GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TIBA DI RUMAH



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Alhamdulillah,” ucap Dinda dan Adit. Mereka telah tiba di kamar mereka di Jakarta. Liburan telah usai membawa keberkahan yang tak terhingga bagi pasangan orang tua yang sudah dua kali bercerai ini.



Sekarang sudah jam 09.00 malam mereka langsung menidurkan anak-anak di kamar mereka. Kamar khusus anak-anak yang selama ini di tiduri Adit saat mereka belum rujuk.



Kamar ini sudah dibuat oleh Eddy sejak Dinda koma di rumah sakit saat sedang hamil.



Ada dua ranjang berbentuk mobil dengan beda warna. Satu biru tua satu biru sedikit terang.



Adit dan Dinda membaringkan masing-masing anak di ranjang itu.



“Mas Adit itu koper mau ditaruh di mana?” tanya Mbok Marni dan Mbok Asih.



“Di luar kamar atau di bawah dulu juga enggak apa-apa mbok. Enggak usah dimasukin ke kamar, paling nanti isinya pindah ke mesin cuci,” kata Adit.



“Yank, lihat barang-barang yang kita bawa deh,” kata Adit.



“Padahal barang dagangan enggak kita bawa ke sini ya Yank,” kata Adit.



“Iya barang dagangan kita, langsung kirim ke Bekasi,” jawab Dinda. Berangkatnya Dinda hanya bawa 2 koper besar untuk dia dan si kembar. Adit dan Eddy masing-masing 1 koper kecil. Rupanya di Australia kopernya langsung berkembang biak. Berangkat 2 koper besar dan 2 koper kecil. Pulangnya jadi 5 koper besar dan 3 koper kecil.



“Kamu sudah kasih tahu para pegawai di Bekasi kalau barang datang terima aja, lalu nanti biar kamu yang unboxing?” tanya Adit.



“Sudah Mas, aku sudah bilang biar aku yang Unboxing karena kan kita harus laporan bikin videonya.”



“Baguslah, soalnya itu kan awalnya perjalanan kepercayaan kita,” kata Adit.



“Kemarin kamu belanja di berapa toko?” tanya Adit.



“Banyaklah, yang di Sydney eye centre aja kita belanja di 6 toko. Terus yang di lokasi lain ada beberapa toko yang kita ambil dalam jumlah banyak, tapi ada juga yang dari toko kecil aku beli beberapa barang pelengkap aja,” Jawab Dinda.



Kemarin saat belanja Dinda sama sekali tak mau menggunakan uang Adit. Dinda bilang uang usaha itu jangan diganggu gugat dengan uang Adit.



Dinda masih ingin usaha itu murni punya dirinya sendiri tidak ada campur tangan Adit sama sekali.



“Nanti kalau Mas mau bikin usaha bikin aja pakai uang Mas sendiri. Aku bantu ngejalaninnya deh,” begitu janji Dinda di sebuah toko di Sydney saat Adit ingin membayar semua belanjaannya.



“Mas enggak akan buka usaha lain. Mas mau urus perusahaannya anak-anak aja dengan baik karena itu punya mereka. Mas nggak mau konsentrasi Mas pecah karena Mas nggak sepintar kamu. Biar Mas mengabdi aja buat anak-anak,” itu jawaban Adit pada Dinda ketika mereka belanja di Sydney.



“Ya sudahlah, ini juga sebenarnya usaha punya anak-anak kok,” kata Dinda.



“Kalau punya anak-anak harusnya boleh dong ayahnya kasih tambahan uang.”



“Enggak usah lah, ayahnya nanti bikin deposito berjangka buat pendidikan aja gimana?” usul Dinda.



“Wah setuju banget,” balas Adit. Itu yang mereka putuskan ketika di Sydney. Mereka memang sekarang sudah mulai membicarakan masa depan anak-anak terus.



“Anak-anak sekolah kapan Yank?” kata Adit malam ini setiba di rumah.



“Besok tanggung kan Yah? Hari Jumat, biarin aja hari Jumat mereka di rumah sama ayah dan kakeknya, mereka biar ikut juga ke masjid masing-masing dipakein CSW ( child safety walking ). Kakek pakai satu,  Ayah pakai satu. Soalnya kalau kita salat takutnya mereka juga tetap kabur namanya anak-anak. Biarin mereka juga tahu tentang salat berjamaah di Masjid,” kata Dinda.



Dinda memang merasa itu kekurangannya menjadi orang tua tunggal dengan anak lelaki, yaitu tidak bisa berjamaah dengan anak-anak di masjid saat salat Jumat.



