
“Fix ya sudah semuanya,” kata Ajeng.
“Iya istriku bilang seperti itu dan kata Ilham kan Bu Velove bawaannya juga sudah tertulis,” balas Fahrul.
“Oke sip. Jadi kita semuanya sudah sepakat bawaannya apa saja. Sampai ketemu lusa,” ucap Ajeng menyudahi telepon dari Fahrul di nomor kantor.
Akhirnya Dinda dan Adit bersama Ghibran dapat marmut yang mereka inginkan. Mereka pergi hanya bertiga karena saat itu kebetulan Adit menjemput Ghibran yang sedang latihan karate.
Jadwal latihan karate mereka memang tidak sama selain Gathbiyya, dan kedua adik kembarnya Ghazanfar dan Ghaylan yang satu dojo. Ketiga kakak Gathbiyya tak mau satu dojo dengan adik perempuan mereka yang levelnya jauh sekali di atas mereka. Dulu Adit dan Dinda memang memasukkan Biyya lebih dulu agar gadis kecil mereka tak cengeng karena punya lima saudara yang akan melindunginya.
Burung ocehan liar pun sengaja dibuat tambah banyak biar berisik. Burung-burung itu pagi dan sore pasti ribut. Adit belum dapat burung kakak tua yang diinginkannya sedang Dinda sering membawa burung hantunya bila dia masuk ke green house. Burung hantu itu belum Mischa terbang sehingga Dinda tidak takut burung-burung tersebut memangsa hewan yang sudah ada di sana. Nanti bila sudah Mischa terbang tentu tak akan dibawa masuk walau kenyang sekalipun. Tetap saja burung hantu itu secara insting ingin memburu hewan yang dia lihat.
“Wah ternyata tempatnya di sini,” kata Sondang yang datang bersama inang Gultom dan Tarida serta Theresia.
“Ya kami bikin acara di sini, jangan aneh ya kalau kalian nanti akan duduknya di tikar plastik. Kami bawa tikar plastik dan karpet plastik agar tak basah karena di gelar di tanah atau rumput,” jawab Dinda. Sondang tamu pertama dari undangan Adit dan Dinda. Tapi tamu keempat karena undangan Eddy sudah tiga pasangan yang datang.
Sondang membiarkan Tarida dan Theresia langsung bergabung dan bermain dengan putra-putrinya Dinda. Mereka sudah lama berkenalan di acara family gathering.
Tak lama datang juga Mischa tentu bersama kedua orang tuanya.
“Wah saya nggak tahu loh kalau Bu Santi bawa sesuatu. Saya nggak bawa apa-apa,” bisik Sondang rendah diri.
"Ya nanti saya akan minta nomornya Bu Ajeng deh. Saya juga nggak tahu nomornya Bu Santi sama Bu Wika,” ucap Sondang.
“Pokoknya kalau di keluarga ALKAVTA itu semua saudara Bu. Jadi nggak usah ragu terlebih seperti Bu Sondang dan Bu Puspa yang sebelum menikah dengan pak Ilham juga dia adalah orang yang diperhatikan dan dibantu oleh bu Dinda langsung. Itu pasti sangat diperhatikan. Jadi nggak perlu kita merasa si itu lebih kuat, si ini lebih cantik atau apa. Semua di ALKAVTA itu bersaudara. Saya kalau nggak dibantu Bu Dinda kemarin penculiknya almarhum Farouq juga nggak ketahuan. Semua berkat bu Dinda.”
“Kita cuma bisa berdoa ya, semoga bu Dinda selalu sehat dan bahagia,” kata Sondang.
“Benar apa pun agama kita, kita saling mendoakan itu lebih baik,” kata Santi.
“Ayo ah aku sudah nggak kuat berdiri,” ajak Santi masuk. Dia pun langsung duduk di kursi kayu. Suaminya tentu sibuk dengan Adit.
“Senang banget ya punya lahan seperti ini,” kata Sondang.
“Iya dan anak-anak bebas bereksplorasi. Kemarin sudah diberitahukan soal bawa baju ganti anak-anak?” kata Santi.
“Sudah, tadi malam bu Dinda baru kasih tahu. Dia bilang takut anak-anak bajunya kotor dan basah karena kita kumpul di kebun,” balas Sondang sambil menuangkan lemon tea ice ke dalam gelas kecil-kecil karena Dinda hanya memberikan tempat minum dan tumpukan gelas saja, tamu dipersilakan menuang sendiri.
“Iya di grup juga baru diumumkan Ajeng tadi malam pesan dari Bu Dinda ini. Takutnya anak-anak main air. Ternyata ada kolam ikan dan saluran air berkeliling seperti ini. Pantas saja dibilang suruh bawa baju ganti.”