
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Ayah aku mau pipis,” pinta Fari.
“Ayo Ayah antar,” jawab Adit cepat. Keduanya sudah tak menggunakan diapers lagi.
“Mas mau pipis juga eh Abang mau pipis juga enggak?” tanya Adit.
“Biar sekalian, habis itu kita pulang karena sebentar lagi makanan yang dibawa pulang ke hotel juga udah selesai,” ucap Adit.
“Sekalian aja Bang, biar Ayah enggak dua kali kerja,” kata Dinda menasihati Iban.
Adit membawa 2 putranya ke toilet, sekalian dia juga pipis daripada dua kali kerjaan.
“Radite,” sapa perempuan yang sejak tadi dibicarakan oleh Adit dan Dinda.
“Maaf, siapa ya?” tanya Adit. Dia memang tadi sudah bilang sepertinya itu Syahnaz pada Dinda, tapi dia takut salah.
“Enggak usah pura-pura lupa, kita bukan satu kali tidur bersama sudah berkali-kali. Jadi aku yakin kamu enggak akan mungkin lupain aku,” jawab perempuan tersebut.
“Maaf aku lupa. Katakan saja siapa namamu,” ucap Radite.
“Aku Syahnaz. Masa kamu lupa?” jawab perempuan tersebut dengan percaya dirinya.
“Oooooh,” jawab Adit tanpa mau bersalaman.
“Ayah ini siapa?” Tanya Fari.
“ Halo Sayang. ini Tante Syahnaz teman ayahmu,” jawab Syahnaz.
“Adit aku minta nomor teleponmu,” pinta Syahnaz ketika melihat Fari langsung melengos ketika disapa Syahnaz.
“Buat apa?” tanya Adit.
“Aku enggak ada keperluan apa pun jadi enggak usah coba-coba minta nomor telepon aku,” kata Adit. Fari langsung lari ke arah Dinda sedang Iban masih berdiri di situ memperhatikan Syahnaz.
“Kok ke sini duluan enggak nunggu ayah?” tanya Dinda.
“Enggak, aku nggak suka sama tante Syahnaz tadi,” jawab Fari sambil cemberut.
“Koq tahu namanya, kenapa enggak suka sama dia?” tanya Dinda santai. Dia dan Adit sudah membicarakan perempuan tersebut dan mereka sudah tak masalah soal masa lalu Adit jadi Dinda tak menganggap masalah besar saat Syahnaz datang menghampiri suaminya.
“Dia bilang namanya ke aku. Dia minta nomor telepon ayah, tapi ayah enggak kasih. Dia maksa ayah. Aku enggak suka,” kata Fari sambil memasang wajah tak suka.
“Enggak apa-apa kan minta nomor telepon?” jawab Dinda membujuk putra sulungnya.
“Tapi aku enggak suka Bun. Pokoknya enggak suka,” jawab Fari ketus. Dia memang lebih perasa dari Iban sejak lahir. Adit dan Dinda menyadari hal tersebut. Mungkin itu alasan mengapa dia langsung lari dari Adit. Karena dia tak suka terhadap Syahnaz. Sedang Iban dia lebih senang berdiri di situ. Dia ingin tahu kelanjutannya dan dia akan menyerang apabila diperlukan.
“Kenapa sih pelit banget?” tanya Syahnaz.
“See, lihat! Anak aku aja tahu bahwa aku enggak suka,” jawab Adit.
“Kalau kamu sombong seperti itu aku akan bilang pada istrimu siapa aku buatmu,” ancam Syahnaz.
Adit tersenyum usil mendengar ancaman Syahnaz.
“Katakan saja langsung pada dia. Istriku sudah tahu kamu adalah WC umum,” jawab Adit santai.
“Apa itu maksudnya WC umum?”
“Tanyain aja sama istriku siapa kamu. Aku dan istriku enggak ada rahasia. Semuanya dia tahu. Jadi kalau kamu mau umbar cerita busukmu silakan. Karena yang busuk itu kamu, bukan aku. Aku enggak punya rahasia apa pun terhadap istriku. Itu kunci kebahagiaan rumah tangga kami,” jawab Adit tak ragu.
Adit langsung menggandeng Iban meninggalkan Syahnaz
“Bunda aku enggak suka banget sama tante tadi,” sekarang giliran Iban yang melapor pada Dinda kalau dia tak suka pada Syahnaz.
“Enggak boleh begitu, masa baru ketemu sudah bilang enggak suka?” tegur Dinda.
“Ayah enggak mau, dipaksa aja,” jawab Iban masih kesal.
“Ayah enggak mau apa?” tanya Adinda pada Iban. Semua harus di respon baik-baik.
“Ayah enggak mau kasih nomor teleponnya, tapi dia maksa. Terus dia bilang kalau enggak dikasih dia akan lapor Bunda.”
“Oh gitu, mau lapor apa?” tanya Dinda.
“Enggak tau. Ayah cuma bilang : kamu WC umum.” jawab Iban.
Dinda tertawa kecil mendengar bahwa Adit mengatakan itu kepada Syahnaz.
“Lain kali kalau bicara depan anak-anak itu hati-hati,” bisik Dinda.
“Aku pakai istilah WC umum agar enggak bilang kata pela-cur di depan Ibang,” balas Adit juga sambil berbisik.
”Dia ngancem akan cerita semuanya ke kamu Bun. Ayah bilang Bunda sudah tahu semuanya enggak ada yang ditutup-tutupin.”
“Itulah harusnya kita Yah. Semua diceritakan sejak awal sehingga tidak kejadian seperti adik angkatmu itu,” ucap Dinda. Dia tak mau menyebut nama Shalimah di depan anak-anak.
“Iya Ayah ngerti kok. Ayah sadar itu. Sudah yuk kita pulang,” kata Adit. Karena dia sudah melihat bungkusan makanan sudah penuh di mejanya tinggal dia bawa. Kalian pegang tangan kanan dan kiri Bunda ya, jangan lepas.”
“Iya Yah,” Kata Fari dan Iban.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.