
“Pak Adit ngomong apa Pi?” kata Santi. Dia sedang memberi ASI pada Biru.
“Dia mengundang anak-anak untuk masak makan siang bersama di green house. Jadi mereka menyiapkan makan siangnya sendiri. Kalau setuju dia akan beli bahan-bahannya,” jawab Ajat.
“Papi tanya saja ke anak-anak di kamar, mereka mau nggak?” balas Santi sambil mengusap lembut pipi Biru.
“Iya tadi Pak Adit juga bilang seperti itu. Jangan main bawa mereka saja. Kali saja mereka sudah punya planning sendiri. Papi ke kamar anak-anak dulu ya,” tanpa menunggu jawaban istrinya Ajat langsung keluar menuju kamar Mischa. Dari luar dia mendengar tawa ketiga gadis kecil itu.
Ajat mengetuk pintu kamar Mischa, dan membuka ketika mendapat jawaban dar putrinya.
“Kenapa Pi?” tanya Mischa.
“Ayah Adit nanya kalian mau ke green house untuk masak makan siang sendiri nggak. Karena TWINS mau masak untuk makan siang mereka di green house.
“Mau, mau, mau,” kata Tarida cepat. Dia langsung semangat karena dia suka kalau ada di green house. Sudah beberapa kali dia ke sana dan tak pernah bosan. Terlebih besok acaranya adalah akan masak makan siang sendiri tentu asyik.
“Oke kalau begitu Papi akan bilang kita akan ke sana sehabis sarapan. Jadi sebelum kalian masak, kalian masih bisa bermain,” ucap Ajat.
“Iya Pi, kami mau,” kata Icha. Mischa tak perlu ditanya lagi dia pasti mau.
“Kita akan masak makan siang apa Pi?” kata Mischa.
“Papi juga belum tahu apa yang hendak dimasak. Tapi katanya twins mau masak sendiri. Berarti kalian juga pasti bisa karena twins saja bisa.”
“Asyik, aku mau lah,” kata Mischa.
“Oke Papi akan langsung hubungi ayah Adit bahwa kalian menyetujuinya,” Ajat langsung menghubungi Adit di depan tiga dara itu.
“Pasukanku mau Bang. Mereka besok berangkat sehabis sarapan karena di sini mereka sarapan juga mau masak sendiri bersama Santi,” ucap Ajat sambil memberi kode jempol pada tiga gadis belia itu.
“Oke kalau begitu aku tunggu dan akan aku siapkan apron masak buat mereka,” balas Adit. Suara Adit tentu didengar, karena Ajat me-load speaker ponselnya.
“Yeaay asyik,” teriak Icha dan terdengar oleh Adit.
“Yah coba kasih tahu Bagas. Anaknya dia kan juga sudah besar. Kalau dia dengar kita ngundang anak yang sepantaran dengan Menur, tapi Menur nggak dikasih tahu nanti dia merasa disisihkan. Kali saja mereka mau datang juga. Kalau yang lain tak perlu diberitahu karena anaknya masih kecil-kecil ini kan mau program masak. Tapi biar nanti semua aku kabari di group emak-emak deh. Cuma karena tadi yang punya niat undang gadis-gadis Santi adalah Ayah. Maka yang undang gadisnya Bagas juga Ayah,” ucap Dinda.
Tanpa menjawab dan tanpa menunda Adit langsung menghubungi Bagas.
“Aku tanya dulu sama anak-anak. Mereka mau apa enggak, terutama Menur,” jawab Bagas.
“Iya. Kalau pun dia tidak mau, jangan dipaksa.” kata Adit.
“Yang penting dia tahu kita tidak melupakan dia. Semua diberitahu yang sudah bisa masak. Kalau anaknya Wika sama anak Puspa kan nggak perlu mereka masih terlalu kecil untuk program masak makan siang.”
Dinda langsung memberi pengumuman di grup emak rempong bahwa besok ada program masak makan siang untuk yang anaknya sudah di atas 8 tahun.
Tapi untuk yang anaknya di bawah 8 tahun boleh tetap datang dan akan ngerumpi di rumah atau di kebun.
“Tak ada yang tak mau datang semua pasti ingin datang. Tapi besok giliran Wika pagi ke rumah sakit. Tentu dia tidak mungkin bawa bayinya untuk masuk ke rumah sakit sehingga dia besok tidak ikut acara ngerumpi di rumah Dinda.
Begitu pun Ajeng, Ajeng anaknya masih kecil-kecil dan besok jadwal dia ke rumah sakit sore sehingga dia hanya akan bisa sebentar saja di rumah Dinda untuk itu dia memutuskan tidak datang ke rumah Dinda acara ngerumpi.
Menur tentu antusias untuk ikut program masak makan siang di green house. Sondang melihat di grup bagaimana Dinda dan Santi berupaya menghibur putri-putrinya. Dia merasa bersyukur Gultom pernah kerja di Alkavta sehingga dia ikut terseret dalam lingkaran keluarga besar Alkavta ini.