Sekarang biar ayah dan kakeknya aja yang menemani mereka untuk mulai belajar secara real langsung on the spot.



“Ya sudah yuk tidur,” ajak Adit.



“Wong tadi juga di pesawat tidur mulu ngapain juga tidur lagi,” jawab Dinda lagi. Dia masih mengutak-atik media sosialnya. Dinda banyak update foto tentang mereka berdua maupun dengan anak-anak saat liburan kemarin.




“Enggak tahu lah, ngapain juga Ayah cari info tentang dia,” kata Adit. Sambil mengelus rambut Dinda. Mereka masih sofa kamar anak-anak. Dinda berbaring berbantal paha Adit.



“Bunda pikir mungkin Ayah dapat info dari teman-teman sekolah.”



“Yang teman-teman sekolah tahu paling tentang yayasannya sudah tutup. Selanjutnya enggak tahu lagi,” jawab Adit.



“Kemarin sama Angelica Ayah enggak dapat info?”



“Ayah enggak bicara apa pun sama Angelica. Dan dia enggak satu link sama Meliana saat di SMA, jadi enggak kenal anak kuper seperti Meliana.”



“Lalu kalian makan malam bareng ngobrolin apa aja?” tanya Dinda penasaran.



“Kalau ditanya, Ayah jawab. Tapi kalau enggak mereka ngobrol berdua aja. Saat itu duduk bersama cuma karena tempat penuh aja pas jam makan malam.”



“Di luar itu sebenarnya enggak ada hubungan apa pun, kami enggak ngobrol juga enggak tukeran nomor ponsel. Ayah juga saat itu enggak pegang ponsel sama sekali.



“Eh kita belum selidiki siapa yang bikin foto itu dan kirim ke aku juga ke Papa ya Yah?”



“Mau ngapain kamu selidikin?” tanya Adit.



“Kemarin sih Mas sudah tanya sama orang tapi belum ketahuan siapa pengirimnya.”



“Aku yakin orang itu pengen ngacak-ngacak hidup rumah tangga kita kalau enggak enggak mungkin dia kirim ke aku,” Dinda melempar dugaannya.



“Tapi dia juga pengen ngacak-ngacak hubungan kamu sama papa untuk itu dia kirim ke papa.”



“Wah siapa ya?” kata Adit.



“Itu sebabnya kita harus cari tahu siapa oknumnya,” tekan Dinda.



“Mas udah tanya, tapi orangnya enggak dapat info.”



“Aku pasti bisa langsung tahu, nanti deh kalau aku sudah sempat aku cari siapa yang pengen ngacak acak rumah tanggaku.”



“Apa jangan-jangan itu yang bikin foto temennya si Angelica siapa namanya Yah?”



“Dewi?”



“Ya kan dia waktu itu enggak ada katanya ke WC. Mungkin aja dia yang bikin foto. Jadi sebenarnya kamu mau di jebak sama Angelica.”



“Belum tahu juga, tapi ayah sudah enggak pernah peduli sama dia. Sejak belum lulus SMA aja ayah sudah enggak pernah berhubungan sama Angelica.”



“Memang enggak ada urusan gitu loh, seperti yang kamu bilang dia kan WC umum. Ya sudah ngapain mengingat ingat WC umum. Kalau piala bergilir kan masih mending, masih dikenang. Kalau WC umum kan enggak perlu dikenang. Namanya cuma tempat buang hajat,” jawab Adit.



“Ih Ayah mah ngikut-ngikutin aku pakai istilah WC umum,” protes Dinda.



“Tapi emang bener sih. Bodoh aja orang-orang yang bilang perempuan yang pindah sana sini kayak piala bergilir. Kalau bergilir kan bagus dan enak dikenang, kalau perempuan busuk seperti itu memang benar WC umum. Aku lebih setuju sama kamu,” kata Adit.



“Bagus ya Yah,” kata Adinda sambil memperlihatkan foto yang dia maksudkan.



“Iya keren banget,” Dinda memperlihatkan foto saat mereka di kebun binatang foto berlima, saat itu mereka minta kepada seorang pengunjung juga untuk membuat foto mereka berlima.



“Mas sih waktu itu enggak beliin tripod sekalian, jadi bisa foto berlima sesering mungkin tanpa perlu dipegangin atau minta tolong orang,” sekarang Dinda yang protes karena foto mereka ber 5 memang jarang.



“Enggak kepikiran Yank, lagian percuma juga ngatur kayak gitu. Anak-anak kayak bisa kita atur aja. Mereka sudah kabur-kaburan saat kita atur posisi.”


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.