlebih Dinda yang tahu kalau sampai mereka dipisahkan dengan Adit, pasti anak-anak akan sakit panas seperti ketika Ghifari melihat ayahnya dari kejauhan tapi tak bisa dia gapai.



Ghifari dan Ghibran biasa melihat Adit dan Eddy di televisi besar mereka, tapi itu tudak real dan mereka tahu. Begitu lihat real tak bisa memeluk pasti kecewa.



“Kita ganti diapers dulu yuk. Nanti habis itu ikut Ayah,” bujuk Dinda sambil minta tas anak-anak pada Bu Tari.



“Auuuu,” Kata Ghibran sambil menggeleng. Dia sudah meno;al dengan tegas ajakan Dinda.



“Ya sudah, ayo kita ke toilet. Ayah gantikan kalian diapers, enggak boleh ganti di tempat umum seperti ini. Malu nanti.” kata Adit, lalu dia mengajak keduanya ke toilet laki-laki.



“Tolong diapersnya Bun, sama tissue basahnya,” pinta Adit. Dinda menyerahkan tas ganti anak-anak. Di sana sudah ada tissue basah lengkap dengan diapers dan celana ganti bila dibutuhkan misal celana anak-anak jatuh atau basah.



Adit menggantikan keduanya. Pertama dia dudukan Ghifari di atas kloset yang tertutup dan dia gantikan Ghibran. Setelah Ghibran selesai, gantian Ghibran didudukan di atas kloset dan dia gantikan Ghifari.



Adit sedikit berurai air mata ketika dia sedang menunduk menggantikan diapers Ghifari anak kecil itu mengecup keningnya.



Tak bisa berkata-kata Adit memeluk Ghifari sambil terisak.



“Maafkan Ayah. Maafkan Ayah Nak,” bisik Adit.



Cukup lama Adit berupaya menenangkan hatinya. Dia hapus semua bekas air mata. Dia tutup tas dan dia cantolkan di bahu kemudian mengajak keluar putranya.



“Ayo sudah selesai kita ke Bunda, jalan ya tidak gendong,” kata Adit sambil menurunkan Ghibran dari kloset agar bisa dia gandeng.



“Auu,” Kata Ghifari tidak mau disuruh jalan. Dia maunya digendong ayahnya, tapi Adit berupaya menggandeng mereka berdua dengan menggantungkan tas baju anak-anak di bahunya dan kedua tangan menggandeng Fari serta Iban/



Ghifari tidak mau disuruh jalan dia menarik telunjuk Adit agar digendong.




“Ndong,” jawab Ghibran cepat.



“Kalian nih sepaket banget sih,” kata Adit. Sang ayah pun kalah pada kemauan kedua putranya. Dia berjongkok dan menggendong kedua putranya keluar toilet.



Adinda menunggu di depan ruang toilet duduk di kursi tunggu.



“Ini Bun,” kata Adit sambil menyerahkan tas dibahunya. Dinda melihat mata Adit memerah bekas menangis.



“Mereka disuruh jalan enggak mau tuh,” lapor Adit.



“Bunda bisa enggak tolong temui Bagas dan tanya bagaimana kesulitannya. Atau apa yang harus diubah. Ayah biar jaga anak-anak di sini,” kata Adit. Sengaja Adit menyerahkan semuanya pada Dinda karena dia tak ingin terlibat dengan Meliana.



Dinda berpikir kalau anak-anak dibawa lagi kedalam, berarti Adit ketemu dengan Meliana lagi. Ya sudahlah, dia pun menemui Bagas.



“Kamu di mana?” tanya Dinda pada Bagas melalui telepon. Tentu Dinda masih menyimpan nomor telepon Bagas di ponsel ini walau sudah ganti kartu.



“Ada di ruang kosong yang akan dibangun Bu,” jawab Bagas.



“Aku mau ke situ karena kami sudah mau pulang. Ada kesulitan eggak?” tanya Dinda.



“Sampai saat ini sih enggak Bu,” jawab Bagas.



“Gas kamu datang sama driver atau sendiri?” tanya Dinda. Dinda hafal Bagas orang yang paling malas mengemudi.



“Saya sama driver pribadi Bu, bukan driver kantor karena tadi dari rumah masih ngantuk,” kata Bagas jujur.



“Kalau begitu kamu pulang ke kantor bisa sendiri enggak?” tanya Dinda.



“Kenapa Bu?” tanya Bagas.



“Ini saya sudah mau sampai situ, nanti saya bicara langsung sama kamu enggak lewat telepon lah,” kata Dinda.


\*\*\*


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok