
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mbok masak apa?” tanya Dinda pada Asih
“Kemarin Bu Marni bilang suruh masak opor nanti jodohnya lontong sudah dibuat oleh Bu Marni karena anak-anak suka kalau makan lontong opor,” kata Bu Asih. Dinda sudah selesai sarapan.
“Kayaknya tambah sambel goreng krecek enak juga ya Mbok.” Dinda malah pengen masakan lain yang pedas karena opor kan tidak pedas.
“Wah kayanya kreceknya enggak ada, kalau bahan lainnya masih ada. Daging sapi atau mau pakai ayam juga bisa.”
“Krupuk kulit sama apa yang enggak ada?”
“Sambal goreng kreceknya pakai daging giling yang dibuat bulat-bulat sama krecek dan telur puyuh ya Mbok. Dagingnya cukup enggak?” tanya Dinda.
\*‘Kok tumben ya Non Dinda enggak ngecek sendiri. Biasanya dia sat set ngecek sendiri,’ \*pikir Asih
“Sebentar Mbak saya lihat,” kata Bu Asih.
“Kayaknya kalau daging cincang cukup, santan ada, bumbu lengkap yang enggak ada cuma kerupuk kulit dan telur puyuh aja sih Mbak,” bu Asih mengeluarkan daging cincang dari freezer.
“Ya wis sebentar, Aku minta Pak Pujo buat beli aja,” kata Dinda. Dia segera ke kamar untuk mengambil uang.
“Enak enggak ya ditambahin kacang tolo?” tanya Dinda.
“Boleh kalau mau,” jawab mbok Asih.
Dinda pun menyuruh pak Pujo untuk beli kerupuk kulit yang sudah digoreng yaitu bahan krecek juga kacang tolo dan telur puyuh.
“Cepat ya Pak. Jangan sampai enggak dapat,” tegas Dinda.
“Iya Mbak Dinda,” jawab pak Pujo.
“Mbok Asih ini bikin yang super pedas ya, terus tambahin cabe rawit gelundungan ( utuh ) kan ini memang buat aku dan Mas Adit aja, papa dan anak-anak enggak makan,” pinta Dinda. Dia menyerahkan semua bahan yang dibeli pak Pujo tadi.
“Iya Mbak Dinda saya bikinkan.”
‘*Biasanya kalau kepengen sesuatu dia masak sendiri. Atau kalau buat anak-anak dan buat pak Eddy dia juga langsung turun tangan sendiri. Ini koq tumben hanya nyuruh ya*?’
“Sudah enakan?” tanya Adit sambil mencium istri tercintanya.
Adit menyuruh para mbok langsung membawa anak-anak ke kamar mereka untuk ganti pakaian dulu sebelum bertemu Dinda. Karena istrinya pasti akan langsung ngurus anak-anak walau sedang tidak sehat.
“Jangan dipaksain bangun kalau memang kepalanya pusing,” saran Adit.
“Enggak ini kok rasanya pusingnya tuh beda, makanya aku paksain bangkit bukan pusing yang seperti biasa. Apa ya namanya, lebih tepat malas bangun Mas. Pengennya tiduran doang. Bukan sakit kepala,” Dinda bingung mendeskripsikan apa yang dia rasa.
“Ya sudah hari ini enggak usah ke kantor ya, nanti kita sore ke rumah sakit,” Adit takut istrinya sakit parah mengingat hampir 5tahun lalu pernah koma. Mungkin efeknya baru timbul sekarang.
“Iya,” kata Dinda lemah.
“Tapi sekarang Mas makan dulu. Tadi pagi kenapa enggak sarapan?”
“Entah, sebenarnya sudah 3 hari ini Mas enggak minat sarapan. Tadi pagi itu rasanya enggak enak aja perut kayak senep apa ya namanya? Dibilang kembung enggak tepat. Pokoknya gitulah perutnya enggak enak,” sekarang Adit yang bingung mnegungkap apa yang dia rasa.
“Mual Mas?”
“Enggak mual Yank, tapi gimana ya. Aku bingung ngejelasinnya.”
“Ya wis sekarang makan dulu ya. Mas kerja enggak?” Dinda bangkit untuk menemani Adit ke ruang makan.
“Kayanya kalau kerja tanggung ya. Sore kan mau ajak kamu ke dokter.”
“Hari ini enggak ada janji atau briefing dengan anak-anak marketing?”
“Enggak sih enggak ada janji,” kata Adit. Dia tadi sudah mengabarkan sekretarisnya membatalkan semua janji karena ingin menemani Dinda.
“Ya sudah bilang papa aja, enggak enak kan kalau papa enggak dikasih tahu. Biar makan siang papa diantar sama Pak Pujo,” Dinda pun segera menyiapkan makan siang untuk dikirim ke kantor. Lontong dan opor juga kerupuk buat Eddy.
“Bilang papa ya kami enggak ke kantor,” kata Adit saat menyerahkan makan siang untuk diantar. Dinda sudah sibuk dengan anak-anak di ruang bermain ditengah rumah. Dia sibuk mendengarkan cerita anak-anaknya sambil berbaring. Ghaidan masih kenyang karena tadi habis minum ASIP ( Air Su5u Ibu Perah ) dari botol ketika di mobil sehingga tak minta ASI.
“Iya Mas Adit akan saya bilang ke Bapak kalau Mas Adit enggak ke kantor,” jawab pak Pujo.
“Sore saya mau bawa Dinda ke dokter. Tadi pagi papa tahu kok Dinda enggak enak badan.”
“Ya Mas nanti saya langsung bilang ke bapak.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.