GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MEMBUNTUTI



Gultom duduk di penjual es depan sekolah dia benar-benar sangat lemas. Putri kecilnya sudah bisa bicara seperti itu dan dia tahu dari inang semua itu mereka pikirkan sendiri. Kedua putrinya malah bicara di depan inang saat Sondang bertanya. Jadi bukan diajari oleh Sondang. Gultom juga tahu Sondang tak pernah mengajari hal-hal tersebut. Dari inang juga Gultom tahu Sondang selalu mengajari kedua putrinya sopan dan ramah pada dirinya sebagai ayah mereka.


Gultom yakin Cilla dan Niken tak akan seperti itu mereka pasti tak akan mengajari anak-anaknya hormat pada dirinya sama seperti yang Sondang ajarkan pada kedua putrinya.


Gultom menjalankan mobilnya pelan kembali menuju kantornya. Pagi tadi memang dia dari proyek. Tadinya mau balik ke balik ke proyek tapi dia sudah tak bisa konsentrasi. Nanti malah di proyek dia akan memaki-maki para pekerja di sana yang tidak salah. Jadi lebih baik dia kembali ke kantor saja.


“Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kedua putriku memaafkanku? Aku tahu aku sangat salah. Lebih-lebih mengatakan hanya mencintai mereka tapi mempunyai istri lain. Pasti anak-anak berpikiran aku bukan lelaki yang bisa dipercaya. Bahkan keduanya sekarang di bawa ke psikiater karena kebohonganku ini.”


Lama Gultom merenung, mobil dia jalankan pelan. “Apa aku temui psikiater mereka ya? Di mana mereka dibawa konsultasi oleh Sondang. Aku harus tanya inang agar psikiaternya bisa mengerti bahwa aku benar-benar sangat menyesal dan ingin minta maaf pada kedua anakku,” kata Gultom.


“Aku nggak tahu lah ke mana Sondang bawa anak-anakmu, karena mereka biasa pergi sendiri,” jawab inang ketika Gultom tanya alamat tempat Sondang membawa kedua putrinya konsultasi.


“Hari konsultasi mereka juga beda. Jadi aku nggak tahu juga mereka dibawa ke mana.”


“Mereka sudah terluka. Terlambat untuk kamu bilang tak ingin anak-anak terluka,” kata inang. Lalu dia pun memberikan jadwal Tarida dan Theresia berkonsultasi dengan psikiater. Karena memang hari mereka berbeda. Tak dijadikan satu oleh psikiaternya.


Di hari yang diberitahu inang, dari jauh Gultom memperhatikan mobil milik mantan istrinya pembawa Theresia, hari ini jadwalnya Theresia lebih dulu.


Dia mengikuti menuju rumah sakit tempat Sondang membawa putrinya. Lalu dia juga mengikuti masuk ke poli. Gultom juga mengikuti dokter mana yang dimasuki oleh Sondang karena tentu saja di rumah sakit itu bukan hanya satu dokter jiwa. Di sana ada banyak dan ternyata Sondang membawa putri mereka ke psikiater khusus anak.


Gultom berjanji akan datang di luar jam konsultasi Theresia. Dia akan meminta pertolongan psikiater, bagaimana mendapatkan pernyataan maaf dari Theresia maupun dari Tarida. Gultom benar-benar ingin meminta maaf pada keduanya dan dia juga berjanji untuk tobat takkan lagi main perempuan dan berupaya rujuk walau itu tak mungkin. Tapi setidaknya dia tidak akan menikah lagi kecuali dengan Sondang itu sudah tekad dalam hatinya.


Itulah kebiasaan manusia. saat ada di sebelahnya sengaja disakiti dengan mencari perempuan lain. Begitu hilang, begitu diceraikan baru dia merasakan betapa besar peran istri dan anaknya dalam kehidupannya. Begitu mereka tiada, terpisah jauh dengan jarak, dia baru merasa kehilangan. Yang aneh dia sama sekali tak pernah merasa kehilangan Cilla, Marry dan Niken sama sekali. Tak pernah karena memang dia juga tidak pernah menginap di rumah kedua istrinya itu. Mereka selalu bersama saat jam kerja.