GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
DIA TAK AKAN PERNAH KEMBALI



Adit mengangkat Mischa pelan-pelan dari pangkuannya Dinda. Gadis kecil itu tertidur saat perjalanan pulang dari pemakaman. Ajat kaget melihat Mischa digendong oleh Adit.


“Bobo?” tanya Ajat.


Adit hanya mengangguk tak mau menjawab. Takut Mischa terbangun. Adit langsung mengikuti Dinda yang memandu dia untuk menuju kamarnya Mischa.


Adit menaruh Mischa pelan-pelan di ranjang. Dinda menepuknya pelan sampai Mischa kembali terlelap sehabis dipindah Adit dari gendongan ke kasur. Sehabis itu baru keduanya keluar kamar.


“Bu nanti kalau Mischa bangun, jangan lupa bujuk makan ya. Dia kalau dibujuk makan emang agak sulit. Mungkin karena belum terbiasa tapi nanti lama-lama mau. Kasihan kalau dia nggak ada yang menemani. Dia sedang kehilangan.


“Kamu jangan lupa perhatikan Mischa. Dia juga merasa kehilangan. Terlebih sekarang dia merasa tersisih karena perhatianmu cuma buat Santi. Bukan Abang nggak suka kamu perhatian sama Santi, tetapi kalian berdua harus rengkuh Mischa juga.”


“Jangan sampai dia merasa terbuang sendirian, setelah tidak ada Farouq.


“Iya Bang. Aku mengerti. Memang dari tadi aku perhatiannya sama Santi takut dia pingsan atau terjadi hal-hal lain. Tapi habis ini aku akan bagi perhatianku pada mereka berdua sama besar,” janji Ajat.


“Iya. Untung Dinda mengerti itu. Sehingga sejak pagi Dinda yang ngajak dia makan maupun ke pemakaman. Makan pun Dinda kepaksa ikut sarapan lagi padahal sudah sarapan di rumah demi membujuk Mischa makan.”


“Ibunya Santi telaten sih. Dia yang ngajak mandi juga nyiapin baju serta mendandani Mischa. Semoga aja ibunya Santi bisa beberapa hari di sini agar Mischa tak kehilangan langsung.”


“Dinda sudah menyuruh bu Ponirah untuk menemani Mischa. Kalau kamu nggak mau bu Ponirah kerja di sini, kamu bilang Dinda saja. Biar dia nanti di rumah kami nggak apa-apa.” ucap Adit.


“Ya aku rasa baiknya seperti itu. Karena bu Ponirah mengerti tentang anak-anak.”


Satu persatu teman dan kerabat mulai pulang. Rumah mulai sepi hanya tinggal five little star minus Ajeng dan Shindu. Tentunya karena tadi Ajeng dan Shindu diharuskan oleh Dinda langsung pulang. Tidak usah kembali ke rumah Santi, karena Baim baru pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu.


“Kami pulang dulu ya, kata Puspa dan Ilham.


“Ya terima kasih,” jawab Santi.


“Ilham special thanks for you juga udah nugasin semua keliling ngawasin perusahaanku, jadi perusahaan nggak pernah kosong selama aku bolos.”


“Itu sudah kewajiban kita kan? Selalu bersama. Cuma kemarin memang Ajeng yang tidak aku tugaskan untuk gantian jaga, karena dia juga perlu dibantu. Waktu Baim sakit kan kita bantu dia, tapi waktu kamu kena musibah dia tidak bisa bantu karena kebetulan dia sedang belum bisa full meninggalkan Baim. Jadi dia masih ngawasin perusahaannya sendiri. Tapi Pak Shindu pernah satu kali kok jagain perusahaanmu gantiin Ajeng.”


“Iya, terima kasih semuanya. Memang kalau tidak membuat tim seperti ini kita itu timpang,” kata Santi.


“Iya semua orang pasti butuh pertolongan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menguburkan dirinya sendiri. Dia pasti butuh bantuan orang lain. Karena itu selama masih hidup kita harus saling menolong,” kata Ilham. Dia memang leader dari five little star.


“Oke terima kasih sekali lagi atas bantuannya. Sejak Farouq hilang sampai Farouq ditemukan dan pemakamannya tadi,” kata Santi. Dia sudah mulai bisa tegar. Karena walau dia menangis seperti apa pun Farouq tak akan kembali. Dia harus menatap masa depannya bersama anaknya juga Mischa.