GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TERUNGKAP AWAL PENDERITAAN FAROUQ



Kisah rekaman video yang sedang Ajat dan Santi lihat berawal tadi siang Adit mendapat telepon dari seorang detektifnya. Tentu saja Adit sudah izin pada Dinda. Dia segera menjemput Eddy di rumah. Adit dan Eddy segera ke kantor polisi.


Kita langsung bawa ke kantor polisi aja biar mereka yang nanganin. Yang penting nanti pertanyaan di sana polisi yang bertanya karena itu sudah wewenang mereka.” begitu yang Adit katakan pada detektif.


“Baik Pak ini kami bawa ke sana agar pengakuannya direkam dengan benar oleh polisi. Kalau hanya kami yang merekam nanti dikiranya itu manipulasi kata,” jawab detektif itu.


“Kalian sadar kan apa yang kalian katakan itu nanti akan berimbas pada semuanya?” kata polisi ketika detektif, Eddy dan Adit mengantarkan dua orang suami istri ke kantor polisi.


“Kami mengerti, sangat mengerti. Tapi kami terpanggil untuk bicara jujur. Kami tidak tenang selama ini. Lebih baik kami di penjara tapi kami jujur daripada kami harus berbohong dan tak sanggup menatap dunia,” kata si perempuan.


“Ayo, sebutkan jati diri kalian.” pinta polisi yang bertugas mengintrogasi.


Kedua suami istri itu menyebutkan nama mereka juga memberikan KTP mereka serta kartu keluarga karena memang detektif sudah minta identitas itu mereka bawa.


Apa yang ingin kalian katakan?” kata polisi itu. Semua sudah direkam sejak tadi oleh polisi. Detektif pun tetap ikut merekam tapi tentu beda hasilnya dengan kamera polisi.


Saya bekerja 2 tahun ini di rumah Bu Wiwik,” kata pembantu rumah tangga perempuan.


“Kalau di lingkungan dia dipanggil Bu Santi karena namanya kan Pratiwi Susanti. Bu Santi jarang pulang,” kata pembantu tersebut.


“Yang ada di rumah tiap hari hanya kedua orang tuanya dan adiknya Bu Santi yang lelaki tapi tak bekerja.”


“Sejak itulah Bu Santi sama sekali tidak keluar rumah. Kadang keluar juga beberapa kali tapi tidak pernah pergi lama atau menginap.”


“Jadi dia memang sudah tinggal di rumah itu menetap kembali sejak enam bulan lalu ya?” tanya polisi.


“Betul Pak. Sejak enam bulan lalu.”


“Dua minggu lalu Bu Santi pulang bawa seorang anak yang tidur di mobil.  Yang angkat dari mobil adalah adiknya yang lelaki. Mereka menyewa mobil karena Bu Santi sudah tak punya mobil sama sekali.”


“Saat anak tersebut bangun dia menangis menjerit-jerit. Dia memanggil-manggil mami, mami dan mami. Anak itu tak henti menangis, akhirnya mulutnya ditutup dengan lakban oleh adik laki-lakinya Bu Santi.”


“Anak itu juga terus berontak. Malamnya dia lemas karena mungkin dari sekolah memang dia tidak makan. Saya dan suami yang disuruh kasih makan tapi dia tetap nggak mau. Dipaksa oleh bu Santi juga nggak mau. Besoknya anak itu tetap nggak mau makan dan dia lemas.”


“Oleh adiknya Bu Santi anak itu kepalanya dibenamkan di air sabun supaya segar katanya.” Adit sampai meneteskan air mata mendengar ada anak kecil direndam di air sabun


“Kepalanya dibenamkan berkali-kali sampai dia meminum cairan tersebut. Cairan yang digunakan itu air sabun bekas cucian saya yang ada di ember. Tentu saja sudah kotor dan bercampur dengan bay-clin cairan pemutih baju karena waktu itu saya habis mencuci handuk putih. Jadi saya pakaikan bay-clin dalam jumlah banyak.”


Sampai sini perempuan itu menarik napas, dia tak tega ingat bagaimana Farouq direndam sampai minum cairan sabun bercampur bay-clin hingga kembung.