
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Din, Papa mau bicara,” kata Eddy setelah mereka selesai makan bertiga.
“Kenapa Pa?” tanya Dinda
“Tadi sebelum kamu datang, Papa habis putuskan kerjasama dengan pengelola kantin,” sahut Eddy. Dia yakin Dinda pasti tahu alasannya.
“Loh kenapa Pa?” tanya Dinda.
“Masalahnya itu sangsi yang sangat berat buat ibu kantin kan?”
“Papa enggak mau lagi rumah tangga anak Papa rusak. Cukup Din, Papa sudah enggak kuat lagi kalau harus melihat rumah tangga kalian rusak lagi dan lagi. Papa yang tidak kuat,” kata Eddy.
“Dia dulu hanya office girl, diangkat oleh mama buat punya warung kecil. Lalu dibuatkan kantin permanen yang besar dan lengkap. Saat anaknya ingin merusak rumah tangga anak papa dia hanya melarang dengan kata-kata tidak dengan perbuatan, itu yang membuat Papa sangat marah.”
“Dia kok seenaknya aja membiarkan putrinya mau ngerusak anak Papa? Dia enggak mikir anak-anaknya, mohon maaf, kuliah dari mana? Makan dari mana? Kalau hanya office girl apa bisa menguliahkan anaknya sampai selesai di kampus swasta?”
“Sedang untuk sampai SMA aja pasti akan sulit dengan dua anak dan kamu tahu kebutuhan anak-anak sekarang pasti tuntutannya banyak. Dari kata-kata dia membiarkan anaknya itu sudah sangat kelewatan.” kata Eddy.
“*Aku sudah peringatkan, dia tak punya harta lalu kamu memujanya kamu mencintainya tapi dia tidak mencintaimu. Kalaupun kamu akan bisa menariknya melalui ilmu hitam, kamu hanya punya tubuhnya karena hatinya tak akan pernah kamu miliki. Walau mungkin di depanmu dia seperti terlihat menjawab cintamu karena pengaruh peletnya. Tapi tidak hatinya. Hatinya hanya milik istri dan anak-anaknya*.”
Eddy mengingat dengan jelas dalam video yang Dinda tunjukan semalam, pengelola kantin hanya bilang kamu sudah saya ingatkan lho! Tak ada kata larangan. Dan si ibu juga tahu kalau anaknya menggunakan ilmu pelet.
“Tadi Papa sudah minta bantuan Bu Untari untuk menghandle semuanya.”
“Kok pakai Bu Untari Pa?” Dinda benar terkejut mendengar penjelasan Eddy ini.
“Sampai segitunya Pa?” Dinda tak percaya tindakan mertuanya.
“Ya sampai segitunya kalau pinjam istilahmu. Karena Papa sudah sangat terluka melihat kalian kembali terjatuh dan terjatuh lagi.”
“Sekarang bukan hanya kalian yang Papa pikir, tapi bagaimana anak-anak bila kalian berpisah?”
“Bagaimana anak-anak kalau ayahnya dibuat tidak ingat pada anak-anak dan istrinya karena ilmu seperti itu kan bisa bikin Adit melupakan anak-anak. Itu tak bisa Papa bayangkan Din. Papa sangat takut.”
“Kalau hanya kamu yang dilupakan oleh Adit, seperti kamu bilang Papa enggak problem. Kamu bisa cari lelaki lain dan Papa akan buang Adit. Tapi kalau anak-anak sampai dilupakan Adit, itu Papa enggak terima,” kata Eddy.
“Itu yang aku pikir kalau sampai anak-anak dibuat tak dianggap oleh Mas Adit Pa. Secara logika itu enggak akan mungkin terjadi, karena aku tahu bagaimana cintanya Mas Adit pada anak-anak. Bahkan aku sering jadi nomor 2 buat Mas Adit setelah anak-anak. Aku rasakan hal itu Pa. Jadi aku tahu besarnya cinta Mas Adit.”
“Itu pula yang membuat aku tak mau cari penggantinya karena tak ada yang bisa menggantikan cinta Mas Adit pada anak-anak,” kata Dinda.
“Tapi kalau dengan ilmu klenik rasa cinta itu bisa saja ditutup, itu yang aku bilang aku enggak sanggup melawannya.” jelas Dinda. Kalau masih menghadapi seribu perempuan mungkin Dinda akan fight. Tapi kalau pakai ilmu tak kasat mata, dia bisa apa?
“Benar Din, dan besok lusa ada Pak Kyai yang akan memagari kalian sehingga tidak ada ilmu-ilmu sesat seperti itu yang bisa merusak kalian. Karena Papa takut dia masih bisa ngirim walaupun di penjara. Bisa aja dia menghubungi seseorang untuk bisa mengirimkan serangan pada Adit agar menarik tuntutannya karena tadi yang membuat laporan adalah Adit sebagai korban yang tanda tangan di surat laporan itu Adit.”
“Jadi Papa tadi bukan ke bank, tapi urus masalah itu?” tanya Dinda, dia ingat karena Adit pamitnya ke bank.
“Benar Yank, tadi kami ke kantor Bu Untari setelah semalam diskusi lama dengan beliau. Mohon maaf untuk kebohongan ini, tapi kami berdua tak mau lagi kamu terluka. Terlebih kamu sedang hamil,” Adit tak mau istrinya sedih memikirkan dia akan berpaling. Tentu saja Dinda mengerti dan sangat beruntung punya Papa sebaiknya Eddy.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.