GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
LAPOR POLISI



“Bisa minta nomor polisi mobil yang membawa anak saya?” tanya Ajat. Dia sudah sangat geram.


“Dan saya juga minta copy CCTV ini Bu. Untuk laporan polisi,” kata Santi.


“Kami tahu kalau anak atau orang hilang bila belum 24 jam itu belum boleh lapor polisi. Tapi karena kondisinya sudah seperti ini jelas ini penculikan. Maka kami wajib lapor polisi,” kata Santi.


“Nanti saya juga minta Ibu dan Bapak di sini untuk menguatkan bila diperlukan menjadi saksi terutama guru kelas Farouq,” pinta Ajat karena biasanya guru kelas mengamati anak-anak di luar sampai siswanya pulang.


“Baik Bu Sudrajat, saya akan memberikan kopi rekaman ini ke ponsel Ibu yang tadi Ibu gunakan untuk menghubungi kami,” kata ibu ketua yayasan tersebut.


“Wah maaf Pak, nomor mobilnya tidak terlihat dari CCTV kami yang mana pun. Ini sudah saya lihat dari CCTV luar tidak ada terlihat nomor polisi mobil tersebut. Hanya jenis mobil dan warna mobilnya saja. Mungkin Bapak bisa lapor ke polisi dengan video ini,” kata ibu ketua yayasan menjawab permintaan Yayan.


“Baik terima kasih. Kami akan langsung lapor polisi terdekat dari sini,” jawab Ajat.


“Mami tenang ya Mi. Mami tenang nggak boleh kebawa perasaan,” hibur Ajat saat keluar dari sekolah tersebut.


Santi langsung minum air di mobil Ajat yang biasa memang selalu dia siapkan untuk suaminya.


“Farouq diculik Bu. Ini aku sama papinya sedang menuju kantor polisi. Kami sudah punya rekaman saat dia terkulai lemas dibawa ke mobil penculik tersebut,” ibunya Santi tentu saja kaget dan sangat marah. Bukan hanya marah karena cucunya diculik, tapi juga karena mengingat kondisi Santi yang sedang hamil. Tentu sangat bahaya buat kehamilannya bila anaknya tersebut terganggu keseimbangan emosinya.


“Kamu harus kuat. Kamu nggak boleh terbawa emosi. Coba kamu telepon dokter kandunganmu untuk minta vitamin atau suplemen yang buat menguatkan kandungan dan menenangkan pikiranmu,” nasihat ibunya Santi.


“Kamu nggak usah telepon ayah. Biar Ibu yang kasih tahu ayah kamu. Hubungi aja  mertuamu.”


“Iya, habis ini aku memang mau telepon mama dan papa suruh mereka ke rumah untuk menemani Mischa. Tentu Mischa juga sekarang sedang kalang kabut karena dia tahu adiknya sudah hilang dari sekolah tadi. Ya sudah ya Bu. Aku mau telepon ke mama. Kami sedang mau menuju kantor polisi dengan bawa rekaman penculikan tadi.”


Orang tua Ajat juga langsung kaget dan syok mendengar penculikan Farouq. Mereka sudah menduga siapa pelakunya tapi tak bisa menuduh sembarangan. Orang tua Ajat terutama mamanya langsung bersiap untuk berangkat ke rumah Ajat. Biar bagaimana pun Mischa juga perlu support mereka. Anak kecil itu pasti juga takut dan sedih mengingat adiknya hilang.


Seperti dugaan Santi. Awalnya polisi tidak menerima laporan anak hilang tapi begitu bilang laporan penculikan mereka baru menanggapinya dengan lebih saksama. Mereka melihat bukti rekaman yang Santi sudah forward ke laptop mereka. Juga ciri-ciri orangnya serta ciri-ciri mobilnya. Ajat juga memberitahu bahwa perempuan yang ada di video tersebut adalah mantan ibu mertuanya. Santi baru tahu saat itu ternyata yang menculik adalah orang tua dari Wiwik mantan istri Ajat.


Entah Wiwik terlibat atau tidak terhadap rencana jahat ini. Ajat mau pun Santi tak peduli. Yang mereka inginkan Farouq selamat dan tetap sehat. Mereka terutama Santi Farouq tak makan seharian. Dia hafal kebiasaan Farouq yang tak mau makan bila lauknya tak selera atau dia tak diperlakukan lembut.